Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Kreatif” hanyalah sebuah kata pendek dan sederhana. Namun, berkat pemikiran kreatif, kesuksesan besar, semisal kemajuan teknologi, industri, dan bidang lain, terjadi. Tidak berlebihan bila dikatakan, berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan. Lalu, bagaimana cara untuk bisa berpikir kreatif? Berikut ini cara yang bisa dicoba: - Berpikir, semua bisa dilakukan Yakinlah, sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita selesaikan. Artinya, harus optimis. Buang ungkapan bernada pesimis. Misal, ”Saya mungkin bisa mengerjakan”. Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, ”Saya pasti bisa mengerjakannya”, ”Bagi saya tidak ada kata menyerah!”. Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu. - Hilangkan cara berpikir konservatif Pola berpikir konservatif ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami kerugian. Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir efektif. Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola berpikir konservatif. Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita mengolahnya menjadi “barang jadi” lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif. Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk ”memperkaya” diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ketiga, harus proaktif. Kita dituntut ”menjemput bola” dalam menghadapi sesuatu, dan bukan ”menunggu bola”. Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas berpikir.

Read more

Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut. Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir. Bermula dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya. Cara berpikir yang dilandasi cara pandang tadi akan menjadi penentu, tepat atau tidaknya keputusan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan. Kebijakan seorang pemimpin seringkali berpengaruh terhadap banyak orang dan ruang lingkup serta waktu yang lebih luas. Kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan dalam memilih sebuah kebijakan akan berujung pada kegagalan suatu program atau bahkan kehancuran sebuah negara dan bangsa. Bagaimana cara Muhammad saw berpikir? Sebagian besar dari kita pernah mendengar tentang kepemimpinan seorang Muhammad saw. Dalam masa 22 tahun beliau sanggup mengangkat derajat bangsa Arab dari bangsa jahiliah yang diliputi kebodohan dan keterbelakangan menjadi bangsa terkemuka dan berhasil memimpin banyak bangsa di dunia. Orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya merasakan kelembutan, kasih sayang dan penghormatan dari seorang pemimpin bernama Muhammad. Cara berpikir Muhammad saw yang lurus terlahir dari cara pandangnya yang juga lurus terhadap hidup dan kehidupan ini. Cara berpikir yang lurus tadi menghasilkan sebuah keputusan yang tepat sekaligus dapat diterima semua pihak. Inilah cara berpikir Muhammad saw tersebut : 1. Beliau menomorsatukan fungsi sebagai landasan dalam memilih orang atau sesuatu, bukan penampilan atau faktor-faktor luar lainnya Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Beliau, yakni Abu Bakar Assidiq, Umar ibnu Khattab, Ustman ibnu Affan dan Ali ibnu Abi Tholib adalah gambaran jelas kemampuan Muhammad saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinan Muhammad saw, yaitu : - Abu Bakar Assidiq yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad saw, adalah sahabat utama. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin. - Umar ibnu Khattab bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Ini bermakna kekuasaan akan efektif apabila ditunjang oleh semangat pembelaan terhadap kebenaran dengan penuh keberanian dan ditunjang kekuatan yang memadai. - Ustman ibnu Affan adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad saw. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah pendanaan. Sebuah kepemimpinan akan lebih lancar apabila ditunjang kondisi ekonomi yang baik dan keuangan yang lancar. Dan juga dibutuhkan pengorbanan yang tulus dari pemimpinnya demi kepentingan orang banyak. - Ali ibnu Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. Kepemimpinan akan menjadi semakin kuat karena ada regenerasi. Tidak ada pemimpin yang berkuasa selamanya, dia perlu menyiapkan penerus agar rencana-rencana yang belum terlaksana bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya. 2. Beliau mengutamakan segi kemanfaatan daripada kesia-siaan Tidak ada perkataan, perbuatan bahkan diamnya seorang Muhammad yang menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Pilihan terhadap kurma, madu, susu kambing dan air putih sebagai makanan yang bermanfaat untuk tubuh adalah salah satu contohnya. Bagaimana sukanya Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain adalah contoh yang lain. 3. Beliau mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat, maka beliau menyuruh untuk membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya. 4. Beliau lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah, Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semua kaum Muslimin Makkah berangkat terlebih dulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah. Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan : Bahwa barang siapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasulnya. Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau di mata kelompok-kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi. 5. Beliau memilih jalan yang tersukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya Apabila ada orang yang lebih memilih mempersulit diri sendiri dari pada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul. Begitu pun dengan Muhammad saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan shalat sampai bengkak kakinya. Ketika dia menyampaikan perintah Allah Swt kepada umat untuk mengeluarkan zakat hartanya hanya sebesar 2,5 bagian saja dari harta mereka, dia bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan dan tidak menyisakan untuknya dan keluarganya, kecuali rumah yang menempel di samping mesjid, satu dua potong pakaian dan beberapa butir kurma atau sepotong roti kering untuk sarapan. Sampai-sampai tidurnya hanya di atas pelepah korma. Seperti pernah dia bertanya kepada Aisyah ra. Istrinya apakah hari itu ada sepotong roti kering atau sebiji korma untuk dimakan. Ketika istrinya berkata bahwa tidak ada semua itu, maka Muhammad Saw mengambil batu dan mengganjalkannya ke perut untuk menahan lapar. 6. Beliau lebih mendahulukan tujuan akhirat daripada maksud duniawi Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Muhammad Saw menunjukkan bahwa jalan akhirat itu lebih utama daripada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya ini. Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuan, maka tidak ada yang sanggup menggoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran. “Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.” Demikian Muhammad Saw berkata kepada para pemimpin Quraisy yang mencoba menyuap Muhammad Saw dengan harta benda, menjanjikan kedudukan tertinggi di kalangan suku-suku Arab dan juga menyediakan wanita-wanita cantik asalkan Muhammad Saw mau menghentikan dakwahnya di kalangan mereka. Apakah kita dan pemimpin-pemimpin kita sudah berpikir seperti itu?

Read more

system thinking

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , , ,

System Thinking Berpikir Sistem

When you have problem, what do you do? How do you think? Are you trying to cut the problem into smaller pieces then solve each pieces? For example: if you have a melon, then four people want it, each people have their own needs, one may need bigger part than the others, others may just want average part or smaller part. Will you ask one of them, cut it, then ask the others? If so, one will get the rest, that may not meet his/her needs. Ketika mempunyai masalah, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu akan memotong masalah itu menjadi bagian-bagian kecil kemudian memecahkan setiap bagian? Contoh: kalau kamu punya sebuah melon, setiap orang punya kebutuhan masing-masing. Akankah kamu bertanya pada orang pertama berapa banyak yang dibutuhkan, memotongnya, lalu bertanya kepada yang lain? Jika begitu, seseorang akan mendapat sisanya dan sisa itu mungkin tidak mencukupi kebutuhannya (dia mendapat bagian yang tidak adil). Cara berpikir mempengaruhi tindakan manusia sehari-hari. Russell L. Ackoff, seorang filsuf, berpendapat bahwa ada dua ide utama yang mendasari cara berpikir ilmiah tradisional. How we think influences human's behaviour everyday. Russell L. Ackoff, a philosopher, thinks that traditionally scientific system thinkings are based on two main ideas. Ide pertama didasarkan pada pemahaman bahwa semua fenomena dapat diterangkan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat yang menyatakan bahwa setiap hal mempunyai penyebab jika penyebab tersebut perlu dan cukup. Cara berpikir ini tidaklah memadai sebab seringkali mustahil bagi kita untuk dapat menemukan hubungan sebab-akibat satu demi satu antar komponen dalam sistem. First idea is based on understanding about every phenomenon can be explained with cause-effect corelation which says that every thing has a cause if the cause is necessary and sufficient. This system thinking is not enough, because it's often impossible for us to find the cause-effect corelation for every component in the system. Ide kedua disebut reduksionis yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia (serta setiap pengalaman tentang dunia) dapat direduksi, didekomposisi, didisasembli, atau dibagi-bagi sehingga diperoleh bagian yang tak dapat lagi dibagi-bagi. Penyelesaian masalah dari setiap bagian ini dianggap dapat menyelesaikan keseluruhan masalah. Second idea called reductionist which stated that everything in this world (and every experience about the world) can be reduced, decomposed, disassemblied or divided until it becomes parts that can't be divided anymore. The problem solution for every part is assumed to be able to solve the whole problem. Coba kita lihat contoh cara berpikir ilmiah reduksionis secara agak ekstrim: Let's see some examples which are rather extreme: 1. Seorang ayah mengidap penyakit diabetes dan lever (hati). Untuk memecahkan masalah ini, sang anak membagi masalah ini ke dalam dua bagian, yaitu sakit diabetes dan sakit lever. Suatu hari sang anak membawa sang ayah ke dokter ahli penyakit diabetes untuk mengatasi masalah pertama. Keesokan harinya ke dokter ahli penyakit lever untuk mengatasi masalah kedua. Kedua dokter tentu memberi obat yang berbeda, dokter ahli diabetes memberi obat untuk menurunkan kadar gula dalam darah sedangkan dokter ahli lever memberi obat untuk menaikkan kadar gula agar lever dapat berfungsi kembali. Pada masalah ini, kesalahan ada pada semua pihak, mengapa baik anak maupun orangtuanya tidak memberitahu tiap dokter bahwa ayahnya mempunyai penyakit lain dan mengapa sang dokter tidak menanyakan obat apa yang sedang dikonsumsi oleh sang ayah. Mungkin itulah akibat cara berpikir reduksionis. 1. A father has problems with diabetes and liver. To solve this problem, his son divide this problem into two parts, which is diabetes and liver. One day, his son took him to a doctor to cure his diabetes to solve the first part (the first problem). Another day, his son took him to another doctor to cure his liver to solve the second part (the second problem). Both doctors surely gave different presriptions. The diabetes doctor gave him medicines to lower glucose level in his blood, another doctor gave him other medicines to increase glucose level in his blood so his liver can work again. In this problem, mistakes was done by all parties, why both the son and the father did not tell the doctors about the father's whole problem and why the doctor did not ask what medicines is being consumed by the father. Maybe that's the result of reductionist system thinking. 2. Ketika kita mengerjakan soal ujian esai, mungkin setiap soalnya terdiri dari beberapa pertanyaan, lebih baik jika kita membaca semua pertanyaan yang berkaitan dengan soal tersebut terlebih dulu sebelum kita mengerjakannya, karena seringkali ketika kita mengerjakan soal tersebut satu per satu, ketika kita melangkah ke soal berikutnya mungkin kita baru benar-benar mengerti apa yang diminta penguji / pembuat soal. 2. When we do an essay test, a problem may not consist only one question, there may be some questions, it's better if we read the all questions that are related to the question first then answer the questions, because it often happens when we answer the question one by one, when we do the next question, that time we may just really understand what the examiners want. 3. Ini adalah contoh yang lebih umum, ketika kita menterjemahkan kalimat antar bahasa, jika kita artikan kata-katanya satu per satu tanpa melihat konteks kalimatnya, kemudian menyatukannya, hasil terjemahannya bukan tidak mungkin jadi aneh. contoh: Inggris - Indonesia : My grandfather are going to dance with her grandmother in a ballroom. Milik saya (My) besar ayah (grandfather) adalah (are) going (pergi) ke (to) dansa (dance) dalam (in) a (sebuah) bola ruang (ballroom). 3. This is a more common example, when we translate sentences from one language to another, if we translate the word one by one without seeing the sentence context, then assembling it, the result is not impossibly becoming weird. 4. Sepasang suami-istri hidup di negara dengan empat musim. Suatu ketika, musim dingin tiba. Kemajuan teknologi telah mendukung terciptanya selimut pemanas yang bisa diatur suhunya. Pasutri (pasangan suami istri) tersebut pun membeli satu selimut tersebut untuk mereka berdua. Selimut ini memang didisain untuk pasangan suami istri. Keunggulan selimut listrik ini, temperatur suhu selimut bagian kanan dan kiri bisa diatur oleh masing-masing penggunanya (jadi suhu selimut sebelah kanan mungkin berbeda dengan suhu selimut sebelah kiri). Suatu saat Sang suami tidur bersama istrinya. Di malam hari, sang suami merasa agak kedinginan, lalu dia berpikir, "Ah, pasti istri saya kedinginan.", karena cintanya pada sang istri, dia pun menaikkan suhu selimut istrinya. Tak lama kemudian, sang suami pun tertidur. Istri sang suami merasa agak kepanasan, dia pun berpikir, "Ah, suami saya pasti kepanasan." Karena cintanya pada sang suami, sang istri pun menurunkan suhu selimut suaminya. Akhirnya... mungkin saja sang istri mati kepanasan, sedangkan sang suami mati kedinginan. 4. I watched a movie about an otaku. He loves a girl. But one day, his friends ask him to see an exebition called "Comixet". He told the girl that he has to work but actually he came to see the exebition, having fun with his friends in his otaku dress. But, suddenly he met the girl, the girl saw him in his otaku dress then she told him not to meet her again. He think it is his fault that he is an otaku. He throw away all his toys; gundams, models, comics, etc. Then he told the girl that he has left his otaku behaviour, but the girl still can't forgive him. Actually, he is an otaku, that is not a problem, the main problem is his small lie. How the story continues... watch "Densha Otoko"! Nah, itulah mengapa sistem berpikir seperti itu dianggap kuno. Jaman sekarang ini, kedua ide tersebut mungkin tidak tepat lagi untuk diterapkan karena banyak masalah tidak dapat dipecahkan dengan kedua ide tersebut, ide yang tepat adalah dengan cara berpikir sistem, jadi kita memikirkan penyelesaian untuk keseluruhan masalah sekaligus, bukan per bagiannya. So, that's why that kind of system thinking is considered left behind. In the present times, when we have a problem, we should not think like our ancestor did, because many problems may not be possible to be solved by those two, the better idea is thinking with "system thinking", so we think to get a solution for the whole problem, not by its parts.

Read more

8 tipe kepribadian manusia

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Berdasarkan teori Jung dari jurnalnya “Psychological Types”, terdapat perbedaan yang mendasar dalam tipe kepribadian. Berikut merupakan beberapa tipe kepribadian dari teori Jung tersebut. Ekstrovert VS Introvert Seseorang dapat menjadi ekstrovert atau introvert, tergantung dengan arah aktivitas mereka. Extrovert adalah orang yang berpikir mengenai hal-hal secara objektif dan luas, sedangkan Introvert lebih berpikir ke arah subjektif atau dirinya sendiri. Perbedaan kedua kepribadian tersebut seperti di bawah ini : Ekstrovert * Tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar mereka * Terbuka dan seringkali banyak bicara * Membandingkan pendapat mereka dengan pendapat orang lain * Seperti aksi dan inisiatif * Mudah mendapat teman atau beradaptasi dalam grup baru * Mengatakan apa yang mereka pikirkan * Tertarik dengan orang-orang baru * Mudah menolak bersahabat dengan orang-orang yang tidak diinginkannya Introvert * Tertarik dengan pikiran dan perasaannya sendiri * Memerlukan teritori mereka sendiri * Tampil dengan muka pendiam dan tampak penuh pemikiran * Biasanya tidak mempunyai banyak teman * Sulit membuat hubungan baru * Menyukai konsentrasi dan kesunyian * Tidak suka denga kunjungan yang tidak diharapkan dan tidak suka mengunjungi orang lain * Bekerja dengan baik sendirian Logika VS Intuisi Berpikir secara logika adalah kemampuan mengambil informasi berdasarkan kualitas fisik dan pengaruhnya terhadap informasi lainnya. Intuisi atau suara hati merupakan kemampuan untuk mengambil informasi berdasarkan potensi tersembunyi dan kemungkinan eksistensinya. Perbedaan umum keduanya sebagai berikut : Tipe Penuh Logika * Melihat semua orang dan memikirkan semua hal * Merasa hanya hidup di sini dan hari ini * Cepat beradaptasi dengan berbagai situasi * Senang dengan sensasi fisik * Senang dengan masalah practical dan aktif * Realistis dan percaya diri Tipe Intuisi * Mengarah ke masa lalu atau masa depan * Khawatir mengenai masa depan lebih dari yang sekarang * Tertarik dengan semua hal baru dan tidak biasa * Tidak suka rutinitas * Lebih atraktif dalam teori daripada praktek * Sering ragu-ragu Berpikir VS Merasakan Berpikir merupakan kemampuan untuk mengambil informasi berdasarkan sturktur dan fungsinya. Sedangkan merasakan adalah kemampuan untuk mengambil informasi berdasarkan kondisi penuh semangat. Perbedaan umum dari keduanya adalah : Tipe Pemikir * Tertarik dengan system, struktur, dan pola * Mengekspos apapun dalam analisi logis * Relatif dingin dan tidak emosional * Mengevaluasi hal dengan intelektualitas dan antara benar atau salah * Memiliki kesulitan untuk mengungkapkan perasaan * Tidak suka berargumen secara terbuka atau memulai perselisihan Tipe Perasa * Tertarik dengan orang dan perasaan mereka * Mudah mengungkapkan mood-nya kepada orang lain * Menaruh perhatian besar terhadap cinta dan keinginannya yang besar * Mengavaluasi hal dengan penuh etika dan antara baik atau buruk * Mudah tersentuh atau menggunakan manipulasi emosional * Ramah dan sering memberikan pujian untuk orang-orang yang menyenangkan Pasrah VS Penuntut Tipe Pasrah termotivasi dalam aktivitas dari perubahan suatu situasi. Tipe penuntut termotivasi ke dalam aktivitas hasil keputusan mereka dari perubahan situasi. Perbedaan umum keduanya adalah : Tipe Pasrah * Bergerak secara impulsive mengikuti situasi * Dapat memulai banyak hal dalam sekali waktu, namun tanpa penyelesaiannya * Lebih memilih kemerdekaan daripada memenuhi kewajiban * Selalu ingin tahu dan suka hal baru * Bekerja produktif tergantung mood * Sering bertindak tanpa persiapan Tipe Penuntut * Tidak suka meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban * Bekerja keras dan selalu menyelesaikannya dengan baik * Tidak suka mengubah apa yang sudah menjadi keputusannya * Relatif stabil dalam bekerja * Mengikuti aturan dan disiplin sumber: beritanet.com

Read more

kepribadian manusia

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Kepribadian yang bagaimana dapat merubah diri kita pada kondisi dan keadaan tertentu, menurut ilmu psykologi ada 3 tipe kepribadian manusia yaitu introvert, ekstrovert dan ambivert. Berdasarkan teori Jung dari jurnalnya “Psychological Types”, terdapat perbedaan yang mendasar dalam tipe kepribadian. Berikut merupakan beberapa tipe kepribadian dari teori Jung tersebut. Seseorang dapat menjadi ekstrovert atau introvert, tergantung dengan arah aktivitas mereka. Extrovert adalah orang yang berpikir mengenai hal-hal secara objektif dan luas, sedangkan Introvert lebih berpikir ke arah subjektif atau dirinya sendiri. Perbedaan kedua kepribadian tersebut seperti di bawah ini : A. Ekstrovert. •Tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar mereka •Terbuka dan seringkali banyak bicara •Membandingkan pendapat mereka dengan pendapat orang lain •Seperti aksi dan inisiatif •Mudah mendapat teman atau beradaptasi dalam grup baru •Mengatakan apa yang mereka pikirkan •Tertarik dengan orang-orang baru •Mudah menolak bersahabat dengan orang-orang yang tidak diinginkannya B. Introvert. •Tertarik dengan pikiran dan perasaannya sendiri •Memerlukan teritori mereka sendiri •Tampil dengan muka pendiam dan tampak penuh pemikiran •Biasanya tidak mempunyai banyak teman •Sulit membuat hubungan baru •Menyukai konsentrasi dan kesunyian •Tidak suka denga kunjungan yang tidak diharapkan dan tidak suka mengunjungi orang lain •Bekerja dengan baik sendirian C.Ambivert. Selain dua karakter yang disebutkan di atas, juga ada karakter lain dalam pembedaan psikologi. Ambivert, adalah tipe karakter yang memiliki keseimbangan psikologi antara introvert dan extrovert. tipe ambivert seperti karakter extrovert, suka bersosialisasi dan berkumpul dengan banyak orang dan membicarakan banyak hal. di sisi lain mereka juga suka menyendiri dan menjauh dari lingkungan, seperti tipe introvert. Biasanya tipe ini yang menjadi penghubung antara tipe extrovert dan introvert. dalam hal profesi, karakter ambivert lebih cocok sebagai seorang psikolog. Karakter introvert bukan berarti karakter dengan pemikiran tertutup, memang itu disebabkan karena tipe introvert terlihat kurang expresif di dunia luar. sebagian dari para inrovert menyukai pembicaraan yang bersifat diskusi atau bahasan-bahasan yang dapat memicu pengembangan dalam pikirannya. dalam situasi seperti ini bisa saja seorang introvert bersikap lebih aktif dan expresif dibanding extrovert. Di dunia luar mungkin para extrovert akan lebih bisa menguasai panggung dibanding para introvert, dengan karakternya yang mudah bersosialisasi mereka dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, pengajar yang menyenangkan, dan kegiatan komunikatif lainnnya. Sedangkan karakter introvert lebih cocok dengan kegiatan yang bersifat individual seperti melukis, menulis buku, bermusik, program komputer, dan semacamnya.

Read more

KOLERIS pada umumnya mempunyai: KEKUATAN: * Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif * Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan * Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target * Bebas dan mandiri * Berani menghadapi tantangan dan masalah * "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini". * Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat * Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas * Membuat dan menentukan tujuan * Terdorong oleh tantangan dan tantangan * Tidak begitu perlu teman * Mau memimpin dan mengorganisasi * Biasanya benar dan punya visi ke depan * Unggul dalam keadaan darurat KELEMAHAN: * Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis) * Senang memerintah * Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai * Menyukai kontroversi dan pertengkaran * Terlalu kaku dan kuat/ keras * Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik * Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci * Sering membuat keputusan tergesa-gesa * Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain * Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan * Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya) * Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf * Mungkin selalu benar tetapi tidak populer kalau MELANKOLIS: KEKUATAN: * Analitis, mendalam, dan penuh pikiran * Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal * Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis) * Sensitif * Mau mengorbankan diri dan idealis * Standar tinggi dan perfeksionis * Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi) * Hemat * Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif) * Kalau sudah mulai, dituntaskan. * Berteman dengan hati-hati. * Puas di belakang layar, menghindari perhatian. * Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi * Sangat memperhatikan orang lain KELEMAHAN: * Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan) * Mengingat yang negatif & pendendam * Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah * Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan * Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah * Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..) * Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan * Hidup berdasarkan definisi * Sulit bersosialisasi * Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya * Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang) * Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian) * Memerlukan persetujuan kalau PLEGMATIS: KEKUATAN: * Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh * Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik * Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana * Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi) * Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi * Penengah masalah yg baik * Cenderung berusaha menemukan cara termudah * Baik di bawah tekanan * Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan * Rasa humor yg tajam * Senang melihat dan mengawasi * Berbelaskasihan dan peduli * Mudah diajak rukun dan damai KELEMAHAN: * Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru * Takut dan khawatir * Menghindari konflik dan tanggung jawab * Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar) * Terlalu pemalu dan pendiam * Humor kering dan mengejek (Sarkatis) * Kurang berorientasi pada tujuan * Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri * Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat * Tidak senang didesak-desak * Menunda-nunda / menggantungkan masalah. kalau SANGUINIS: KEKUATAN: * Suka bicara * Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif * Antusias dan ekspresif * Ceria dan penuh rasa ingin tahu * Hidup di masa sekarang * Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan) * Berhati tulus dan kekanak-kanakan * Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara) * Umumnya hebat di permukaan * Mudah berteman dan menyukai orang lain * Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian * Menyenangkan dan dicemburui orang lain * Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam) * Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan * Menyukai hal-hal yang spontan KELEMAHAN: * Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras) * Membesar-besarkan suatu hal / kejadian * Susah untuk diam * Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank) * Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele * RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek) * Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias) * Mudah berubah-ubah * Susah datang tepat waktu jam kantor * Prioritas kegiatan kacau * Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas * Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya * Egoistis * Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama * Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money". dari: sahabatjiwa.multiply.com

Read more

tipe kepribadian manusia

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu tersebutlah yang lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa sesungguhnya diri kita ini?” Enneagram Selain dengan mengikuti tes-tes psikologi, ada satu metode yang bisa digunakan untuk mengetahui kepribadian yaitu menggunakan enneagram. Enneagram diartikan sebagai “sebuah gambar bertitik sembilan”. Metode ini dikabarkan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah, hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Kepribadian manusia dalam sistem enneagram, terbagi menjadi 9 tipe. Renee Baron dan Elizabeth Wagele, lewat buku yang berjudul enneagram, berusaha untuk menjelaskan kesembilan tipe tersebut agar lebih mudah dimengerti. Sembilan Tipe Kepribadian Manusia Kesembilan tipe kepribadian tersebut adalah : Tipe 1 perfeksionis Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah. Tipe 2 penolong Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan. Tipe 3 pengejar prestasi Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan. Tipe 4 romantis Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja. Tipe 5 pengamat Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban. Tipe 6 pencemas Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak. Tipe 7 petualang Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita. Tipe 8 pejuang Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah. Tipe 9 pendamai Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik. Panah dan Sayap

panah dan sayap dalam enneagram Setiap tipe pada enneagram berhubungan langsung dengan 2 tipe lainnya yang disebut sebagai panah. Tipe 1 berhubungan dengan tipe 7 dan 4, tipe 2 dengan tipe 8 dan 4, dst (lihat gambar). Dinamika hubungan antar tipe ini terjadi sebagai berikut : jika dalam keadaan rileks tipe 1 akan mengambil karakter positif dari tipe 7, dan jika dalam keadaan tertekan akan mengambil karakter negatif dari panah sebaliknya, yaitu tipe 4. Sebagai contoh, tipe 1 yang mengambil sisi positif tipe 7 tidak akan terlalu mengkritik diri serta lebih menerima diri, lebih antusias dan optimis, bertindak lebih alami dan spontan. Sedangkan jika sedang tertekan akan mengarahkan kemarahan ke dalam diri sendiri lalu menjadi depresi, hilang kepercayaan diri, dan menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Contoh lain, tipe 2 yang sedang rileks, akan mengambil karakter positif dari tipe 4, dan jika sedang tertekan akan mengambil karakter tipe 8. Dan begitu seterusnya dinamika hubungan pada tipe-tipe lainnya. Selain panah, kepribadian kita dapat tercampur atau terpengaruhi oleh tipe di kanan dan kiri kita. Tipe di kanan dan kiri kita ini disebut dengan sayap. Contohnya, tipe 1 dengan sayap 2 yang lebih kuat, cenderung hangat, lebih suka menolong, mengkritik dan menguasai. Sedangkan tipe 1 dengan sayap 9 lebih kuat, cenderung lebih tenang, lebih santai, objektif dan menjaga jarak. Tipe-tipe Enneagram dan Myers-Briggs Type Indicator Bagian akhir buku Enneagram ini berisi penjelasan tentang tipe-tipe kepribadian yang sudah diakui, yaitu Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan kecocokannya dengan tipe-tipe dalam enneagram. MBTI sendiri adalah suatu inventori kepribadian yang berlandaskan pemikiran dari Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Inventori ini mengukur kecenderungan individu berdasarkan empat skala : e Terakhir, terdapat tabel hubungan antara sistem dalam enneagram dan MBTI.

Read more

dear God

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , ,

Dear God,
In Your majesty, You create differences.
In my arrogance, I question Your wisdom.
In Your mistery, You create temptation.
In my inferiority, You make me more than i am.

So here i am..

Surrender me in the agony of Your love.
Surrender me in the irony of Your law.
lead me to the joy of love redivined.
Teach me how to love You more..

Read more

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Do you know someone who needs hours alone every day? Who loves quiet conversations about feelings or ideas, and can give a dynamite presentation to a big audience, but seems awkward in groups and maladroit at small talk? Who has to be dragged to parties and then needs the rest of the day to recuperate? Who growls or scowls or grunts or winces when accosted with pleasantries by people who are just trying to be nice?
If so, do you tell this person he is "too serious," or ask if he is okay? Regard him as aloof, arrogant, rude? Redouble your efforts to draw him out?
If you answered yes to these questions, chances are that you have an introvert on your hands—and that you aren't caring for him properly. Science has learned a good deal in recent years about the habits and requirements of introverts. It has even learned, by means of brain scans, that introverts process information differently from other people (I am not making this up). If you are behind the curve on this important matter, be reassured that you are not alone. Introverts may be common, but they are also among the most misunderstood and aggrieved groups in America, possibly the world.
I know. My name is Jonathan, and I am an introvert.
Oh, for years I denied it. After all, I have good social skills. I am not morose or misanthropic. Usually. I am far from shy. I love long conversations that explore intimate thoughts or passionate interests. But at last I have self-identified and come out to my friends and colleagues. In doing so, I have found myself liberated from any number of damaging misconceptions and stereotypes. Now I am here to tell you what you need to know in order to respond sensitively and supportively to your own introverted family members, friends, and colleagues. Remember, someone you know, respect, and interact with every day is an introvert, and you are probably driving this person nuts. It pays to learn the warning signs.
What is introversion?
In its modern sense, the concept goes back to the 1920s and the psychologist Carl Jung. Today it is a mainstay of personality tests, including the widely used Myers-Briggs Type Indicator. Introverts are not necessarily shy. Shy people are anxious or frightened or self-excoriating in social settings; introverts generally are not. Introverts are also not misanthropic, though some of us do go along with Sartre as far as to say "Hell is other people at breakfast." Rather, introverts are people who find other people tiring.
Extroverts are energized by people, and wilt or fade when alone. They often seem bored by themselves, in both senses of the expression. Leave an extrovert alone for two minutes and he will reach for his cell phone. In contrast, after an hour or two of being socially "on," we introverts need to turn off and recharge. My own formula is roughly two hours alone for every hour of socializing. This isn't antisocial. It isn't a sign of depression. It does not call for medication. For introverts, to be alone with our thoughts is as restorative as sleeping, as nourishing as eating. Our motto: "I'm okay, you're okay—in small doses."

How many people are introverts?
I performed exhaustive research on this question, in the form of a quick Google search. The answer: About 25 percent. Or: Just under half. Or—my favorite—"a minority in the regular population but a majority in the gifted population."

Are introverts misunderstood? Wildly. That, it appears, is our lot in life. "It is very difficult for an extrovert to understand an introvert," write the education experts Jill D. Burruss and Lisa Kaenzig. (They are also the source of the quotation in the previous paragraph.) Extroverts are easy for introverts to understand, because extroverts spend so much of their time working out who they are in voluble, and frequently inescapable, interaction with other people. They are as inscrutable as puppy dogs. But the street does not run both ways. Extroverts have little or no grasp of introversion. They assume that company, especially their own, is always welcome. They cannot imagine why someone would need to be alone; indeed, they often take umbrage at the suggestion. As often as I have tried to explain the matter to extroverts, I have never sensed that any of them really understood. They listen for a moment and then go back to barking and yipping.

Are introverts oppressed?
I would have to say so. For one thing, extroverts are overrepresented in politics, a profession in which only the garrulous are really comfortable. Look at George W. Bush. Look at Bill Clinton. They seem to come fully to life only around other people. To think of the few introverts who did rise to the top in politics—Calvin Coolidge, Richard Nixon—is merely to drive home the point. With the possible exception of Ronald Reagan, whose fabled aloofness and privateness were probably signs of a deep introverted streak (many actors, I've read, are introverts, and many introverts, when socializing, feel like actors), introverts are not considered "naturals" in politics.
Extroverts therefore dominate public life. This is a pity. If we introverts ran the world, it would no doubt be a calmer, saner, more peaceful sort of place. As Coolidge is supposed to have said, "Don't you know that four fifths of all our troubles in this life would disappear if we would just sit down and keep still?" (He is also supposed to have said, "If you don't say anything, you won't be called on to repeat it." The only thing a true introvert dislikes more than talking about himself is repeating himself.)
With their endless appetite for talk and attention, extroverts also dominate social life, so they tend to set expectations. In our extrovertist society, being outgoing is considered normal and therefore desirable, a mark of happiness, confidence, leadership. Extroverts are seen as bighearted, vibrant, warm, empathic. "People person" is a compliment. Introverts are described with words like "guarded," "loner," "reserved," "taciturn," "self-contained," "private"—narrow, ungenerous words, words that suggest emotional parsimony and smallness of personality. Female introverts, I suspect, must suffer especially. In certain circles, particularly in the Midwest, a man can still sometimes get away with being what they used to call a strong and silent type; introverted women, lacking that alternative, are even more likely than men to be perceived as timid, withdrawn, haughty.

Are introverts arrogant?
Hardly. I suppose this common misconception has to do with our being more intelligent, more reflective, more independent, more level-headed, more refined, and more sensitive than extroverts. Also, it is probably due to our lack of small talk, a lack that extroverts often mistake for disdain. We tend to think before talking, whereas extroverts tend to think by talking, which is why their meetings never last less than six hours. "Introverts," writes a perceptive fellow named Thomas P. Crouser, in an online review of a recent book called Why Should Extroverts Make All the Money? (I'm not making that up, either), "are driven to distraction by the semi-internal dialogue extroverts tend to conduct. Introverts don't outwardly complain, instead roll their eyes and silently curse the darkness." Just so.
The worst of it is that extroverts have no idea of the torment they put us through. Sometimes, as we gasp for air amid the fog of their 98-percent-content-free talk, we wonder if extroverts even bother to listen to themselves. Still, we endure stoically, because the etiquette books—written, no doubt, by extroverts—regard declining to banter as rude and gaps in conversation as awkward. We can only dream that someday, when our condition is more widely understood, when perhaps an Introverts' Rights movement has blossomed and borne fruit, it will not be impolite to say "I'm an introvert. You are a wonderful person and I like you. But now please shush."

How can I let the introvert in my life know that I support him and respect his choice?
First, recognize that it's not a choice. It's not a lifestyle. It's an orientation.
Second, when you see an introvert lost in thought, don't say "What's the matter?" or "Are you all right?"
Third, don't say anything else, either.

Jonathan Rauch is a correspondent for The Atlantic and a senior writer for National Journal.

Read more

introvert? why not

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , ,


Saat teman-teman saya senang menghabiskan waktu dengan bergerombol kesana kemari, saya lebih suka berteman intim dan setia dengan dua hingga tiga orang saja. Saat teman-teman saya mulai membicarakan ini dan itu, pamer, basa-basi, mengoceh dan lain sebagainya dengan mudah, saya cenderung diam dan tidak akan balas berbasa-basi. Di saat seperti itu, saya membaca obrolan mereka, membaca bahasa tubuh mereka, dan hal itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuk saya.

Di saat teman-teman saya senang dengan segala keramaian (konser musik, pertandingan antar sekolah, jalan-jalan ke mall saat weekend) yang menurut mereka bagus untuk menyegarkan diri, saya justru layu bila menjadi bagian dari keramaian itu. Saya punya cara sendiri untuk menyegarkan diri. Saya akan segar dengan menyendiri, dekat dengan alam, jauh dari hingar-bingar manusia.


I'm weird. 
Yes, something wrong with me

Teman-teman saya, mereka lebih bisa diterima dalam pergaulan, sedangkan saya tidak. Lalu, saya berpura-pura untuk mengikuti arus, agar bisa diterima oleh standar masyarakat. Saya berbicara ini itu, bergerombol dalam keramaian, menjadi penyemangat pertandingan antar sekolah. Then, am I happy? No. Saya tidak bisa menyehatkan kepala saya dalam dunia yang berisik. Saya tidak bisa lagi mendengar semesta berbicara dengan saya. Saat saya sadar bahwa saya tidak nyaman dengan berpura-pura, saya kembali menjadi 'Si aneh'.

Si aneh yang senang sendirian.
Si aneh yang jarang bicara.
Si aneh yang suka berpikir.
Si aneh yang sering di cap sombong.
Si aneh yang harus dirayu agar mau diajak 'bersenang-senang'.

Menyedihkan? Haha... saat itu saya kehilangan arah (ceile bahasa saya). Lalu saya mencari pembenaran, apa yang terjadi dengan saya. Mungkin saya ini anti sosial, mungkin otak saya terguncang waktu jatuh dari pohon jambu, mungkin saya mengalami gangguan jiwa, mungkin saya ini alien, mungkin saya ini jelmaan siluman, dan lain sebagainya.

Akhirnya, setelah menikmati sajian Psikologi dari berbagai sumber, saya menyadari bahwa saya ini tidak gila, saya bukan siluman, saya bukan alien (kalau yang ini masih dipertanyakan). Saya melakukan tes ini dan itu. Hasilnya... CIHUY! Saya ini normal. Hanya saja, saya diberkahi sesuatu yang kurang bisa diterima oleh standart kelayakan masyarakat.

Lima milyar penduduk dunia.
Saya hanya menjadi bagian 11,6% diantara mereka.
Minoritas. Akhirnya, saya menjadi seorang minoritas.
Akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya. Not bad.

Dan dengan ini saya umumkan bahwa:

Saya positif introvert.
Ilmu psikologi mempelajari perilaku manusia untuk dibagi/digolongkan menjadi beberapa bagian. Sebagian dari kita mungkin mengenal istilah populer ini: sanguin, melankolis, flekmatis, dan kolerik. Ada juga pemilahan jenis sifat manusia yang saat ini sering dibicarakan, yaitu Eneagram. Sebenarnya ada banyak penggolongan lain, Introvert dan Ekstrovert termasuk di dalamnya, hanya saja istilah ini belum terlalu populer di lingkungan saya (mungkin juga anda).

Pada awalnya, saya mengira setelah seseorang mengetahui kemana kecenderungan sifat mereka, introvert maupun ekstrovert, ya sudah. Oh saya introvert, selesai. Ternyata tidak sesimpel itu, karena setelah saya pelajari, ada jurang yang sangat lebar diantara keduanya. Mari kita pahami perbedaan keduanya. Anda termasuk yang mana?

Ekstrovert:

  • Energi mereka didapat dari saling berinteraksi dengan orang lain.
  • Tidak bermasalah dengan keramaian dan kegiatan yang melibatkan banyak orang.
  • Punya banyak teman yang bisa saling bersenang-senang.
  • Tidak bermasalah untuk berbagi ide dengan orang asing sekalipun.
  • Berbicara/bertindak dulu baru berpikir, atau berbicara/bertindak sambil berpikir.
  • Mudah berbicara mengenai hal apapun, sekedar basa-basi hingga pembicaraan berbobot.
  • Bahagia apabila mereka dikelilingi orang lain.

Introvert:
  • Energi mereka didapat dari interaksi pada diri mereka sendiri, batin mereka sendiri.
  • Menyukai suasana yang sepi dan kesendirian.
  • Sedikit teman, karena mereka lebih suka pertemanan intim yang setia.
  • Hanya menceritakan gagasan mereka pada orang mereka percaya.
  • Berpikir (lama atau sangat lama) sebelum berbicara/bertindak.
  • Hanya berbicara bila memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan.
  • Bahagia dengan pemahaman pada diri sendiri sebelum memahami orang lain.
Kata kunci disini adalah energi*. Ekstrovert, sesuai namanya, mereka mendapat energi dari luar, dari orang-orang disekitarnya, hidup mereka akan bermakna bila saling berinteraksi, mereka memahami manusia dengan saling bicara. Sedangkan introvert, mereka mendapat energi dari dalam dirinya, dari pemikirannya, dari batinnya, hidup mereka bermakna apabila mereka memahami dan menghargai diri mereka sendiri, sehingga mereka mudah memahami dan menghargai dunia di luar mereka tanpa banyak bicara sekalipun. Ini yang saya sebut perbedaan sebesar jurang.

*Energi yang dimaksud adalah kepuasan batin, bukan energi fisik yang didapat dari makanan.


Introvert dalam minoritas.
Kami para introvert, jumlah kami jauh lebih sedikit, sehingga kecenderungan kami untuk bersenang-senang dengan pikiran kami sendiri sulit dimengerti dan diterima oleh para ekstrovert. Pada akhirnya, kami menjadi komunitas yang aneh dan tersisih. Padahal jika kalian tahu, pikiran milik kalian adalah sesuatu yang begitu menyenangkan untuk diajak berbicara, Bumi kalian, bunga, langit dan—ah, saya lupa, para ekstrovert lebih suka saling berbicara dan bersenang-senang sesama manusia. Hehehe, peace :)

Well yeah, saya hidup di dunia yang senang memilah-milah, dimana mayoritas berkuasa, dan minoritas nelangsa. Mayoritaslah yang membuat standar hidup untuk semua orang, karena mereka mendominasi. Sedangkan minoritas harus menyesuaikan diri dengan standar hidup tersebut. Orang supel lebih disukai oleh masyarakat, orang yang mudah berbicara akan langsung dicap sebagai pribadi yang hangat, orang yang mudah mengemukakan pendapatnya akan langsung diberi tepuk tangan. Setuju atau tidak, stigma yang berkembang di masyarakat adalah, ekstrovert mudah diterima, sifat mereka baik untuk kehidupan, masa depan mereka cerah, karena manusia adalah makhluk sosial.

Sementara itu, para introvert harus menghadapi konsep manusia adalah makhluk sosial. Dimana untuk bersosialisasi, kita harus (minimal) memakai bibir untuk bercuap-cuap agar bisa diterima sebagai makhluk sosial (sedangkan introvert hanya berbicara jika memang perlu berbicara). Jika tidak bisa mendayagunakan bibir, padahal kalian normal dan tidak ada yang salah dengan mulut kalian, maka kalian akan langsung dicap suka menyendiri, susah bergaul, anti sosial, dan SOMBONG. Itulah masalah yang paling sering dihadapi oleh seorang introvert.


Introvert sering tersisih.
Kami para introvert terlihat sering menyendiri (padahal tidak selalu), karena disanalah kami mendapatkan energi dan pemahaman akan diri kami sendiri, yang sulit dimengerti oleh para ekstrovert. Kami terlihat sulit bergaul, karena kami senang bermain-main dengan pikiran kami terlebih dahulu sebelum deal dengan orang lain. Kami bukan anti sosial, seorang introvert tidak selamanya diam, mereka juga butuh orang lain untuk berbicara, curhat, mengemukakan ide, bahkan gila-gilaan dan bisa 'sinting', tetapi dengan sangat berhati-hati, yang biasa kalian sebut dengan tertutup. Terakhir, kami bukan makhluk sombong. Semudah itukah menyebut kami sombong hanya karena kami pelit bicara?
Tuhan menciptakan kami tidak untuk bunuh diri.
Sudah introvert, susah dipahami, minoritas pula. Jika diibaratkan, kami ini seperti seekor cacing pipih yang hidup serumah dengan seekor naga. Saat kami ingin sendiri, kami tidak sedang bermasalah, depresi, ataupun sakit. Kami hanya ingin sendirian untuk mengisi ulang energi kami, energi yang telah habis saat kami menjalankan kewajiban untuk bersosialisasi, sangat melelahkan. Sekali lagi, kesendirian dan memahami diri sendiri adalah sumber energi kami. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau disekeliling kami ramai dan bising?

Bukan berarti kami ingin hidup di tengah hutan. Kami senang dengan dunia luar yang tenang. Kalaupun kami harus masuk ke dalam kebisingan, pesta, konser, mengerjakan proyek bersama, arisan, ngerumpi, kami tidak keberatan, tetapi seperti yang saya tulis di atas, kegiatan itu melelahkan pikiran kami, energi kami akan habis.

Kasarnya begini,

Misal dalam sebuah pesta, ekstrovert dan introvert berkumpul. Mereka saling berbincang dalam obrolan hangat dan menyenangkan (tuh, kami bukan anti sosial). Seorang ekstrovert akan pulang dari pesta dengan energi yang full, karena saat saling berinteraksi, ekstrovert mendapat energi/kepuasan batin. Sedangkan introvert, dia akan pulang dengan energi yang sudah terkuras, sehingga sesampai di rumah, dia perlu sendirian dalam keheningan untuk mengisi ulang energinya. Bagaimana mengisinya? Tentu saja dengan bersenang-senang melalui batin mereka sendiri.

Read more

apa itu introvert?

Written by fatma sw 1 comments Posted in: ,


"Introvert lebih mengacu kepada orang yang sibuk dengan apa yang ada di pikirannya dibandingkan dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang introvert juga akan memilih untuk menyendiri jika ingin menyegarkan hati dan pikirannya," kata Wendy, seperti dikutip dari Businessweek.com.

Berbeda dengan si ekstrovert, yang jika seharian lelah bekerja dan menghabiskan waktu dengan banyak orang, memilih untuk menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama teman-teman atau berpesta, orang yang introvert lebih suka menghabiskan harinya dengan menyendiri.

Menurut Wendy, dari observasi yang dilakukannya terhadap orang-orang introvert, mereka menganggap bahwa sifat mereka adalah "aneh" dan "kurang normal". Sementara Anne Fisher, kontributor Aol.com, mengatakan banyak orang lebih menganggap orang yang ekstrovert sebagai orang yang normal dan sesuai dengan standar yang ditetapkan masyarakat

"Orang yang introvert tidak terlalu suka berkumpul dan menceritakan pengalamannya, maka orang-orang mengatakan orang introvert adalah para penyendiri, sendirian," jelasnya. Lebih jauh dari itu sebuah penelitian dari Myers Briggs dengan responden sebanyak 3.009 orang, didapat hasil bahwa kaum ekstrovert lebih banyak daripada kaum ekstrovert. Perbandingannya, 50,8 persen banding 49,3 persen. Dari jumlah tersebut, lelaki lebih banyka yang introvert (54,1 persen) dibandingkan dengan perempuan (47,5 persen).

"Dan jika orang seperti Anda masih merasa bahwa orang introvert tidak lebih baik daripada ekstrovert. Cobalah lihat bahwa orang hebat seperti Bill Gates, Warren Buffett, atau Steven Spielberg menyatakan diri mereka sebagai orang yang introvert," sebut Anne. Jadi, menurut Anne, meski orang ekstrovert cenderung lebih menonjol saat proses perekrutan karyawan atau di lingkungan kerja, bukan berarti yang introvert tidak bisa melakukan hal yang sama. Sebab, sebuah penelitian mengatakan bahwa dua karakter yang berbeda ini memang punya cara yang berbeda dalam mengolah informasi.

"Jika orang introvert lebih suka berpikir sebelum berbicara, orang ekstrovert berpikir selagi mereka berbicara," kata Anne. Dengan perbedaan cara mengolah informasi tersebut, Wendy menganjurkan agar saat sesi wawancara tiba, sebaiknya orang yang introvert menyiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang umumnya ditanyakan pewawancara. Jadi si introvert tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan.

Read more


Saya pernah membaca sebuah buku karangan James Hillman, seorang psikolog Amerika aliran Jungian, berjudul “suicide and the soul”.
James Hillman menyatakan bahwa bunuh diri adalah suatu dorongan dari jiwa manusia kepada kematian. oleh karena itu bunuh diri pada dasarnya tidak dapat dikatakan salah secara moral.
Bunuh diri adalah dorongan normal yang ada dalam diri setiap manusia ketika jiwanya merasa cukup, entah dengan alasan apapun, kepada kehidupan yang dijalaninya. sehingga jiwa menuntut orang tersebut untuk segera mengakhiri hidupnya.
James Hillman juga menyatakan bahwa bunuh diri sebenarnya tidak ada. istilah ini hanyalah sebuah hasil dari pemikiran medis belaka. Bunuh diri pada dasarnya sebenarnya sama dengan segala macam kematian yang lainnya. Dasar pemikirannya ini adalah pernyataannya bahwa setiap orang merancang kematiannya setiap hari. contohnya: orang ketika makan memiliki daging atao sayur adalah hasil dari dorongan jiwanya kepada kematian. Bila terus memilih daging dia akan mati karena penyakit kolesterol, jantung, dll. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut sebenanrya melakukan bunuh diri. Namun pada kenyataannya banyak orang menganggap kematian orang yang makan daging dan sakit adalah kematian biasa.
Maka, bagaimana menurut anda?
Apakah bunuh diri itu memang adalah dorongan dari jiwa yang secara moral bernilai netral?
“GOD grant me the serenity to accept the things that i can not change,to change the things i can, and the wisdom to know the different.”
Fransisco Rosarians Enga Geken
Sumber:  http://groups.yahoo.com/group/janganbunuhdiri/message/5

Read more

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , ,

Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit untuk dilalui. Tapi jika sejak remaja kau sudah merasa bahwa kau gay/lesbian/transeksual, masa itu akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menyebabkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa dia homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orangtua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat.

Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit atau semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/lesbian/transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka bisa kaulihat bagaimana remaja sering bergerombol ke sana kemari demi untuk jadi bagian dari suatu kelompok (dan moga-moga kau bisa masuk kelompok populer). Saat kau berbeda, kau jadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat kau berbeda, kau akan jadi sasaran bullying mereka yang mayoritas. Belum lagi jika kau berasal dari keluarga yang kurang harmonis, di mana keluarga tidak bisa jadi pilar tempatmu bersandar. Meskipun keluarga harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri.

Bayangkan betapa takutnya dirimu saat mengetahuinya. Kau tentu tidak mau dipanggil si homo, banci, lesbi, bencong, lines, atau apalah sebutan lainnya selama di sekolah, kan? Atau bahkan kau bisa dipukuli di sekolah setiap hari karena alasan bahwa dirimu “beda”. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Satu kali. Berpikir untuk mengakhiri hidup agar orang tidak perlu tahu bahwa saya lesbian. Dan kini tiap hari saya bersyukur niat itu hanya sebatas niatan dan saya tidak jadi melakukannya. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.

Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukannya nalar. Alexander Stevens, Asst. Professor di Oregon Health and Science University, menjelaskan bahwa otak remaja adalah “pekerjaan yang belum selesai.” Riset terbaru menyatakan jaringan saraf di otak bagian depan yang diperlukan untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis dan nalar baru akan selesai terbentuk pada usia 20 tahunan.

Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta yang dialami oleh remaja terasa begitu indah karena emosi mereka membanjir mengalir drastis dalam otak mereka.

Oleh karena itu coming out, tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia di bawah 19 tahun. Cobalah untuk beradaptasi sekarang, kau bisa coming out nanti kalau kau sudah sukses dan berprestasi sehingga debu pun menyingkir saat kau hendak berjalan. Coming out butuh kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara saksama, bukan dilakukan secara impulsif.

Banyak yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan orientasi seksual mereka. Dan sayangnya, mereka benar. Banyak remaja GLBT yang jadi sasaran siksaan fisik dan verbal. Dan bullying terus-menerus ini bisa mendorong bunuh diri. Sumber: http://www.suicide.org/gay-and-lesbian-suicide.html

Proses penerimaan diri seseorang menyadari bahwa mereka gay/lesbian/transeksual adalah proses yang panjang berliku dan menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin banyak kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong risiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya juga banyak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial.

Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001 dari situs http://www.suicide.org/, remaja usia 15-24 meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30%-nya adalah remaja gay/lesbian/transeksual. Menurut data statistik dari http://www.lambda.org/youth_suicide.htm, 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia sendiri menurut majalah Tempo dalam terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian terhadap tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada referensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini.

Masalah bunuh diri ini bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Percayalah suatu hari kau akan menemukan cinta yang kau cari. Ingatlah bahwa
kau tidak sendirian. Dirimu terlalu berharga. Bunuh diri bukanlah jawaban. Carilah bantuan.

Read more

Aku tidak lagi akan menjadi beban”

“Tidak ada yang berarti lagi dalam hidupku”
“Sepertinya aku nggak akan bertemu lagi denganmu”
“Aku sudah tidak sanggup lagi, lebih baik kuakhiri saja”
Pernahkah kata-kata diatas tebersit dalam pikiran anda atau terucap dari bibir anda? Kalau anda menjawab ‘Ya’, segeralah mencari bantuan. Anda membutuhkan bantuan!
Bunuh diri atau mengambil nyawa diri sendiri oleh sebagian orang seringkali dianggap sebagai suatu solusi jitu atas suatu dilema yang sedang dihadapi, baik itu dilema fisik maupun psikologis. Secara ilmu psikologis, bunuh diri berakar dari DEPRESI. Depresi itu sendiri tidak memilih usia, ia bisa menyerang tua dan muda, laki-laki dan wanita.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Penyebab banyaknya angka bunuh diri disebabkan oleh kemiskinan dan tekanan ekonomi.  Dari jumlah tersebut,  41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. Sementara pada tahun 2009 marak diberitakan aksi bunuh diri dengan melompat dari pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat. Yang mengherankan, latar belakang kemiskinan bukan lagi menjadi pemicu utama bunuh diri karena rata-rata korban berasal dari keluarga mampu.
Kenapa memBUNUH DIRI sendiri?
Depresi?
Depresi adalah sebuah gangguan mood yang ditandai oleh perasaan sedih yang berlebihan dan keputusasaan yang biasanya disebabkan oleh tragedi pribadi baik itu kerugian material (bangkrut, kehilangan harta karena kebakaran, kecelakaan dsbgnya) atau immaterial (kematian anggota keluarga, putus cinta dsbgnya). Depresi bisa menghasilkan sebuah keadaan emosi tidak normal yang kemudian menghasilkan tindakan membesar-besarkan perasaan sedih dan rasa keputusasaan yang  (sebenarnya) tidak sesuai dengan realitas yang dialami.

4 Ciri Depresi:

EMOSI


Kesedihan adalah gejala depresi emosional yang paling mencolok dan luas. Orang yang depresi biasanya mengartikulasikan rasa depresi mereka dengan pernyataan-pernyataan seperti “Saya merasa sedih.” Biasanya gejala emosional ini dirasakan lebih parah di waktu pagi hari karena orang tersebut kesulitan tidur. Perasaan cemas juga hadir bersamaan dengan hilangnya kepuasan dan kehilangan minat (ogah-ogahan, malas). Kehilangan minat bisa dimulai dengan menurunnya kinerja dan meluas ke hampir semua kegiatan (hobi, aktivitas rekreasi, dll). Pada akhirnya, bahkan daya tarik terhadap fungsi-fungsi biologis seperti makan dan seks juga mulai hilang.

KOGNITIF

Istilah ini mengacu kepada proses mental kognitif yang ditandai dengan mengetahui, berpikir, belajar dan menilai. Ini merupakan proses intelektual di mana seseorang merasa atau mengerti. Individu yang mengalami depresi berpikir akan merasa dirinya sendiri NEGATIF. Mereka memandang masa depan dengan keputusasaan. Individu mungkin merasa bahwa mereka telah gagal dalam segalanya atau bahwa mereka menyebabkan masalah mereka sendiri. Mereka percaya bahwa mereka lebih rendah, tidak memadai dan tidak kompeten. Depresi fungsi kognitif menyebabkan mereka memiliki harga diri yang rendah. Ini akhirnya menabur benih bagi keputusasaan dan pesimisme. Individu yang mengalami depresi benar-benar percaya bahwa ia ditakdirkan gagal dan maka dari itu tidak ada jalan keluar.

MOTIVASIONAL

Gejala khusus biasanya bisa dilihat pertama kali oleh orang-orang yang dekat dengan orang yang depresi. Orang depresi biasanya memiliki kesulitan untuk “mulai.” Sebagian besar dari kita dapat bekerja untuk bangun pagi, pergi bekerja, berinteraksi dengan satu sama lain dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan rutin. Namun individu yang mengalami depresi ditandai dengan kepasifan atau kurangnya aktivitas. Kepasifan dan kurangnya respon yang normal ini merusak kemampuan individu untuk terlibat dalam kehidupan dan bersosialisasi. Dalam bentuknya yang paling ekstrem bahkan mungkin individu akan mengalami “kelumpuhan” di mana ia bahkan tidak merasa seperti melakukan apa yang diperlukan untuk kehidupannya sendiri.

SOMATIS

Ini adalah manifestasi biologis dari depresi. Ini mungkin adalah kumpulan gejala yang paling berbahaya karena dampaknya. Ketika depresi menjadi semakin parah, kegembiraan biologis dan psikologis yang (semestinya) membuat hidup layak dijalani menjadi terkikis. Hilangnya nafsu makan, kehilangan minat pada seks dan hasrat seksual, penurunan berat badan, dan gangguan tidur menyebabkan kelemahan dan kelelahan. Individu yang sedang depresi atau merasa tertekan merasa depresi secara fisik pula. Mereka lebih rentan terhadap penyakit fisik akibat depresi. Ketika menjadi lebih buruk maka akan mengikis dorongan dasar biologis.

BUNUH DIRI=SELESAI?

Jadi jika anda merasa memenuhi keempat ciri diatas maka anda akan merasa syah untuk mengakhiri hidup anda sendiri? Begitukah? Anda menganggap, masalah adalah anda dan anda adalah masalah jadi untuk mengakhiri masalah, anda berfikir bahwa andalah yang musti di matikan? Yakin? Anda berfikir bahwa jalan SATU-SATUnya untuk menyelesaikan masalah adalah MENYELESAIKAN anda? Anda ‘selesai’ sama dengan masalah selesai? Anda yakin dengan konsep itu?
Bukankah JAUH lebih baik, MASALAHNYA yang dihentikan? Siapa yang bisa melakukannya? ANDA! Apakah mungkin? Bagaimana caranya? Lanjutkan membaca..

MENGUBAH CARA BERFIKIR

Bagi anda yang ingin bunuh diri, mungkin pernah mendapati beragam kata-kata yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak akan memberikan masalah pada umatnya yang tidak mungkin bisa diatasinya”, “Dibalik setiap tembok masih ada ruang dan tembok yang lain”, “Bukan hanya kau saja yang mempunyai masalah di dunia ini”.  Iya, semua kata-kata itu terdengar menyejukkan bagi anda namun anda bingung bagaimana melangkah untuk memperbaiki diri dan melepaskan dari depresi? Anda merasa kaku, terpojok, kecil dan tidak berdaya.  Pernahkah mengajak fikiran anda berfikir yang tidak biasanya?
Pernahkah anda melihat hewan bunuh diri?
Mungkin ini pertanyaan yang cukup aneh bagi anda. Bagaimana mungkin urusan bunuh diri anda disamakan dengan perilaku hewan. Tapi dengan serius saya ajak anda berfikir, pernahkah anda melihat seekor binatang dengan keterbatasannya dan ketidakberdayaannya mengakhiri hidupnya sendiri? Tidak. Hewan biasanya mengakhiri hidup dengan menjadi makanan bagi hewan lain, diburu oleh manusia lalu dimakan atau mati secara alamiah.
Hewan menanggapi keinginan untuk hidup dengan mulia, tetapi hanya manusialah yang dapat mencapai indahnya kehidupan. Hewan hanya tahu desakan yang buta dan naluriah; tetapi manusialah yang dapat melampaui dorongan ini dengan menjadikannya sebagai fungsi yang alamiah. Manusia dapat memilih untuk hidup dalam kecerdasan seni yang tinggi, bahkan dalam kegembiraan rohani surgawi (spiritual). Sedangkan binatang tidak bertanya mengenai tujuan hidup, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan hidup, dan mereka tidak bunuh diri.
Bunuh diri yang dilakukan manusia menunjukkan bahwa makhluk semacam kita telah keluar dari tahap kebinatangan, namun kemudian menuju ke sebuah fakta bahwa ternyata usaha-usaha eksplorasi yang dilakukan manusia telah gagal mencapai level artistik dari pengalaman kehidupan.
Binatang mungkin tidak tahu arti kehidupan, namun manusia tak hanya memiliki kapasitas untuk pengakuan atas pemahaman nilai-nilai dan makna, tapi ia juga menyadari arti dan makna dari sebuah arti itu sendiri – sehingga ia sadar dan memiliki wawasan diri.
Jadi, rintangan-hambatan-tantangan-kegagalan-kehilangan adalah sebuah goresan unik diatas kanvas (kehidupan) yang membuat karya (hidup) anda nantinya akan menghasilkan sebuah mahakarya yang INDAH. Tanpanya, lukisan itu hanya akan berupa garis-garis atau titik-titik yang monoton dan tidak bernilai seni (tidak bermakna).
Kekhawatiran hanya ada dalam PIKIRAN anda sendiri. Sudahkah anda check kenyataan?

Anda mungkin sudah merasa melakukan segenap usaha keras untuk mencari solusi atas problematika yang anda alami namun tetap saja bertemu jalan buntu. Semua sudah terlambat dan hidup anda hancur. Begitu yang anda fikirkan. Dunia diluar diri anda terasa runtuh dan anda tidak menemukan alasan lagi untuk menjalani hidup. Maaf mengecewakan, tetapi semua yang anda cemaskan itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran anda saja. PIKIRAN. Iya, anda memang merasa sangat yakin dengan kondisi negatif itu. Tapi karena anda sendirilah yang mengulangnya terus menerus dalam kepala sehingga secara tidak sadar anda menganggap bahwa semua ‘sepertinya’ ‘kayaknya’ ‘mungkin’ itu menjadi sebuah fakta. Fakta yang cukup untuk mengakhiri hidup anda. Padahal itu hanya ada dikepala dan BUKAN merupakan kenyataan. Jadi, apa yang anda cemaskan? It’s not real. Seperti ketika anda mimpi buruk, apakah esok hari anda tidak keluar dari rumah karena ketakutan?
Carl Jung pernah berkata: Semua tergantung pada bagaimana kita melihat sesuatu, bukan bagaimana sesuatu itu sendiri.
Sayang sekali hidup anda yang luar biasa itu harus anda berhentikan sebelum waktunya

Tidakkah anda pernah berfikir bahwa setiap jiwa yang hadir di dunia ini mempunyai sumbangsihnya tersendiri bagi bumi? Atau anda hanya sempat berfikir bahwa kehadiran anda hanya sekedar untuk hidup saja dan menunggu mati? Bahwa jika anda tidak ada di bumi maka tidak akan berpengaruh sama sekali pada kehidupan? Salah! Kehadiran anda di dunia akan SANGAT berpengaruh, begitu pula dengan ketiadaan anda.
Mungkin ada sebagian dari anda yang ‘iseng’ ingin mengetahui seberapa berharganya anda dihadapan orang-orang sekitar anda ketika anda dikabarkan meninggal. Reaksi kesedihan atau penyesalan dari mereka anda bayangkan sebagai sesuatu yang membahagiakan bagi anda. Bukankah dengan begitu anda ingin dikasihani? Mengapa anda senang dikasihani? Bukankah itu kasihan sekali? Faktanya, tidak ada orang yang tidak bersedih jika seorang diantara mereka meninggal karena itu manusiawi. Jadi, pembuktian yang ingin anda lakukan sepertinya sia-sia. Untuk apa anda menyianyiakan hidup hanya untuk sebuah pembuktian yang semu? Padahal jika anda tidak berhenti sampai disitu, kehidupan yang luar biasa bagi anda telah menanti di depan, tinggal anda menjalaninya dengan melewati badai dan kebahagiaan. That’s Life!

MEMBANTU DIRI SENDIRI

Bantuan paling BESAR yang bisa membantu anda dari usaha bunuh diri adalah ANDA sendiri!
Anda yang harus memiliki KESADARAN awal bahwa hidup anda sebenarnya BERARTI hanya anda BELUM TAHU bagaimana mengatasi rintangannya. Dengan NIAT untuk BERUBAH menjadi LEBIH BAIK dan melakukan TINDAKAN, maka itu adalah LANGKAH BESAR untuk melanjutkan KEHIDUPAN.
Setelah itu, anda bisa meminta bantuan orang terdekat untuk mendengarkan keluh kesah anda, kalau anda merasa mereka tidak cukup membantu anda, bantuan profesional (Psikiater) juga bisa menjadi opsi.  Niat kecil untuk membantu diri sendiri sudah cukup membuktikan bahwa anda MENGHARGAI diri anda sendiri dan menghargai KEHIDUPAN (baca: tanggung jawab) yang sudah dipercayakan Sang Pencipta kepada anda.
So, don’t Jump!


 

Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=617

Read more

change

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , ,


1. Hard Work
“God gives every bird a worm, but he does not throw it into the nest.” –Swedish Proverb
Success requires hard work.  If you’re not working very hard, you’re probably not on the path to success; you may be on a treadmill.  It takes hard work to succeed.  It takes enough discipline to create the right habits, an attitude that doesn’t relent, and a work ethic that few are willing to bear.
2. Take Responsibility
“Possession of the ball is the key to winning in football, basketball, and the game of life.”
–Laing Burns, Jr.
In the game of life you have the ball.  Don’t try to give the ball to fate, luck, or chance.  Take the ball and play the game.
Can you even decide the game you play?  You have the ball, you decide the game, life has been set up for you to win!
3. Act Like You Can’t Fail
“Act as though it is impossible to fail.” –Anonymous
I didn’t say failure was impossible, but you should act like it is.  I didn’t say you wouldn’t fail, but you should act like you won’t.  Why?  Because your attitude will ultimately determine your altitude.  If you see yourself as a success, you will eventually succeed.  Act like the successful do, don’t be timid or shy; play like you’re going to win the game.
4. Fail Miserably
“Unless you’re willing to have a go, fail miserably, and have another go, success won’t happen.” –Phillip Adams
It’s okay to fail; it’s even okay to fail miserably.  The only way to success is on the path of failure.  When you fall, pick yourself up, dust yourself off, learn from your mistakes and keep moving.  You have time to succeed.  If you stay focused in an area where you’re passionate, and where you have a natural advantage, you will succeed.
5. Plan and Succeed
“An Unfailing Success Plan: At each day’s end write down the six most important things to do tomorrow; number them in order of importance, and then do them.” –Anonymous
This is the recipe for success.  Plan your days and then complete your plans.  I would be remiss not to mention that you should complete the most important tasks first.  These are the ones you usually don’t want to do because they require you to leave your comfort zone.  But growth only occurs when you’re uncomfortable, get accustomed to being uncomfortable.  Get comfortable being uncomfortable, soon you will grow, soon you will succeed.
In Closing
Dell Crossword said, “Success is not permanent. The same is also true of failure.”  If you’ve failed in the past, that doesn’t mean you have to fail in the future.  If you follow the steps in this article you will begin to succeed.  Make sure you work in an area that makes you happy, ensure you work towards your passion, and one day, that which you seek, you will find.
Thank you for reading and be sure to pass this article along!

Read more

motivation

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , , ,

If you want to achieve success and make things happen, then you probably know that you need to have the ability to motivate yourself.  Everyone seeks to motivate himself to achieve success and prosperity, but many do not know how.


How do you motivate yourself?
To learn how to motivate yourself, follow the quick guide below:
1.  Have a reason
One of the strongest motives to motivate yourself is that you have a reason.  This reason will inspire you and make you do whatever it takes to challenge all of the obstacles, so you can achieve your goals.  If your desire and reasons are normal, then you might get motivated temporarily.  The strong desires that make you think and dwell on your goals are the strong motives that will keep you moving forward.
2.  Have a great goal
Have a goal that you want to achieve.  Having a great goal is crucial because it is very difficult to motivate yourself if you don’t have a specific goal that you want to accomplish.
3.  Have a specific plan

If you fail to plan, others will plan for you.  Make a plan to achieve your goals.  Be flexible, so you can change the plan if you need to if you encounter an obstacle.
4.  Start with small steps
To get to where you want to be requires serious effort.  You need to start taking small steps, so you can get to where you want to be.  Once started, it will become easy for you to continue moving forward.
5.  Do not compare yourself with others
Comparing yourself with others is an effective way if you want to become frustrated.  It will kill your motivation.  Even if you began with enthusiasm, you will lose energy quickly if you start to only focus on what others accomplished.
6.  Procrastination is your enemy
When you procrastinate, it will slow down your progress.  It is ok to take some time to rest, but to stay procrastinating every day will harm your progress.  Leave your comfort zone and motivate yourself to accomplish every task you have to do.
7.  Learn from your previous mistakes
When you keep focusing on your previous mistakes, you are killing your motivation.  Learning from your mistakes can help motivate you since you know what to avoid.  Today is a new day.  Motivate yourself, so you can achieve what you want and deserve.
Always remember what Elbert Green Hubbard said, “Character is the result of two things: mental attitude and the way we spend our time.”

Read more

terbentuknya persahabatan

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Terbentuknya Persahabatan
Kita semua tentu punya alasan sendiri kenapa memilih untuk membangun persahabatan. Pada umumnya, hubungan itu timbul karena perasaan yang merasa ada keterikatan (attachment): senasib sepenanggungan, sevisi, seminat, dan seterusnya dan seterusnya. Atau ada juga yang karena kesaling-bergantungan (interdependence): membutuhkan bantuan, dukungan, dan lain-lain
.
Dalam prakteknya, persahabatan itu kita bedakan dengan pertemanan. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada intensitas keterlibatan emosi dan komitmen. Karena itu, terkadang tidak cukup kita mengatakan  "friend" untuk menyebut seorang sahabat, tetapi masih kita tambah dengan kata sifat "close friend". Kalau mengacu ke teori hubungan antar pribadi menurut Verderber & Verderber (Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi, 1996) persahabatan itu mungkin istilahnya adalah Deep Friendship. Berdasarkan skala intimasi dan komitmen yang muncul, hubungan antar pribadi itu dikelompokkan menjadi seperti berikut ini:
  1. Aquintance Relationship (perkenalan biasa)
  2. Friendship Relationship (pertemanan karena kesamaan minat, sifat, dan kepentingan).
  3. Role Relationship (hubungan berdasarkan peranan atau kepentingan)
  4. Deep Friendship or Intimate Relationships (Hubungan yang sudah melibatkan emosi dan komitmen)
Dari bukti-bukti di lapangan ditemukan bahwa persahabatan yang bagus itu punya banyak manfaat. Salah satunya adalah bisa mencegah hipertensi (Reardom, Interpersonal Communication: Where Minds Meet, 1987). Secara kesehatan dijelaskan bahwa hipertensi adalah tekanan darah atau denyut jantung yang lebih tinggi dari yang normal karena ada penyempitan pembuluh darah atau karena sebab lain. Bisa juga berguna untuk menurunkan dan mengurangi potensi stress atau depresi.  
Misalnya saja Anda saat ini sedang belajar di lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin tegas. Namanya disiplin, pasti maksudnya baik. Cuma, dalam eksekusi di lapangannya, pasti juga ada kemungkinan munculnya penyimpangan prosedur oleh individu yang tak jarang menimbulkan tekanan, ketegangan, atau himpitan. Dengan memiliki cantolan klub, forum, atau kelompok yang tingkat persahabatannya bagus, itu akan bisa membuat kita lebih sabar dan terhibur.
Kalau melihat temuan Maslow, ternyata salah satu karakteristik self-actualized person itu adalah punya sahabat atau kenalan yang jumlahnya sedikit namun berbobot intimasi dan kualitasnya (Human Development, Vander Zender, 1989). Ini mungkin bisa kita tafsirkan bahwa mereka itu punya sahabat atau orang dekat. Tafsiran ini memang seringkali sinkron dengan realitas yang kerap kita temui di lapangan. Banyak 'kan kita mengenal sejumlah tokoh atau orang-orang tertentu yang berprestasi di bidangnya (di semua level) yang ternyata dulu mereka bersahabat dengan orang-orang tertentu dan persahabatan itu berlangsung sampai sekarang.
Bahkan, kata orang, Tuhan itu kalau mengangkat derajat seseorang jarang secara individu. Tuhan itu mengangkat derajat seseorang sekaligus dengan kelompoknya. Ini tentu refleksi personal yang subyektif. Tapi memang secara rasional, ungkapan itu ada rujukannya. Karena mereka yang bersahabat itu membangun kedekatan lahir dan batin, sudah barang tentu mereka punya mindset yang sama, kultur hidup yang sama, atau karakter yang sama.  Logikanya, ketika orang sudah dibentuk oleh prinsip-prinsip yang sama, maka sangat mungkin mereka mendapatkan nasib yang sama.
"Isi pikiranmu membentuk tindakanmu, tindakanmu membentuk kebiasaanmu, kebiasaanmu membentuk karaktermu, karaktermu membentuk nasibmu."
(Aristotle)
Jadi, yang menyebabkan mereka punya kesamaan nasib, bukan kesamaan kelompoknya, melainkan kesamaan isi pikiran, tindaan, kebiasaan, dan karakter.

 
Kapan Kendor & Kapan Pecah
Dalam prakteknya, persahabatan itu bisa kendor dan bisa pula pecah. Secara umum, kendornya intimasi persahabatan itu mulai muncul ketika masing-masing atau salah seorangnya sudah punya kepentingan dan kebutuhan yang ditandai dengan berubahnya status. Misalnya saja dari mahasiswa ke pekerja atau dari bujangan ke ber-rumahtangga, dari orang biasa ke orang penting.
Kalau menurut ucapannya Sigmund Freud, orang dewasa itu isi pikirannya yang paling dominan hanya dua: to love and to work. Mereka berkonsentrasi pada keluarga (to love) dan kerjaannya (to work). Kohesi persahabatan yang terjadi pada kehidupan orang dewasa biasanya adalah lanjutan dari persahabatan sebelumnya atau karena kepentingan dan kondisi yang dirasakan sangat spesifik (benar-benar senasib).
Ini kerap terjadi pada tenaga kerja atau pelajar di luar negeri. Karena sama-sama senasib, sama-sama dari Indonesia, sama-sama punya kepentingan yang sama, dan merasakan keadaan yang relatif sama, maka persahabatan terbentuk. Tapi, menurut kebiasaan, persahabatan yang terbentuk ketika usia seseorang sudah banyak kepentingan, memang rasanya beda dengan ketika seseorang masih di usia remaja atau dewasa muda.
Nah, lalu kapan persahabatan akan terancam bubar? Masalah yang melatarbelakangi bubarnya persahabatan itu pasti bermacam-macam. Menurut Duck (1985), biasanya fase-fase bubarnya hubungan (disolusi) itu diawali dari proses di bawah ini:
  1. Ketidakpuasan dari hubungan itu. Misalnya saja kita menerima perlakuan yang tidak fair, atau persahabatan yang ada tidak membuahkan hasil-hasil tertentu seperti yang semula dibayangkan. Misalnya saja persahabatan karena narkoba.
  2. Upaya menarik diri. Kita sudah merasa tidak cocok lagi atau ada keinginan untuk menentang atau juga kita menarik diri. Bisa juga setelah kita menghitung untung-rugi, manfaat-keuntungan.
  3. Mempraktekkan keputusan unuk menghindar atau menjauh
Bisa juga disolusi itu terjadi sesuai dengan urutan yang ditemukan Hawk Williams (The essence of managing group & teams, 1996) berikut ini:
  1. Ada problem yang kita jumpai (menurut versi kita) pada dia
  2. Kita membiarkan / tidak menunjukkan problem itu kepada orang yang kita anggap punya masalah dengan kita 
  3. Problem itu tetap muncul atau terus bertambah
  4. Perasaan negatif terus menggunung / mengakumulasi
  5. Kita kehilangan perspektif tentang orang itu.
Dalam organisasi kepemudaan yang rata-rata kita lihat mereka bersahabat, urutan di atas kerap terjadi. Si A dipandang telah sering melakukan tindakan yang melanggar prinsip dasar organisasi. Karena bersahabat, mereka tidak langsung menegur atau mengingatkan secara terang-terangan. Si A sendiri tidak sensitif menangkap gelagat ketidaksetujuan para sahabatnya. Proses ini terus berlanjut dan masing-masing pihak menyimpan bara api ketidaksetujuan dan ketidakpedulian di dadanya. Hingga pada puncaknya, Si A dipecat dari organisasi itu. Jika Si A tidak terima, terjadilah upaya saling menjatuhkan dimana masing-masing orang kehilangan perspektif persahabatannya.  
"Hindarilah bersahabat dengan orang yang membohongimu,
hindarilah bersahabat dengan orang yang memanfaatkanmu,
dan hindarilah bersahabat dengan orang menjerumuskanmu"
(Ali bin Abu Thalib)
 
Beberapa Cara Mempertahankan Persahabatan
Untuk persahabatan yang tengah kendor intimasinya karena ada perbedaan dan perubahan, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:
Pertama, menjaga ritme dan frekuensi hubungan. Jangan terlalu sering atau jangan sama sekali putus hubungan. Aturlah ritme dan frekuensinya. Kenapa? Jika Anda terlalu sering, padahal status dan peranan sahabat Anda itu sudah tidak seperti dulu lagi, akan lain tafsirannya. Tapi jika hubungan itu terputus sama sekali, ini juga tidak tepat.
Jika kebetulan nasib kita ternyata lebih di atas,  akan lebih bagus kalau kita yang berinisiatif memulai memelihara persahabatan itu. Kalau memungkinkan dan itu dibutuhkan, yang perlu kita lakukan bukan semata 'say hello' atau sekedar bernostalgia, melainkan juga perlu merambah ke gagasan-gagasan pemberdayaan, entah untuk sahabat kita yang lain atau untuk orang lain.
Kedua, hormati privasinya. Dengan peranan dan status yang sudah tidak seperti dulu lagi, tentu sahabat kita ini memiliki aturan hidup yang baru, entah itu terkait dengan keluarganya atau pekerjaannya. Agar persahabatan tetap terjaga, yang perlu kita lakukan adalah menghormati privasinya. Bahkan juga tidak saja perlu menghormati dia semata, tetapi juga orang-orang penting di sekitarnya, misalnya saja suami-istri, atasan-bawahan, dan lain-lain.
Apabila kita berada di posisi yang sebaliknya (orang yang dicari), yang perlu kita hindari adalah curiga duluan kalau sahabat kita ini pasti membawa masalah atau mau minta bantuan, hanya memberi nasehat dengan cara merendahkan, hanya memamerkan kekayaan (unjuk-diri), atau memperlakukannya terlalu formal dan menunjukkan kesan terlalu menjaga wibawa.
Ketiga, hindari meminta bantuan dengan nada dan gaya menuntut (demanding) kecuali memang ada suasana psikologis yang mendukung dan itu tidak melibatkan orang lain selain sahabat Anda. Lebih-lebih, karena tuntutan kita tak terpenuhi, kita kemudian menyebarkan gosip tak sedap, misalnya sahabat kita ini sekarang orangnya sudah lain, makin sombong, angkuh, tak peduli, dan lain-lain. Akan lebih sip kalau kita menempuh cara-cara profesional yang tetap mengedepankan etika dan strategi.
Bila kita berada di posisi sebaliknya, hindari mengeluarkan pernyataan semacam tidak bisa, itu sulit, atau itu tidak mungkin dan semisalnya dengan nada untuk menutup berbagai kemungkinan. Kalau kita tidak bisa membantu langsung, kita bisa membantu secara tidak langsung. Kalau kita tidak bisa membantu keinginannya, kita bisa membantu kebutuhannya. Intinya, munculkan semangat untuk membantu. 
Itu semua bisa kita lakukan ketika persahabatan kita dulu adalah persahabatan dalam hal-hal yang positif. Untuk persahabatan yang negatif, tinggalkanlah dengan cara yang baik. Misalnya dulu kita punya geng yang suka narkoba. Karena kita sudah tobat,  kita perlu memutus hubungan dengan sahabat-sahabat yang masih terlibat. Tujuannya adalah agar kita tidak terlibat lagi.
Adapun untuk kita yang masih dalam tahap sedang asyik-asyiknya menjalani hidup dengan persahabatan, beberapa hal yang perlu kita ingat adalah:
  1. Nikmatilah persahabatan yang ada tetapi jangan sampai menghilangkan diri Anda. Jadikan persahabatan saat ini sebagai lahan untuk aktualisasi-diri dengan bertukar pengalaman, pengetahuan, informasi, berbagi perasaan, dan lain-lain.  Termasuk juga jangan sampai persahabatan ini merenggangkan hubungan dengan orang-orang inti: orangtua dan keluarga. Anda tetap bisa bersahabat tanpa harus memunculkan ketegangan dengan orangtua atau keluarga
  2. Inisiatifkan untuk memunculkan gagasan-gagasan positif, entah itu yang berkaitan dengan akademik atau non-akademik. Sebagai acuan, buatlah learning group (kajian akademik, dst), problem solving group (bantuan sosial, dst), atau growth group (pengasahan bakat, dst). Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan Anda di masa mendatang.
  3. Jagalah jangan sampai punya kepentingan yang bertabrakan dengan kepentingan sahabat. Bila itu terjadi, buatlah kesepakatan sefair mungkin dengan melibatkan sahabat lain.
  4. Hormatilah dan jangan "memanfaatkan". Misalnya kita bersahabat dengan si anu karena orangtuanya kaya, terpandang, atau ada agenda politis yang kita sembunyikan untuk memanfaatkan sahabat kita. Bersahabatlah karena kecocokan jiwa. 
  5. Mendukung dan membantu. Banyak orang yang bisa membantu sahabatnya ketika sedang kesusahan tetapi tidak bisa mendukung sahabatnya yang sedang meraih kemajuan. Lawanlah iri dengki di dada dengan cara mendukung dan membantu.  
  6. Kembangkan perspektif yang fair. Biarpun itu sahabatmu, jangan sampai kehilangan perspektif yang fair. Sebab, pasti ada yang positif dan pasti ada yang negatif. Temukan positifnya sebanyak mungkin.
  7. Biasakan saling memberi nasehat dengan cara yang bersahabat, bukan dengan cara menilai, mengoreksi, lebih-lebih membicarakannya di belakang.
"Sahabatmu adalah orang yang sudah tahu banyak tentang dirimu  
dan tetap bersahabat denganmu"

Read more
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Sunday, September 18, 2011

5 Cara Melatih Berpikir Kreatif

Kreatif” hanyalah sebuah kata pendek dan sederhana. Namun, berkat pemikiran kreatif, kesuksesan besar, semisal kemajuan teknologi, industri, dan bidang lain, terjadi. Tidak berlebihan bila dikatakan, berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan. Lalu, bagaimana cara untuk bisa berpikir kreatif? Berikut ini cara yang bisa dicoba: - Berpikir, semua bisa dilakukan Yakinlah, sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita selesaikan. Artinya, harus optimis. Buang ungkapan bernada pesimis. Misal, ”Saya mungkin bisa mengerjakan”. Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, ”Saya pasti bisa mengerjakannya”, ”Bagi saya tidak ada kata menyerah!”. Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu. - Hilangkan cara berpikir konservatif Pola berpikir konservatif ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami kerugian. Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir efektif. Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola berpikir konservatif. Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita mengolahnya menjadi “barang jadi” lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif. Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk ”memperkaya” diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ketiga, harus proaktif. Kita dituntut ”menjemput bola” dalam menghadapi sesuatu, dan bukan ”menunggu bola”. Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas berpikir.

cara berpikir nabi Muhammad

Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut. Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir. Bermula dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya. Cara berpikir yang dilandasi cara pandang tadi akan menjadi penentu, tepat atau tidaknya keputusan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan. Kebijakan seorang pemimpin seringkali berpengaruh terhadap banyak orang dan ruang lingkup serta waktu yang lebih luas. Kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan dalam memilih sebuah kebijakan akan berujung pada kegagalan suatu program atau bahkan kehancuran sebuah negara dan bangsa. Bagaimana cara Muhammad saw berpikir? Sebagian besar dari kita pernah mendengar tentang kepemimpinan seorang Muhammad saw. Dalam masa 22 tahun beliau sanggup mengangkat derajat bangsa Arab dari bangsa jahiliah yang diliputi kebodohan dan keterbelakangan menjadi bangsa terkemuka dan berhasil memimpin banyak bangsa di dunia. Orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya merasakan kelembutan, kasih sayang dan penghormatan dari seorang pemimpin bernama Muhammad. Cara berpikir Muhammad saw yang lurus terlahir dari cara pandangnya yang juga lurus terhadap hidup dan kehidupan ini. Cara berpikir yang lurus tadi menghasilkan sebuah keputusan yang tepat sekaligus dapat diterima semua pihak. Inilah cara berpikir Muhammad saw tersebut : 1. Beliau menomorsatukan fungsi sebagai landasan dalam memilih orang atau sesuatu, bukan penampilan atau faktor-faktor luar lainnya Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Beliau, yakni Abu Bakar Assidiq, Umar ibnu Khattab, Ustman ibnu Affan dan Ali ibnu Abi Tholib adalah gambaran jelas kemampuan Muhammad saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinan Muhammad saw, yaitu : - Abu Bakar Assidiq yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad saw, adalah sahabat utama. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin. - Umar ibnu Khattab bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Ini bermakna kekuasaan akan efektif apabila ditunjang oleh semangat pembelaan terhadap kebenaran dengan penuh keberanian dan ditunjang kekuatan yang memadai. - Ustman ibnu Affan adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad saw. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah pendanaan. Sebuah kepemimpinan akan lebih lancar apabila ditunjang kondisi ekonomi yang baik dan keuangan yang lancar. Dan juga dibutuhkan pengorbanan yang tulus dari pemimpinnya demi kepentingan orang banyak. - Ali ibnu Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. Kepemimpinan akan menjadi semakin kuat karena ada regenerasi. Tidak ada pemimpin yang berkuasa selamanya, dia perlu menyiapkan penerus agar rencana-rencana yang belum terlaksana bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya. 2. Beliau mengutamakan segi kemanfaatan daripada kesia-siaan Tidak ada perkataan, perbuatan bahkan diamnya seorang Muhammad yang menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Pilihan terhadap kurma, madu, susu kambing dan air putih sebagai makanan yang bermanfaat untuk tubuh adalah salah satu contohnya. Bagaimana sukanya Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain adalah contoh yang lain. 3. Beliau mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat, maka beliau menyuruh untuk membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya. 4. Beliau lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah, Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semua kaum Muslimin Makkah berangkat terlebih dulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah. Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan : Bahwa barang siapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasulnya. Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau di mata kelompok-kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi. 5. Beliau memilih jalan yang tersukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya Apabila ada orang yang lebih memilih mempersulit diri sendiri dari pada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul. Begitu pun dengan Muhammad saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan shalat sampai bengkak kakinya. Ketika dia menyampaikan perintah Allah Swt kepada umat untuk mengeluarkan zakat hartanya hanya sebesar 2,5 bagian saja dari harta mereka, dia bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan dan tidak menyisakan untuknya dan keluarganya, kecuali rumah yang menempel di samping mesjid, satu dua potong pakaian dan beberapa butir kurma atau sepotong roti kering untuk sarapan. Sampai-sampai tidurnya hanya di atas pelepah korma. Seperti pernah dia bertanya kepada Aisyah ra. Istrinya apakah hari itu ada sepotong roti kering atau sebiji korma untuk dimakan. Ketika istrinya berkata bahwa tidak ada semua itu, maka Muhammad Saw mengambil batu dan mengganjalkannya ke perut untuk menahan lapar. 6. Beliau lebih mendahulukan tujuan akhirat daripada maksud duniawi Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Muhammad Saw menunjukkan bahwa jalan akhirat itu lebih utama daripada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya ini. Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuan, maka tidak ada yang sanggup menggoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran. “Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.” Demikian Muhammad Saw berkata kepada para pemimpin Quraisy yang mencoba menyuap Muhammad Saw dengan harta benda, menjanjikan kedudukan tertinggi di kalangan suku-suku Arab dan juga menyediakan wanita-wanita cantik asalkan Muhammad Saw mau menghentikan dakwahnya di kalangan mereka. Apakah kita dan pemimpin-pemimpin kita sudah berpikir seperti itu?

system thinking

System Thinking Berpikir Sistem
When you have problem, what do you do? How do you think? Are you trying to cut the problem into smaller pieces then solve each pieces? For example: if you have a melon, then four people want it, each people have their own needs, one may need bigger part than the others, others may just want average part or smaller part. Will you ask one of them, cut it, then ask the others? If so, one will get the rest, that may not meet his/her needs. Ketika mempunyai masalah, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu akan memotong masalah itu menjadi bagian-bagian kecil kemudian memecahkan setiap bagian? Contoh: kalau kamu punya sebuah melon, setiap orang punya kebutuhan masing-masing. Akankah kamu bertanya pada orang pertama berapa banyak yang dibutuhkan, memotongnya, lalu bertanya kepada yang lain? Jika begitu, seseorang akan mendapat sisanya dan sisa itu mungkin tidak mencukupi kebutuhannya (dia mendapat bagian yang tidak adil). Cara berpikir mempengaruhi tindakan manusia sehari-hari. Russell L. Ackoff, seorang filsuf, berpendapat bahwa ada dua ide utama yang mendasari cara berpikir ilmiah tradisional. How we think influences human's behaviour everyday. Russell L. Ackoff, a philosopher, thinks that traditionally scientific system thinkings are based on two main ideas. Ide pertama didasarkan pada pemahaman bahwa semua fenomena dapat diterangkan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat yang menyatakan bahwa setiap hal mempunyai penyebab jika penyebab tersebut perlu dan cukup. Cara berpikir ini tidaklah memadai sebab seringkali mustahil bagi kita untuk dapat menemukan hubungan sebab-akibat satu demi satu antar komponen dalam sistem. First idea is based on understanding about every phenomenon can be explained with cause-effect corelation which says that every thing has a cause if the cause is necessary and sufficient. This system thinking is not enough, because it's often impossible for us to find the cause-effect corelation for every component in the system. Ide kedua disebut reduksionis yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia (serta setiap pengalaman tentang dunia) dapat direduksi, didekomposisi, didisasembli, atau dibagi-bagi sehingga diperoleh bagian yang tak dapat lagi dibagi-bagi. Penyelesaian masalah dari setiap bagian ini dianggap dapat menyelesaikan keseluruhan masalah. Second idea called reductionist which stated that everything in this world (and every experience about the world) can be reduced, decomposed, disassemblied or divided until it becomes parts that can't be divided anymore. The problem solution for every part is assumed to be able to solve the whole problem. Coba kita lihat contoh cara berpikir ilmiah reduksionis secara agak ekstrim: Let's see some examples which are rather extreme: 1. Seorang ayah mengidap penyakit diabetes dan lever (hati). Untuk memecahkan masalah ini, sang anak membagi masalah ini ke dalam dua bagian, yaitu sakit diabetes dan sakit lever. Suatu hari sang anak membawa sang ayah ke dokter ahli penyakit diabetes untuk mengatasi masalah pertama. Keesokan harinya ke dokter ahli penyakit lever untuk mengatasi masalah kedua. Kedua dokter tentu memberi obat yang berbeda, dokter ahli diabetes memberi obat untuk menurunkan kadar gula dalam darah sedangkan dokter ahli lever memberi obat untuk menaikkan kadar gula agar lever dapat berfungsi kembali. Pada masalah ini, kesalahan ada pada semua pihak, mengapa baik anak maupun orangtuanya tidak memberitahu tiap dokter bahwa ayahnya mempunyai penyakit lain dan mengapa sang dokter tidak menanyakan obat apa yang sedang dikonsumsi oleh sang ayah. Mungkin itulah akibat cara berpikir reduksionis. 1. A father has problems with diabetes and liver. To solve this problem, his son divide this problem into two parts, which is diabetes and liver. One day, his son took him to a doctor to cure his diabetes to solve the first part (the first problem). Another day, his son took him to another doctor to cure his liver to solve the second part (the second problem). Both doctors surely gave different presriptions. The diabetes doctor gave him medicines to lower glucose level in his blood, another doctor gave him other medicines to increase glucose level in his blood so his liver can work again. In this problem, mistakes was done by all parties, why both the son and the father did not tell the doctors about the father's whole problem and why the doctor did not ask what medicines is being consumed by the father. Maybe that's the result of reductionist system thinking. 2. Ketika kita mengerjakan soal ujian esai, mungkin setiap soalnya terdiri dari beberapa pertanyaan, lebih baik jika kita membaca semua pertanyaan yang berkaitan dengan soal tersebut terlebih dulu sebelum kita mengerjakannya, karena seringkali ketika kita mengerjakan soal tersebut satu per satu, ketika kita melangkah ke soal berikutnya mungkin kita baru benar-benar mengerti apa yang diminta penguji / pembuat soal. 2. When we do an essay test, a problem may not consist only one question, there may be some questions, it's better if we read the all questions that are related to the question first then answer the questions, because it often happens when we answer the question one by one, when we do the next question, that time we may just really understand what the examiners want. 3. Ini adalah contoh yang lebih umum, ketika kita menterjemahkan kalimat antar bahasa, jika kita artikan kata-katanya satu per satu tanpa melihat konteks kalimatnya, kemudian menyatukannya, hasil terjemahannya bukan tidak mungkin jadi aneh. contoh: Inggris - Indonesia : My grandfather are going to dance with her grandmother in a ballroom. Milik saya (My) besar ayah (grandfather) adalah (are) going (pergi) ke (to) dansa (dance) dalam (in) a (sebuah) bola ruang (ballroom). 3. This is a more common example, when we translate sentences from one language to another, if we translate the word one by one without seeing the sentence context, then assembling it, the result is not impossibly becoming weird. 4. Sepasang suami-istri hidup di negara dengan empat musim. Suatu ketika, musim dingin tiba. Kemajuan teknologi telah mendukung terciptanya selimut pemanas yang bisa diatur suhunya. Pasutri (pasangan suami istri) tersebut pun membeli satu selimut tersebut untuk mereka berdua. Selimut ini memang didisain untuk pasangan suami istri. Keunggulan selimut listrik ini, temperatur suhu selimut bagian kanan dan kiri bisa diatur oleh masing-masing penggunanya (jadi suhu selimut sebelah kanan mungkin berbeda dengan suhu selimut sebelah kiri). Suatu saat Sang suami tidur bersama istrinya. Di malam hari, sang suami merasa agak kedinginan, lalu dia berpikir, "Ah, pasti istri saya kedinginan.", karena cintanya pada sang istri, dia pun menaikkan suhu selimut istrinya. Tak lama kemudian, sang suami pun tertidur. Istri sang suami merasa agak kepanasan, dia pun berpikir, "Ah, suami saya pasti kepanasan." Karena cintanya pada sang suami, sang istri pun menurunkan suhu selimut suaminya. Akhirnya... mungkin saja sang istri mati kepanasan, sedangkan sang suami mati kedinginan. 4. I watched a movie about an otaku. He loves a girl. But one day, his friends ask him to see an exebition called "Comixet". He told the girl that he has to work but actually he came to see the exebition, having fun with his friends in his otaku dress. But, suddenly he met the girl, the girl saw him in his otaku dress then she told him not to meet her again. He think it is his fault that he is an otaku. He throw away all his toys; gundams, models, comics, etc. Then he told the girl that he has left his otaku behaviour, but the girl still can't forgive him. Actually, he is an otaku, that is not a problem, the main problem is his small lie. How the story continues... watch "Densha Otoko"! Nah, itulah mengapa sistem berpikir seperti itu dianggap kuno. Jaman sekarang ini, kedua ide tersebut mungkin tidak tepat lagi untuk diterapkan karena banyak masalah tidak dapat dipecahkan dengan kedua ide tersebut, ide yang tepat adalah dengan cara berpikir sistem, jadi kita memikirkan penyelesaian untuk keseluruhan masalah sekaligus, bukan per bagiannya. So, that's why that kind of system thinking is considered left behind. In the present times, when we have a problem, we should not think like our ancestor did, because many problems may not be possible to be solved by those two, the better idea is thinking with "system thinking", so we think to get a solution for the whole problem, not by its parts.

8 tipe kepribadian manusia

Berdasarkan teori Jung dari jurnalnya “Psychological Types”, terdapat perbedaan yang mendasar dalam tipe kepribadian. Berikut merupakan beberapa tipe kepribadian dari teori Jung tersebut. Ekstrovert VS Introvert Seseorang dapat menjadi ekstrovert atau introvert, tergantung dengan arah aktivitas mereka. Extrovert adalah orang yang berpikir mengenai hal-hal secara objektif dan luas, sedangkan Introvert lebih berpikir ke arah subjektif atau dirinya sendiri. Perbedaan kedua kepribadian tersebut seperti di bawah ini : Ekstrovert * Tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar mereka * Terbuka dan seringkali banyak bicara * Membandingkan pendapat mereka dengan pendapat orang lain * Seperti aksi dan inisiatif * Mudah mendapat teman atau beradaptasi dalam grup baru * Mengatakan apa yang mereka pikirkan * Tertarik dengan orang-orang baru * Mudah menolak bersahabat dengan orang-orang yang tidak diinginkannya Introvert * Tertarik dengan pikiran dan perasaannya sendiri * Memerlukan teritori mereka sendiri * Tampil dengan muka pendiam dan tampak penuh pemikiran * Biasanya tidak mempunyai banyak teman * Sulit membuat hubungan baru * Menyukai konsentrasi dan kesunyian * Tidak suka denga kunjungan yang tidak diharapkan dan tidak suka mengunjungi orang lain * Bekerja dengan baik sendirian Logika VS Intuisi Berpikir secara logika adalah kemampuan mengambil informasi berdasarkan kualitas fisik dan pengaruhnya terhadap informasi lainnya. Intuisi atau suara hati merupakan kemampuan untuk mengambil informasi berdasarkan potensi tersembunyi dan kemungkinan eksistensinya. Perbedaan umum keduanya sebagai berikut : Tipe Penuh Logika * Melihat semua orang dan memikirkan semua hal * Merasa hanya hidup di sini dan hari ini * Cepat beradaptasi dengan berbagai situasi * Senang dengan sensasi fisik * Senang dengan masalah practical dan aktif * Realistis dan percaya diri Tipe Intuisi * Mengarah ke masa lalu atau masa depan * Khawatir mengenai masa depan lebih dari yang sekarang * Tertarik dengan semua hal baru dan tidak biasa * Tidak suka rutinitas * Lebih atraktif dalam teori daripada praktek * Sering ragu-ragu Berpikir VS Merasakan Berpikir merupakan kemampuan untuk mengambil informasi berdasarkan sturktur dan fungsinya. Sedangkan merasakan adalah kemampuan untuk mengambil informasi berdasarkan kondisi penuh semangat. Perbedaan umum dari keduanya adalah : Tipe Pemikir * Tertarik dengan system, struktur, dan pola * Mengekspos apapun dalam analisi logis * Relatif dingin dan tidak emosional * Mengevaluasi hal dengan intelektualitas dan antara benar atau salah * Memiliki kesulitan untuk mengungkapkan perasaan * Tidak suka berargumen secara terbuka atau memulai perselisihan Tipe Perasa * Tertarik dengan orang dan perasaan mereka * Mudah mengungkapkan mood-nya kepada orang lain * Menaruh perhatian besar terhadap cinta dan keinginannya yang besar * Mengavaluasi hal dengan penuh etika dan antara baik atau buruk * Mudah tersentuh atau menggunakan manipulasi emosional * Ramah dan sering memberikan pujian untuk orang-orang yang menyenangkan Pasrah VS Penuntut Tipe Pasrah termotivasi dalam aktivitas dari perubahan suatu situasi. Tipe penuntut termotivasi ke dalam aktivitas hasil keputusan mereka dari perubahan situasi. Perbedaan umum keduanya adalah : Tipe Pasrah * Bergerak secara impulsive mengikuti situasi * Dapat memulai banyak hal dalam sekali waktu, namun tanpa penyelesaiannya * Lebih memilih kemerdekaan daripada memenuhi kewajiban * Selalu ingin tahu dan suka hal baru * Bekerja produktif tergantung mood * Sering bertindak tanpa persiapan Tipe Penuntut * Tidak suka meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban * Bekerja keras dan selalu menyelesaikannya dengan baik * Tidak suka mengubah apa yang sudah menjadi keputusannya * Relatif stabil dalam bekerja * Mengikuti aturan dan disiplin sumber: beritanet.com

kepribadian manusia

Kepribadian yang bagaimana dapat merubah diri kita pada kondisi dan keadaan tertentu, menurut ilmu psykologi ada 3 tipe kepribadian manusia yaitu introvert, ekstrovert dan ambivert. Berdasarkan teori Jung dari jurnalnya “Psychological Types”, terdapat perbedaan yang mendasar dalam tipe kepribadian. Berikut merupakan beberapa tipe kepribadian dari teori Jung tersebut. Seseorang dapat menjadi ekstrovert atau introvert, tergantung dengan arah aktivitas mereka. Extrovert adalah orang yang berpikir mengenai hal-hal secara objektif dan luas, sedangkan Introvert lebih berpikir ke arah subjektif atau dirinya sendiri. Perbedaan kedua kepribadian tersebut seperti di bawah ini : A. Ekstrovert. •Tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar mereka •Terbuka dan seringkali banyak bicara •Membandingkan pendapat mereka dengan pendapat orang lain •Seperti aksi dan inisiatif •Mudah mendapat teman atau beradaptasi dalam grup baru •Mengatakan apa yang mereka pikirkan •Tertarik dengan orang-orang baru •Mudah menolak bersahabat dengan orang-orang yang tidak diinginkannya B. Introvert. •Tertarik dengan pikiran dan perasaannya sendiri •Memerlukan teritori mereka sendiri •Tampil dengan muka pendiam dan tampak penuh pemikiran •Biasanya tidak mempunyai banyak teman •Sulit membuat hubungan baru •Menyukai konsentrasi dan kesunyian •Tidak suka denga kunjungan yang tidak diharapkan dan tidak suka mengunjungi orang lain •Bekerja dengan baik sendirian C.Ambivert. Selain dua karakter yang disebutkan di atas, juga ada karakter lain dalam pembedaan psikologi. Ambivert, adalah tipe karakter yang memiliki keseimbangan psikologi antara introvert dan extrovert. tipe ambivert seperti karakter extrovert, suka bersosialisasi dan berkumpul dengan banyak orang dan membicarakan banyak hal. di sisi lain mereka juga suka menyendiri dan menjauh dari lingkungan, seperti tipe introvert. Biasanya tipe ini yang menjadi penghubung antara tipe extrovert dan introvert. dalam hal profesi, karakter ambivert lebih cocok sebagai seorang psikolog. Karakter introvert bukan berarti karakter dengan pemikiran tertutup, memang itu disebabkan karena tipe introvert terlihat kurang expresif di dunia luar. sebagian dari para inrovert menyukai pembicaraan yang bersifat diskusi atau bahasan-bahasan yang dapat memicu pengembangan dalam pikirannya. dalam situasi seperti ini bisa saja seorang introvert bersikap lebih aktif dan expresif dibanding extrovert. Di dunia luar mungkin para extrovert akan lebih bisa menguasai panggung dibanding para introvert, dengan karakternya yang mudah bersosialisasi mereka dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, pengajar yang menyenangkan, dan kegiatan komunikatif lainnnya. Sedangkan karakter introvert lebih cocok dengan kegiatan yang bersifat individual seperti melukis, menulis buku, bermusik, program komputer, dan semacamnya.

4 tipe kepribadian dalam dunia psikologis

KOLERIS pada umumnya mempunyai: KEKUATAN: * Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif * Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan * Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target * Bebas dan mandiri * Berani menghadapi tantangan dan masalah * "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini". * Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat * Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas * Membuat dan menentukan tujuan * Terdorong oleh tantangan dan tantangan * Tidak begitu perlu teman * Mau memimpin dan mengorganisasi * Biasanya benar dan punya visi ke depan * Unggul dalam keadaan darurat KELEMAHAN: * Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis) * Senang memerintah * Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai * Menyukai kontroversi dan pertengkaran * Terlalu kaku dan kuat/ keras * Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik * Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci * Sering membuat keputusan tergesa-gesa * Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain * Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan * Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya) * Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf * Mungkin selalu benar tetapi tidak populer kalau MELANKOLIS: KEKUATAN: * Analitis, mendalam, dan penuh pikiran * Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal * Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis) * Sensitif * Mau mengorbankan diri dan idealis * Standar tinggi dan perfeksionis * Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi) * Hemat * Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif) * Kalau sudah mulai, dituntaskan. * Berteman dengan hati-hati. * Puas di belakang layar, menghindari perhatian. * Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi * Sangat memperhatikan orang lain KELEMAHAN: * Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan) * Mengingat yang negatif & pendendam * Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah * Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan * Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah * Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..) * Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan * Hidup berdasarkan definisi * Sulit bersosialisasi * Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya * Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang) * Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian) * Memerlukan persetujuan kalau PLEGMATIS: KEKUATAN: * Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh * Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik * Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana * Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi) * Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi * Penengah masalah yg baik * Cenderung berusaha menemukan cara termudah * Baik di bawah tekanan * Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan * Rasa humor yg tajam * Senang melihat dan mengawasi * Berbelaskasihan dan peduli * Mudah diajak rukun dan damai KELEMAHAN: * Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru * Takut dan khawatir * Menghindari konflik dan tanggung jawab * Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar) * Terlalu pemalu dan pendiam * Humor kering dan mengejek (Sarkatis) * Kurang berorientasi pada tujuan * Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri * Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat * Tidak senang didesak-desak * Menunda-nunda / menggantungkan masalah. kalau SANGUINIS: KEKUATAN: * Suka bicara * Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif * Antusias dan ekspresif * Ceria dan penuh rasa ingin tahu * Hidup di masa sekarang * Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan) * Berhati tulus dan kekanak-kanakan * Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara) * Umumnya hebat di permukaan * Mudah berteman dan menyukai orang lain * Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian * Menyenangkan dan dicemburui orang lain * Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam) * Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan * Menyukai hal-hal yang spontan KELEMAHAN: * Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras) * Membesar-besarkan suatu hal / kejadian * Susah untuk diam * Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank) * Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele * RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek) * Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias) * Mudah berubah-ubah * Susah datang tepat waktu jam kantor * Prioritas kegiatan kacau * Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas * Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya * Egoistis * Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama * Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money". dari: sahabatjiwa.multiply.com

tipe kepribadian manusia

Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu tersebutlah yang lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa sesungguhnya diri kita ini?” Enneagram Selain dengan mengikuti tes-tes psikologi, ada satu metode yang bisa digunakan untuk mengetahui kepribadian yaitu menggunakan enneagram. Enneagram diartikan sebagai “sebuah gambar bertitik sembilan”. Metode ini dikabarkan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah, hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Kepribadian manusia dalam sistem enneagram, terbagi menjadi 9 tipe. Renee Baron dan Elizabeth Wagele, lewat buku yang berjudul enneagram, berusaha untuk menjelaskan kesembilan tipe tersebut agar lebih mudah dimengerti. Sembilan Tipe Kepribadian Manusia Kesembilan tipe kepribadian tersebut adalah : Tipe 1 perfeksionis Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah. Tipe 2 penolong Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan. Tipe 3 pengejar prestasi Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan. Tipe 4 romantis Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja. Tipe 5 pengamat Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban. Tipe 6 pencemas Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak. Tipe 7 petualang Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita. Tipe 8 pejuang Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah. Tipe 9 pendamai Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik. Panah dan Sayap
panah dan sayap dalam enneagram Setiap tipe pada enneagram berhubungan langsung dengan 2 tipe lainnya yang disebut sebagai panah. Tipe 1 berhubungan dengan tipe 7 dan 4, tipe 2 dengan tipe 8 dan 4, dst (lihat gambar). Dinamika hubungan antar tipe ini terjadi sebagai berikut : jika dalam keadaan rileks tipe 1 akan mengambil karakter positif dari tipe 7, dan jika dalam keadaan tertekan akan mengambil karakter negatif dari panah sebaliknya, yaitu tipe 4. Sebagai contoh, tipe 1 yang mengambil sisi positif tipe 7 tidak akan terlalu mengkritik diri serta lebih menerima diri, lebih antusias dan optimis, bertindak lebih alami dan spontan. Sedangkan jika sedang tertekan akan mengarahkan kemarahan ke dalam diri sendiri lalu menjadi depresi, hilang kepercayaan diri, dan menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Contoh lain, tipe 2 yang sedang rileks, akan mengambil karakter positif dari tipe 4, dan jika sedang tertekan akan mengambil karakter tipe 8. Dan begitu seterusnya dinamika hubungan pada tipe-tipe lainnya. Selain panah, kepribadian kita dapat tercampur atau terpengaruhi oleh tipe di kanan dan kiri kita. Tipe di kanan dan kiri kita ini disebut dengan sayap. Contohnya, tipe 1 dengan sayap 2 yang lebih kuat, cenderung hangat, lebih suka menolong, mengkritik dan menguasai. Sedangkan tipe 1 dengan sayap 9 lebih kuat, cenderung lebih tenang, lebih santai, objektif dan menjaga jarak. Tipe-tipe Enneagram dan Myers-Briggs Type Indicator Bagian akhir buku Enneagram ini berisi penjelasan tentang tipe-tipe kepribadian yang sudah diakui, yaitu Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan kecocokannya dengan tipe-tipe dalam enneagram. MBTI sendiri adalah suatu inventori kepribadian yang berlandaskan pemikiran dari Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Inventori ini mengukur kecenderungan individu berdasarkan empat skala : e Terakhir, terdapat tabel hubungan antara sistem dalam enneagram dan MBTI.

Friday, September 16, 2011

dear God

Dear God,
In Your majesty, You create differences.
In my arrogance, I question Your wisdom.
In Your mistery, You create temptation.
In my inferiority, You make me more than i am.

So here i am..

Surrender me in the agony of Your love.
Surrender me in the irony of Your law.
lead me to the joy of love redivined.
Teach me how to love You more..

Friday, June 10, 2011

Do you know someone who needs hours alone every day? Who loves quiet conversations about feelings or ideas, and can give a dynamite presentation to a big audience, but seems awkward in groups and maladroit at small talk? Who has to be dragged to parties and then needs the rest of the day to recuperate? Who growls or scowls or grunts or winces when accosted with pleasantries by people who are just trying to be nice?
If so, do you tell this person he is "too serious," or ask if he is okay? Regard him as aloof, arrogant, rude? Redouble your efforts to draw him out?
If you answered yes to these questions, chances are that you have an introvert on your hands—and that you aren't caring for him properly. Science has learned a good deal in recent years about the habits and requirements of introverts. It has even learned, by means of brain scans, that introverts process information differently from other people (I am not making this up). If you are behind the curve on this important matter, be reassured that you are not alone. Introverts may be common, but they are also among the most misunderstood and aggrieved groups in America, possibly the world.
I know. My name is Jonathan, and I am an introvert.
Oh, for years I denied it. After all, I have good social skills. I am not morose or misanthropic. Usually. I am far from shy. I love long conversations that explore intimate thoughts or passionate interests. But at last I have self-identified and come out to my friends and colleagues. In doing so, I have found myself liberated from any number of damaging misconceptions and stereotypes. Now I am here to tell you what you need to know in order to respond sensitively and supportively to your own introverted family members, friends, and colleagues. Remember, someone you know, respect, and interact with every day is an introvert, and you are probably driving this person nuts. It pays to learn the warning signs.
What is introversion?
In its modern sense, the concept goes back to the 1920s and the psychologist Carl Jung. Today it is a mainstay of personality tests, including the widely used Myers-Briggs Type Indicator. Introverts are not necessarily shy. Shy people are anxious or frightened or self-excoriating in social settings; introverts generally are not. Introverts are also not misanthropic, though some of us do go along with Sartre as far as to say "Hell is other people at breakfast." Rather, introverts are people who find other people tiring.
Extroverts are energized by people, and wilt or fade when alone. They often seem bored by themselves, in both senses of the expression. Leave an extrovert alone for two minutes and he will reach for his cell phone. In contrast, after an hour or two of being socially "on," we introverts need to turn off and recharge. My own formula is roughly two hours alone for every hour of socializing. This isn't antisocial. It isn't a sign of depression. It does not call for medication. For introverts, to be alone with our thoughts is as restorative as sleeping, as nourishing as eating. Our motto: "I'm okay, you're okay—in small doses."

How many people are introverts?
I performed exhaustive research on this question, in the form of a quick Google search. The answer: About 25 percent. Or: Just under half. Or—my favorite—"a minority in the regular population but a majority in the gifted population."

Are introverts misunderstood? Wildly. That, it appears, is our lot in life. "It is very difficult for an extrovert to understand an introvert," write the education experts Jill D. Burruss and Lisa Kaenzig. (They are also the source of the quotation in the previous paragraph.) Extroverts are easy for introverts to understand, because extroverts spend so much of their time working out who they are in voluble, and frequently inescapable, interaction with other people. They are as inscrutable as puppy dogs. But the street does not run both ways. Extroverts have little or no grasp of introversion. They assume that company, especially their own, is always welcome. They cannot imagine why someone would need to be alone; indeed, they often take umbrage at the suggestion. As often as I have tried to explain the matter to extroverts, I have never sensed that any of them really understood. They listen for a moment and then go back to barking and yipping.

Are introverts oppressed?
I would have to say so. For one thing, extroverts are overrepresented in politics, a profession in which only the garrulous are really comfortable. Look at George W. Bush. Look at Bill Clinton. They seem to come fully to life only around other people. To think of the few introverts who did rise to the top in politics—Calvin Coolidge, Richard Nixon—is merely to drive home the point. With the possible exception of Ronald Reagan, whose fabled aloofness and privateness were probably signs of a deep introverted streak (many actors, I've read, are introverts, and many introverts, when socializing, feel like actors), introverts are not considered "naturals" in politics.
Extroverts therefore dominate public life. This is a pity. If we introverts ran the world, it would no doubt be a calmer, saner, more peaceful sort of place. As Coolidge is supposed to have said, "Don't you know that four fifths of all our troubles in this life would disappear if we would just sit down and keep still?" (He is also supposed to have said, "If you don't say anything, you won't be called on to repeat it." The only thing a true introvert dislikes more than talking about himself is repeating himself.)
With their endless appetite for talk and attention, extroverts also dominate social life, so they tend to set expectations. In our extrovertist society, being outgoing is considered normal and therefore desirable, a mark of happiness, confidence, leadership. Extroverts are seen as bighearted, vibrant, warm, empathic. "People person" is a compliment. Introverts are described with words like "guarded," "loner," "reserved," "taciturn," "self-contained," "private"—narrow, ungenerous words, words that suggest emotional parsimony and smallness of personality. Female introverts, I suspect, must suffer especially. In certain circles, particularly in the Midwest, a man can still sometimes get away with being what they used to call a strong and silent type; introverted women, lacking that alternative, are even more likely than men to be perceived as timid, withdrawn, haughty.

Are introverts arrogant?
Hardly. I suppose this common misconception has to do with our being more intelligent, more reflective, more independent, more level-headed, more refined, and more sensitive than extroverts. Also, it is probably due to our lack of small talk, a lack that extroverts often mistake for disdain. We tend to think before talking, whereas extroverts tend to think by talking, which is why their meetings never last less than six hours. "Introverts," writes a perceptive fellow named Thomas P. Crouser, in an online review of a recent book called Why Should Extroverts Make All the Money? (I'm not making that up, either), "are driven to distraction by the semi-internal dialogue extroverts tend to conduct. Introverts don't outwardly complain, instead roll their eyes and silently curse the darkness." Just so.
The worst of it is that extroverts have no idea of the torment they put us through. Sometimes, as we gasp for air amid the fog of their 98-percent-content-free talk, we wonder if extroverts even bother to listen to themselves. Still, we endure stoically, because the etiquette books—written, no doubt, by extroverts—regard declining to banter as rude and gaps in conversation as awkward. We can only dream that someday, when our condition is more widely understood, when perhaps an Introverts' Rights movement has blossomed and borne fruit, it will not be impolite to say "I'm an introvert. You are a wonderful person and I like you. But now please shush."

How can I let the introvert in my life know that I support him and respect his choice?
First, recognize that it's not a choice. It's not a lifestyle. It's an orientation.
Second, when you see an introvert lost in thought, don't say "What's the matter?" or "Are you all right?"
Third, don't say anything else, either.

Jonathan Rauch is a correspondent for The Atlantic and a senior writer for National Journal.

introvert? why not


Saat teman-teman saya senang menghabiskan waktu dengan bergerombol kesana kemari, saya lebih suka berteman intim dan setia dengan dua hingga tiga orang saja. Saat teman-teman saya mulai membicarakan ini dan itu, pamer, basa-basi, mengoceh dan lain sebagainya dengan mudah, saya cenderung diam dan tidak akan balas berbasa-basi. Di saat seperti itu, saya membaca obrolan mereka, membaca bahasa tubuh mereka, dan hal itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuk saya.

Di saat teman-teman saya senang dengan segala keramaian (konser musik, pertandingan antar sekolah, jalan-jalan ke mall saat weekend) yang menurut mereka bagus untuk menyegarkan diri, saya justru layu bila menjadi bagian dari keramaian itu. Saya punya cara sendiri untuk menyegarkan diri. Saya akan segar dengan menyendiri, dekat dengan alam, jauh dari hingar-bingar manusia.


I'm weird. 
Yes, something wrong with me

Teman-teman saya, mereka lebih bisa diterima dalam pergaulan, sedangkan saya tidak. Lalu, saya berpura-pura untuk mengikuti arus, agar bisa diterima oleh standar masyarakat. Saya berbicara ini itu, bergerombol dalam keramaian, menjadi penyemangat pertandingan antar sekolah. Then, am I happy? No. Saya tidak bisa menyehatkan kepala saya dalam dunia yang berisik. Saya tidak bisa lagi mendengar semesta berbicara dengan saya. Saat saya sadar bahwa saya tidak nyaman dengan berpura-pura, saya kembali menjadi 'Si aneh'.

Si aneh yang senang sendirian.
Si aneh yang jarang bicara.
Si aneh yang suka berpikir.
Si aneh yang sering di cap sombong.
Si aneh yang harus dirayu agar mau diajak 'bersenang-senang'.

Menyedihkan? Haha... saat itu saya kehilangan arah (ceile bahasa saya). Lalu saya mencari pembenaran, apa yang terjadi dengan saya. Mungkin saya ini anti sosial, mungkin otak saya terguncang waktu jatuh dari pohon jambu, mungkin saya mengalami gangguan jiwa, mungkin saya ini alien, mungkin saya ini jelmaan siluman, dan lain sebagainya.

Akhirnya, setelah menikmati sajian Psikologi dari berbagai sumber, saya menyadari bahwa saya ini tidak gila, saya bukan siluman, saya bukan alien (kalau yang ini masih dipertanyakan). Saya melakukan tes ini dan itu. Hasilnya... CIHUY! Saya ini normal. Hanya saja, saya diberkahi sesuatu yang kurang bisa diterima oleh standart kelayakan masyarakat.

Lima milyar penduduk dunia.
Saya hanya menjadi bagian 11,6% diantara mereka.
Minoritas. Akhirnya, saya menjadi seorang minoritas.
Akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya. Not bad.

Dan dengan ini saya umumkan bahwa:

Saya positif introvert.
Ilmu psikologi mempelajari perilaku manusia untuk dibagi/digolongkan menjadi beberapa bagian. Sebagian dari kita mungkin mengenal istilah populer ini: sanguin, melankolis, flekmatis, dan kolerik. Ada juga pemilahan jenis sifat manusia yang saat ini sering dibicarakan, yaitu Eneagram. Sebenarnya ada banyak penggolongan lain, Introvert dan Ekstrovert termasuk di dalamnya, hanya saja istilah ini belum terlalu populer di lingkungan saya (mungkin juga anda).

Pada awalnya, saya mengira setelah seseorang mengetahui kemana kecenderungan sifat mereka, introvert maupun ekstrovert, ya sudah. Oh saya introvert, selesai. Ternyata tidak sesimpel itu, karena setelah saya pelajari, ada jurang yang sangat lebar diantara keduanya. Mari kita pahami perbedaan keduanya. Anda termasuk yang mana?

Ekstrovert:

  • Energi mereka didapat dari saling berinteraksi dengan orang lain.
  • Tidak bermasalah dengan keramaian dan kegiatan yang melibatkan banyak orang.
  • Punya banyak teman yang bisa saling bersenang-senang.
  • Tidak bermasalah untuk berbagi ide dengan orang asing sekalipun.
  • Berbicara/bertindak dulu baru berpikir, atau berbicara/bertindak sambil berpikir.
  • Mudah berbicara mengenai hal apapun, sekedar basa-basi hingga pembicaraan berbobot.
  • Bahagia apabila mereka dikelilingi orang lain.

Introvert:
  • Energi mereka didapat dari interaksi pada diri mereka sendiri, batin mereka sendiri.
  • Menyukai suasana yang sepi dan kesendirian.
  • Sedikit teman, karena mereka lebih suka pertemanan intim yang setia.
  • Hanya menceritakan gagasan mereka pada orang mereka percaya.
  • Berpikir (lama atau sangat lama) sebelum berbicara/bertindak.
  • Hanya berbicara bila memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan.
  • Bahagia dengan pemahaman pada diri sendiri sebelum memahami orang lain.
Kata kunci disini adalah energi*. Ekstrovert, sesuai namanya, mereka mendapat energi dari luar, dari orang-orang disekitarnya, hidup mereka akan bermakna bila saling berinteraksi, mereka memahami manusia dengan saling bicara. Sedangkan introvert, mereka mendapat energi dari dalam dirinya, dari pemikirannya, dari batinnya, hidup mereka bermakna apabila mereka memahami dan menghargai diri mereka sendiri, sehingga mereka mudah memahami dan menghargai dunia di luar mereka tanpa banyak bicara sekalipun. Ini yang saya sebut perbedaan sebesar jurang.

*Energi yang dimaksud adalah kepuasan batin, bukan energi fisik yang didapat dari makanan.


Introvert dalam minoritas.
Kami para introvert, jumlah kami jauh lebih sedikit, sehingga kecenderungan kami untuk bersenang-senang dengan pikiran kami sendiri sulit dimengerti dan diterima oleh para ekstrovert. Pada akhirnya, kami menjadi komunitas yang aneh dan tersisih. Padahal jika kalian tahu, pikiran milik kalian adalah sesuatu yang begitu menyenangkan untuk diajak berbicara, Bumi kalian, bunga, langit dan—ah, saya lupa, para ekstrovert lebih suka saling berbicara dan bersenang-senang sesama manusia. Hehehe, peace :)

Well yeah, saya hidup di dunia yang senang memilah-milah, dimana mayoritas berkuasa, dan minoritas nelangsa. Mayoritaslah yang membuat standar hidup untuk semua orang, karena mereka mendominasi. Sedangkan minoritas harus menyesuaikan diri dengan standar hidup tersebut. Orang supel lebih disukai oleh masyarakat, orang yang mudah berbicara akan langsung dicap sebagai pribadi yang hangat, orang yang mudah mengemukakan pendapatnya akan langsung diberi tepuk tangan. Setuju atau tidak, stigma yang berkembang di masyarakat adalah, ekstrovert mudah diterima, sifat mereka baik untuk kehidupan, masa depan mereka cerah, karena manusia adalah makhluk sosial.

Sementara itu, para introvert harus menghadapi konsep manusia adalah makhluk sosial. Dimana untuk bersosialisasi, kita harus (minimal) memakai bibir untuk bercuap-cuap agar bisa diterima sebagai makhluk sosial (sedangkan introvert hanya berbicara jika memang perlu berbicara). Jika tidak bisa mendayagunakan bibir, padahal kalian normal dan tidak ada yang salah dengan mulut kalian, maka kalian akan langsung dicap suka menyendiri, susah bergaul, anti sosial, dan SOMBONG. Itulah masalah yang paling sering dihadapi oleh seorang introvert.


Introvert sering tersisih.
Kami para introvert terlihat sering menyendiri (padahal tidak selalu), karena disanalah kami mendapatkan energi dan pemahaman akan diri kami sendiri, yang sulit dimengerti oleh para ekstrovert. Kami terlihat sulit bergaul, karena kami senang bermain-main dengan pikiran kami terlebih dahulu sebelum deal dengan orang lain. Kami bukan anti sosial, seorang introvert tidak selamanya diam, mereka juga butuh orang lain untuk berbicara, curhat, mengemukakan ide, bahkan gila-gilaan dan bisa 'sinting', tetapi dengan sangat berhati-hati, yang biasa kalian sebut dengan tertutup. Terakhir, kami bukan makhluk sombong. Semudah itukah menyebut kami sombong hanya karena kami pelit bicara?
Tuhan menciptakan kami tidak untuk bunuh diri.
Sudah introvert, susah dipahami, minoritas pula. Jika diibaratkan, kami ini seperti seekor cacing pipih yang hidup serumah dengan seekor naga. Saat kami ingin sendiri, kami tidak sedang bermasalah, depresi, ataupun sakit. Kami hanya ingin sendirian untuk mengisi ulang energi kami, energi yang telah habis saat kami menjalankan kewajiban untuk bersosialisasi, sangat melelahkan. Sekali lagi, kesendirian dan memahami diri sendiri adalah sumber energi kami. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau disekeliling kami ramai dan bising?

Bukan berarti kami ingin hidup di tengah hutan. Kami senang dengan dunia luar yang tenang. Kalaupun kami harus masuk ke dalam kebisingan, pesta, konser, mengerjakan proyek bersama, arisan, ngerumpi, kami tidak keberatan, tetapi seperti yang saya tulis di atas, kegiatan itu melelahkan pikiran kami, energi kami akan habis.

Kasarnya begini,

Misal dalam sebuah pesta, ekstrovert dan introvert berkumpul. Mereka saling berbincang dalam obrolan hangat dan menyenangkan (tuh, kami bukan anti sosial). Seorang ekstrovert akan pulang dari pesta dengan energi yang full, karena saat saling berinteraksi, ekstrovert mendapat energi/kepuasan batin. Sedangkan introvert, dia akan pulang dengan energi yang sudah terkuras, sehingga sesampai di rumah, dia perlu sendirian dalam keheningan untuk mengisi ulang energinya. Bagaimana mengisinya? Tentu saja dengan bersenang-senang melalui batin mereka sendiri.

apa itu introvert?


"Introvert lebih mengacu kepada orang yang sibuk dengan apa yang ada di pikirannya dibandingkan dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang introvert juga akan memilih untuk menyendiri jika ingin menyegarkan hati dan pikirannya," kata Wendy, seperti dikutip dari Businessweek.com.

Berbeda dengan si ekstrovert, yang jika seharian lelah bekerja dan menghabiskan waktu dengan banyak orang, memilih untuk menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama teman-teman atau berpesta, orang yang introvert lebih suka menghabiskan harinya dengan menyendiri.

Menurut Wendy, dari observasi yang dilakukannya terhadap orang-orang introvert, mereka menganggap bahwa sifat mereka adalah "aneh" dan "kurang normal". Sementara Anne Fisher, kontributor Aol.com, mengatakan banyak orang lebih menganggap orang yang ekstrovert sebagai orang yang normal dan sesuai dengan standar yang ditetapkan masyarakat

"Orang yang introvert tidak terlalu suka berkumpul dan menceritakan pengalamannya, maka orang-orang mengatakan orang introvert adalah para penyendiri, sendirian," jelasnya. Lebih jauh dari itu sebuah penelitian dari Myers Briggs dengan responden sebanyak 3.009 orang, didapat hasil bahwa kaum ekstrovert lebih banyak daripada kaum ekstrovert. Perbandingannya, 50,8 persen banding 49,3 persen. Dari jumlah tersebut, lelaki lebih banyka yang introvert (54,1 persen) dibandingkan dengan perempuan (47,5 persen).

"Dan jika orang seperti Anda masih merasa bahwa orang introvert tidak lebih baik daripada ekstrovert. Cobalah lihat bahwa orang hebat seperti Bill Gates, Warren Buffett, atau Steven Spielberg menyatakan diri mereka sebagai orang yang introvert," sebut Anne. Jadi, menurut Anne, meski orang ekstrovert cenderung lebih menonjol saat proses perekrutan karyawan atau di lingkungan kerja, bukan berarti yang introvert tidak bisa melakukan hal yang sama. Sebab, sebuah penelitian mengatakan bahwa dua karakter yang berbeda ini memang punya cara yang berbeda dalam mengolah informasi.

"Jika orang introvert lebih suka berpikir sebelum berbicara, orang ekstrovert berpikir selagi mereka berbicara," kata Anne. Dengan perbedaan cara mengolah informasi tersebut, Wendy menganjurkan agar saat sesi wawancara tiba, sebaiknya orang yang introvert menyiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang umumnya ditanyakan pewawancara. Jadi si introvert tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan.

Bunuh Diri: Dorongan Jiwa


Saya pernah membaca sebuah buku karangan James Hillman, seorang psikolog Amerika aliran Jungian, berjudul “suicide and the soul”.
James Hillman menyatakan bahwa bunuh diri adalah suatu dorongan dari jiwa manusia kepada kematian. oleh karena itu bunuh diri pada dasarnya tidak dapat dikatakan salah secara moral.
Bunuh diri adalah dorongan normal yang ada dalam diri setiap manusia ketika jiwanya merasa cukup, entah dengan alasan apapun, kepada kehidupan yang dijalaninya. sehingga jiwa menuntut orang tersebut untuk segera mengakhiri hidupnya.
James Hillman juga menyatakan bahwa bunuh diri sebenarnya tidak ada. istilah ini hanyalah sebuah hasil dari pemikiran medis belaka. Bunuh diri pada dasarnya sebenarnya sama dengan segala macam kematian yang lainnya. Dasar pemikirannya ini adalah pernyataannya bahwa setiap orang merancang kematiannya setiap hari. contohnya: orang ketika makan memiliki daging atao sayur adalah hasil dari dorongan jiwanya kepada kematian. Bila terus memilih daging dia akan mati karena penyakit kolesterol, jantung, dll. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut sebenanrya melakukan bunuh diri. Namun pada kenyataannya banyak orang menganggap kematian orang yang makan daging dan sakit adalah kematian biasa.
Maka, bagaimana menurut anda?
Apakah bunuh diri itu memang adalah dorongan dari jiwa yang secara moral bernilai netral?
“GOD grant me the serenity to accept the things that i can not change,to change the things i can, and the wisdom to know the different.”
Fransisco Rosarians Enga Geken
Sumber:  http://groups.yahoo.com/group/janganbunuhdiri/message/5
Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit untuk dilalui. Tapi jika sejak remaja kau sudah merasa bahwa kau gay/lesbian/transeksual, masa itu akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menyebabkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa dia homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orangtua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat.

Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit atau semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/lesbian/transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka bisa kaulihat bagaimana remaja sering bergerombol ke sana kemari demi untuk jadi bagian dari suatu kelompok (dan moga-moga kau bisa masuk kelompok populer). Saat kau berbeda, kau jadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat kau berbeda, kau akan jadi sasaran bullying mereka yang mayoritas. Belum lagi jika kau berasal dari keluarga yang kurang harmonis, di mana keluarga tidak bisa jadi pilar tempatmu bersandar. Meskipun keluarga harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri.

Bayangkan betapa takutnya dirimu saat mengetahuinya. Kau tentu tidak mau dipanggil si homo, banci, lesbi, bencong, lines, atau apalah sebutan lainnya selama di sekolah, kan? Atau bahkan kau bisa dipukuli di sekolah setiap hari karena alasan bahwa dirimu “beda”. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Satu kali. Berpikir untuk mengakhiri hidup agar orang tidak perlu tahu bahwa saya lesbian. Dan kini tiap hari saya bersyukur niat itu hanya sebatas niatan dan saya tidak jadi melakukannya. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.

Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukannya nalar. Alexander Stevens, Asst. Professor di Oregon Health and Science University, menjelaskan bahwa otak remaja adalah “pekerjaan yang belum selesai.” Riset terbaru menyatakan jaringan saraf di otak bagian depan yang diperlukan untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis dan nalar baru akan selesai terbentuk pada usia 20 tahunan.

Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta yang dialami oleh remaja terasa begitu indah karena emosi mereka membanjir mengalir drastis dalam otak mereka.

Oleh karena itu coming out, tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia di bawah 19 tahun. Cobalah untuk beradaptasi sekarang, kau bisa coming out nanti kalau kau sudah sukses dan berprestasi sehingga debu pun menyingkir saat kau hendak berjalan. Coming out butuh kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara saksama, bukan dilakukan secara impulsif.

Banyak yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan orientasi seksual mereka. Dan sayangnya, mereka benar. Banyak remaja GLBT yang jadi sasaran siksaan fisik dan verbal. Dan bullying terus-menerus ini bisa mendorong bunuh diri. Sumber: http://www.suicide.org/gay-and-lesbian-suicide.html

Proses penerimaan diri seseorang menyadari bahwa mereka gay/lesbian/transeksual adalah proses yang panjang berliku dan menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin banyak kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong risiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya juga banyak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial.

Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001 dari situs http://www.suicide.org/, remaja usia 15-24 meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30%-nya adalah remaja gay/lesbian/transeksual. Menurut data statistik dari http://www.lambda.org/youth_suicide.htm, 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia sendiri menurut majalah Tempo dalam terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian terhadap tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada referensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini.

Masalah bunuh diri ini bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Percayalah suatu hari kau akan menemukan cinta yang kau cari. Ingatlah bahwa
kau tidak sendirian. Dirimu terlalu berharga. Bunuh diri bukanlah jawaban. Carilah bantuan.

Bunuh diri, Solusi Masalah?

Aku tidak lagi akan menjadi beban”

“Tidak ada yang berarti lagi dalam hidupku”
“Sepertinya aku nggak akan bertemu lagi denganmu”
“Aku sudah tidak sanggup lagi, lebih baik kuakhiri saja”
Pernahkah kata-kata diatas tebersit dalam pikiran anda atau terucap dari bibir anda? Kalau anda menjawab ‘Ya’, segeralah mencari bantuan. Anda membutuhkan bantuan!
Bunuh diri atau mengambil nyawa diri sendiri oleh sebagian orang seringkali dianggap sebagai suatu solusi jitu atas suatu dilema yang sedang dihadapi, baik itu dilema fisik maupun psikologis. Secara ilmu psikologis, bunuh diri berakar dari DEPRESI. Depresi itu sendiri tidak memilih usia, ia bisa menyerang tua dan muda, laki-laki dan wanita.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Penyebab banyaknya angka bunuh diri disebabkan oleh kemiskinan dan tekanan ekonomi.  Dari jumlah tersebut,  41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. Sementara pada tahun 2009 marak diberitakan aksi bunuh diri dengan melompat dari pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat. Yang mengherankan, latar belakang kemiskinan bukan lagi menjadi pemicu utama bunuh diri karena rata-rata korban berasal dari keluarga mampu.
Kenapa memBUNUH DIRI sendiri?
Depresi?
Depresi adalah sebuah gangguan mood yang ditandai oleh perasaan sedih yang berlebihan dan keputusasaan yang biasanya disebabkan oleh tragedi pribadi baik itu kerugian material (bangkrut, kehilangan harta karena kebakaran, kecelakaan dsbgnya) atau immaterial (kematian anggota keluarga, putus cinta dsbgnya). Depresi bisa menghasilkan sebuah keadaan emosi tidak normal yang kemudian menghasilkan tindakan membesar-besarkan perasaan sedih dan rasa keputusasaan yang  (sebenarnya) tidak sesuai dengan realitas yang dialami.

4 Ciri Depresi:

EMOSI


Kesedihan adalah gejala depresi emosional yang paling mencolok dan luas. Orang yang depresi biasanya mengartikulasikan rasa depresi mereka dengan pernyataan-pernyataan seperti “Saya merasa sedih.” Biasanya gejala emosional ini dirasakan lebih parah di waktu pagi hari karena orang tersebut kesulitan tidur. Perasaan cemas juga hadir bersamaan dengan hilangnya kepuasan dan kehilangan minat (ogah-ogahan, malas). Kehilangan minat bisa dimulai dengan menurunnya kinerja dan meluas ke hampir semua kegiatan (hobi, aktivitas rekreasi, dll). Pada akhirnya, bahkan daya tarik terhadap fungsi-fungsi biologis seperti makan dan seks juga mulai hilang.

KOGNITIF

Istilah ini mengacu kepada proses mental kognitif yang ditandai dengan mengetahui, berpikir, belajar dan menilai. Ini merupakan proses intelektual di mana seseorang merasa atau mengerti. Individu yang mengalami depresi berpikir akan merasa dirinya sendiri NEGATIF. Mereka memandang masa depan dengan keputusasaan. Individu mungkin merasa bahwa mereka telah gagal dalam segalanya atau bahwa mereka menyebabkan masalah mereka sendiri. Mereka percaya bahwa mereka lebih rendah, tidak memadai dan tidak kompeten. Depresi fungsi kognitif menyebabkan mereka memiliki harga diri yang rendah. Ini akhirnya menabur benih bagi keputusasaan dan pesimisme. Individu yang mengalami depresi benar-benar percaya bahwa ia ditakdirkan gagal dan maka dari itu tidak ada jalan keluar.

MOTIVASIONAL

Gejala khusus biasanya bisa dilihat pertama kali oleh orang-orang yang dekat dengan orang yang depresi. Orang depresi biasanya memiliki kesulitan untuk “mulai.” Sebagian besar dari kita dapat bekerja untuk bangun pagi, pergi bekerja, berinteraksi dengan satu sama lain dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan rutin. Namun individu yang mengalami depresi ditandai dengan kepasifan atau kurangnya aktivitas. Kepasifan dan kurangnya respon yang normal ini merusak kemampuan individu untuk terlibat dalam kehidupan dan bersosialisasi. Dalam bentuknya yang paling ekstrem bahkan mungkin individu akan mengalami “kelumpuhan” di mana ia bahkan tidak merasa seperti melakukan apa yang diperlukan untuk kehidupannya sendiri.

SOMATIS

Ini adalah manifestasi biologis dari depresi. Ini mungkin adalah kumpulan gejala yang paling berbahaya karena dampaknya. Ketika depresi menjadi semakin parah, kegembiraan biologis dan psikologis yang (semestinya) membuat hidup layak dijalani menjadi terkikis. Hilangnya nafsu makan, kehilangan minat pada seks dan hasrat seksual, penurunan berat badan, dan gangguan tidur menyebabkan kelemahan dan kelelahan. Individu yang sedang depresi atau merasa tertekan merasa depresi secara fisik pula. Mereka lebih rentan terhadap penyakit fisik akibat depresi. Ketika menjadi lebih buruk maka akan mengikis dorongan dasar biologis.

BUNUH DIRI=SELESAI?

Jadi jika anda merasa memenuhi keempat ciri diatas maka anda akan merasa syah untuk mengakhiri hidup anda sendiri? Begitukah? Anda menganggap, masalah adalah anda dan anda adalah masalah jadi untuk mengakhiri masalah, anda berfikir bahwa andalah yang musti di matikan? Yakin? Anda berfikir bahwa jalan SATU-SATUnya untuk menyelesaikan masalah adalah MENYELESAIKAN anda? Anda ‘selesai’ sama dengan masalah selesai? Anda yakin dengan konsep itu?
Bukankah JAUH lebih baik, MASALAHNYA yang dihentikan? Siapa yang bisa melakukannya? ANDA! Apakah mungkin? Bagaimana caranya? Lanjutkan membaca..

MENGUBAH CARA BERFIKIR

Bagi anda yang ingin bunuh diri, mungkin pernah mendapati beragam kata-kata yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak akan memberikan masalah pada umatnya yang tidak mungkin bisa diatasinya”, “Dibalik setiap tembok masih ada ruang dan tembok yang lain”, “Bukan hanya kau saja yang mempunyai masalah di dunia ini”.  Iya, semua kata-kata itu terdengar menyejukkan bagi anda namun anda bingung bagaimana melangkah untuk memperbaiki diri dan melepaskan dari depresi? Anda merasa kaku, terpojok, kecil dan tidak berdaya.  Pernahkah mengajak fikiran anda berfikir yang tidak biasanya?
Pernahkah anda melihat hewan bunuh diri?
Mungkin ini pertanyaan yang cukup aneh bagi anda. Bagaimana mungkin urusan bunuh diri anda disamakan dengan perilaku hewan. Tapi dengan serius saya ajak anda berfikir, pernahkah anda melihat seekor binatang dengan keterbatasannya dan ketidakberdayaannya mengakhiri hidupnya sendiri? Tidak. Hewan biasanya mengakhiri hidup dengan menjadi makanan bagi hewan lain, diburu oleh manusia lalu dimakan atau mati secara alamiah.
Hewan menanggapi keinginan untuk hidup dengan mulia, tetapi hanya manusialah yang dapat mencapai indahnya kehidupan. Hewan hanya tahu desakan yang buta dan naluriah; tetapi manusialah yang dapat melampaui dorongan ini dengan menjadikannya sebagai fungsi yang alamiah. Manusia dapat memilih untuk hidup dalam kecerdasan seni yang tinggi, bahkan dalam kegembiraan rohani surgawi (spiritual). Sedangkan binatang tidak bertanya mengenai tujuan hidup, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan hidup, dan mereka tidak bunuh diri.
Bunuh diri yang dilakukan manusia menunjukkan bahwa makhluk semacam kita telah keluar dari tahap kebinatangan, namun kemudian menuju ke sebuah fakta bahwa ternyata usaha-usaha eksplorasi yang dilakukan manusia telah gagal mencapai level artistik dari pengalaman kehidupan.
Binatang mungkin tidak tahu arti kehidupan, namun manusia tak hanya memiliki kapasitas untuk pengakuan atas pemahaman nilai-nilai dan makna, tapi ia juga menyadari arti dan makna dari sebuah arti itu sendiri – sehingga ia sadar dan memiliki wawasan diri.
Jadi, rintangan-hambatan-tantangan-kegagalan-kehilangan adalah sebuah goresan unik diatas kanvas (kehidupan) yang membuat karya (hidup) anda nantinya akan menghasilkan sebuah mahakarya yang INDAH. Tanpanya, lukisan itu hanya akan berupa garis-garis atau titik-titik yang monoton dan tidak bernilai seni (tidak bermakna).
Kekhawatiran hanya ada dalam PIKIRAN anda sendiri. Sudahkah anda check kenyataan?

Anda mungkin sudah merasa melakukan segenap usaha keras untuk mencari solusi atas problematika yang anda alami namun tetap saja bertemu jalan buntu. Semua sudah terlambat dan hidup anda hancur. Begitu yang anda fikirkan. Dunia diluar diri anda terasa runtuh dan anda tidak menemukan alasan lagi untuk menjalani hidup. Maaf mengecewakan, tetapi semua yang anda cemaskan itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran anda saja. PIKIRAN. Iya, anda memang merasa sangat yakin dengan kondisi negatif itu. Tapi karena anda sendirilah yang mengulangnya terus menerus dalam kepala sehingga secara tidak sadar anda menganggap bahwa semua ‘sepertinya’ ‘kayaknya’ ‘mungkin’ itu menjadi sebuah fakta. Fakta yang cukup untuk mengakhiri hidup anda. Padahal itu hanya ada dikepala dan BUKAN merupakan kenyataan. Jadi, apa yang anda cemaskan? It’s not real. Seperti ketika anda mimpi buruk, apakah esok hari anda tidak keluar dari rumah karena ketakutan?
Carl Jung pernah berkata: Semua tergantung pada bagaimana kita melihat sesuatu, bukan bagaimana sesuatu itu sendiri.
Sayang sekali hidup anda yang luar biasa itu harus anda berhentikan sebelum waktunya

Tidakkah anda pernah berfikir bahwa setiap jiwa yang hadir di dunia ini mempunyai sumbangsihnya tersendiri bagi bumi? Atau anda hanya sempat berfikir bahwa kehadiran anda hanya sekedar untuk hidup saja dan menunggu mati? Bahwa jika anda tidak ada di bumi maka tidak akan berpengaruh sama sekali pada kehidupan? Salah! Kehadiran anda di dunia akan SANGAT berpengaruh, begitu pula dengan ketiadaan anda.
Mungkin ada sebagian dari anda yang ‘iseng’ ingin mengetahui seberapa berharganya anda dihadapan orang-orang sekitar anda ketika anda dikabarkan meninggal. Reaksi kesedihan atau penyesalan dari mereka anda bayangkan sebagai sesuatu yang membahagiakan bagi anda. Bukankah dengan begitu anda ingin dikasihani? Mengapa anda senang dikasihani? Bukankah itu kasihan sekali? Faktanya, tidak ada orang yang tidak bersedih jika seorang diantara mereka meninggal karena itu manusiawi. Jadi, pembuktian yang ingin anda lakukan sepertinya sia-sia. Untuk apa anda menyianyiakan hidup hanya untuk sebuah pembuktian yang semu? Padahal jika anda tidak berhenti sampai disitu, kehidupan yang luar biasa bagi anda telah menanti di depan, tinggal anda menjalaninya dengan melewati badai dan kebahagiaan. That’s Life!

MEMBANTU DIRI SENDIRI

Bantuan paling BESAR yang bisa membantu anda dari usaha bunuh diri adalah ANDA sendiri!
Anda yang harus memiliki KESADARAN awal bahwa hidup anda sebenarnya BERARTI hanya anda BELUM TAHU bagaimana mengatasi rintangannya. Dengan NIAT untuk BERUBAH menjadi LEBIH BAIK dan melakukan TINDAKAN, maka itu adalah LANGKAH BESAR untuk melanjutkan KEHIDUPAN.
Setelah itu, anda bisa meminta bantuan orang terdekat untuk mendengarkan keluh kesah anda, kalau anda merasa mereka tidak cukup membantu anda, bantuan profesional (Psikiater) juga bisa menjadi opsi.  Niat kecil untuk membantu diri sendiri sudah cukup membuktikan bahwa anda MENGHARGAI diri anda sendiri dan menghargai KEHIDUPAN (baca: tanggung jawab) yang sudah dipercayakan Sang Pencipta kepada anda.
So, don’t Jump!


 

Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=617

Thursday, June 2, 2011

change


1. Hard Work
“God gives every bird a worm, but he does not throw it into the nest.” –Swedish Proverb
Success requires hard work.  If you’re not working very hard, you’re probably not on the path to success; you may be on a treadmill.  It takes hard work to succeed.  It takes enough discipline to create the right habits, an attitude that doesn’t relent, and a work ethic that few are willing to bear.
2. Take Responsibility
“Possession of the ball is the key to winning in football, basketball, and the game of life.”
–Laing Burns, Jr.
In the game of life you have the ball.  Don’t try to give the ball to fate, luck, or chance.  Take the ball and play the game.
Can you even decide the game you play?  You have the ball, you decide the game, life has been set up for you to win!
3. Act Like You Can’t Fail
“Act as though it is impossible to fail.” –Anonymous
I didn’t say failure was impossible, but you should act like it is.  I didn’t say you wouldn’t fail, but you should act like you won’t.  Why?  Because your attitude will ultimately determine your altitude.  If you see yourself as a success, you will eventually succeed.  Act like the successful do, don’t be timid or shy; play like you’re going to win the game.
4. Fail Miserably
“Unless you’re willing to have a go, fail miserably, and have another go, success won’t happen.” –Phillip Adams
It’s okay to fail; it’s even okay to fail miserably.  The only way to success is on the path of failure.  When you fall, pick yourself up, dust yourself off, learn from your mistakes and keep moving.  You have time to succeed.  If you stay focused in an area where you’re passionate, and where you have a natural advantage, you will succeed.
5. Plan and Succeed
“An Unfailing Success Plan: At each day’s end write down the six most important things to do tomorrow; number them in order of importance, and then do them.” –Anonymous
This is the recipe for success.  Plan your days and then complete your plans.  I would be remiss not to mention that you should complete the most important tasks first.  These are the ones you usually don’t want to do because they require you to leave your comfort zone.  But growth only occurs when you’re uncomfortable, get accustomed to being uncomfortable.  Get comfortable being uncomfortable, soon you will grow, soon you will succeed.
In Closing
Dell Crossword said, “Success is not permanent. The same is also true of failure.”  If you’ve failed in the past, that doesn’t mean you have to fail in the future.  If you follow the steps in this article you will begin to succeed.  Make sure you work in an area that makes you happy, ensure you work towards your passion, and one day, that which you seek, you will find.
Thank you for reading and be sure to pass this article along!

motivation

If you want to achieve success and make things happen, then you probably know that you need to have the ability to motivate yourself.  Everyone seeks to motivate himself to achieve success and prosperity, but many do not know how.

How do you motivate yourself?
To learn how to motivate yourself, follow the quick guide below:
1.  Have a reason
One of the strongest motives to motivate yourself is that you have a reason.  This reason will inspire you and make you do whatever it takes to challenge all of the obstacles, so you can achieve your goals.  If your desire and reasons are normal, then you might get motivated temporarily.  The strong desires that make you think and dwell on your goals are the strong motives that will keep you moving forward.
2.  Have a great goal
Have a goal that you want to achieve.  Having a great goal is crucial because it is very difficult to motivate yourself if you don’t have a specific goal that you want to accomplish.
3.  Have a specific plan

If you fail to plan, others will plan for you.  Make a plan to achieve your goals.  Be flexible, so you can change the plan if you need to if you encounter an obstacle.
4.  Start with small steps
To get to where you want to be requires serious effort.  You need to start taking small steps, so you can get to where you want to be.  Once started, it will become easy for you to continue moving forward.
5.  Do not compare yourself with others
Comparing yourself with others is an effective way if you want to become frustrated.  It will kill your motivation.  Even if you began with enthusiasm, you will lose energy quickly if you start to only focus on what others accomplished.
6.  Procrastination is your enemy
When you procrastinate, it will slow down your progress.  It is ok to take some time to rest, but to stay procrastinating every day will harm your progress.  Leave your comfort zone and motivate yourself to accomplish every task you have to do.
7.  Learn from your previous mistakes
When you keep focusing on your previous mistakes, you are killing your motivation.  Learning from your mistakes can help motivate you since you know what to avoid.  Today is a new day.  Motivate yourself, so you can achieve what you want and deserve.
Always remember what Elbert Green Hubbard said, “Character is the result of two things: mental attitude and the way we spend our time.”

terbentuknya persahabatan

Terbentuknya Persahabatan
Kita semua tentu punya alasan sendiri kenapa memilih untuk membangun persahabatan. Pada umumnya, hubungan itu timbul karena perasaan yang merasa ada keterikatan (attachment): senasib sepenanggungan, sevisi, seminat, dan seterusnya dan seterusnya. Atau ada juga yang karena kesaling-bergantungan (interdependence): membutuhkan bantuan, dukungan, dan lain-lain
.
Dalam prakteknya, persahabatan itu kita bedakan dengan pertemanan. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada intensitas keterlibatan emosi dan komitmen. Karena itu, terkadang tidak cukup kita mengatakan  "friend" untuk menyebut seorang sahabat, tetapi masih kita tambah dengan kata sifat "close friend". Kalau mengacu ke teori hubungan antar pribadi menurut Verderber & Verderber (Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi, 1996) persahabatan itu mungkin istilahnya adalah Deep Friendship. Berdasarkan skala intimasi dan komitmen yang muncul, hubungan antar pribadi itu dikelompokkan menjadi seperti berikut ini:
  1. Aquintance Relationship (perkenalan biasa)
  2. Friendship Relationship (pertemanan karena kesamaan minat, sifat, dan kepentingan).
  3. Role Relationship (hubungan berdasarkan peranan atau kepentingan)
  4. Deep Friendship or Intimate Relationships (Hubungan yang sudah melibatkan emosi dan komitmen)
Dari bukti-bukti di lapangan ditemukan bahwa persahabatan yang bagus itu punya banyak manfaat. Salah satunya adalah bisa mencegah hipertensi (Reardom, Interpersonal Communication: Where Minds Meet, 1987). Secara kesehatan dijelaskan bahwa hipertensi adalah tekanan darah atau denyut jantung yang lebih tinggi dari yang normal karena ada penyempitan pembuluh darah atau karena sebab lain. Bisa juga berguna untuk menurunkan dan mengurangi potensi stress atau depresi.  
Misalnya saja Anda saat ini sedang belajar di lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin tegas. Namanya disiplin, pasti maksudnya baik. Cuma, dalam eksekusi di lapangannya, pasti juga ada kemungkinan munculnya penyimpangan prosedur oleh individu yang tak jarang menimbulkan tekanan, ketegangan, atau himpitan. Dengan memiliki cantolan klub, forum, atau kelompok yang tingkat persahabatannya bagus, itu akan bisa membuat kita lebih sabar dan terhibur.
Kalau melihat temuan Maslow, ternyata salah satu karakteristik self-actualized person itu adalah punya sahabat atau kenalan yang jumlahnya sedikit namun berbobot intimasi dan kualitasnya (Human Development, Vander Zender, 1989). Ini mungkin bisa kita tafsirkan bahwa mereka itu punya sahabat atau orang dekat. Tafsiran ini memang seringkali sinkron dengan realitas yang kerap kita temui di lapangan. Banyak 'kan kita mengenal sejumlah tokoh atau orang-orang tertentu yang berprestasi di bidangnya (di semua level) yang ternyata dulu mereka bersahabat dengan orang-orang tertentu dan persahabatan itu berlangsung sampai sekarang.
Bahkan, kata orang, Tuhan itu kalau mengangkat derajat seseorang jarang secara individu. Tuhan itu mengangkat derajat seseorang sekaligus dengan kelompoknya. Ini tentu refleksi personal yang subyektif. Tapi memang secara rasional, ungkapan itu ada rujukannya. Karena mereka yang bersahabat itu membangun kedekatan lahir dan batin, sudah barang tentu mereka punya mindset yang sama, kultur hidup yang sama, atau karakter yang sama.  Logikanya, ketika orang sudah dibentuk oleh prinsip-prinsip yang sama, maka sangat mungkin mereka mendapatkan nasib yang sama.
"Isi pikiranmu membentuk tindakanmu, tindakanmu membentuk kebiasaanmu, kebiasaanmu membentuk karaktermu, karaktermu membentuk nasibmu."
(Aristotle)
Jadi, yang menyebabkan mereka punya kesamaan nasib, bukan kesamaan kelompoknya, melainkan kesamaan isi pikiran, tindaan, kebiasaan, dan karakter.

 
Kapan Kendor & Kapan Pecah
Dalam prakteknya, persahabatan itu bisa kendor dan bisa pula pecah. Secara umum, kendornya intimasi persahabatan itu mulai muncul ketika masing-masing atau salah seorangnya sudah punya kepentingan dan kebutuhan yang ditandai dengan berubahnya status. Misalnya saja dari mahasiswa ke pekerja atau dari bujangan ke ber-rumahtangga, dari orang biasa ke orang penting.
Kalau menurut ucapannya Sigmund Freud, orang dewasa itu isi pikirannya yang paling dominan hanya dua: to love and to work. Mereka berkonsentrasi pada keluarga (to love) dan kerjaannya (to work). Kohesi persahabatan yang terjadi pada kehidupan orang dewasa biasanya adalah lanjutan dari persahabatan sebelumnya atau karena kepentingan dan kondisi yang dirasakan sangat spesifik (benar-benar senasib).
Ini kerap terjadi pada tenaga kerja atau pelajar di luar negeri. Karena sama-sama senasib, sama-sama dari Indonesia, sama-sama punya kepentingan yang sama, dan merasakan keadaan yang relatif sama, maka persahabatan terbentuk. Tapi, menurut kebiasaan, persahabatan yang terbentuk ketika usia seseorang sudah banyak kepentingan, memang rasanya beda dengan ketika seseorang masih di usia remaja atau dewasa muda.
Nah, lalu kapan persahabatan akan terancam bubar? Masalah yang melatarbelakangi bubarnya persahabatan itu pasti bermacam-macam. Menurut Duck (1985), biasanya fase-fase bubarnya hubungan (disolusi) itu diawali dari proses di bawah ini:
  1. Ketidakpuasan dari hubungan itu. Misalnya saja kita menerima perlakuan yang tidak fair, atau persahabatan yang ada tidak membuahkan hasil-hasil tertentu seperti yang semula dibayangkan. Misalnya saja persahabatan karena narkoba.
  2. Upaya menarik diri. Kita sudah merasa tidak cocok lagi atau ada keinginan untuk menentang atau juga kita menarik diri. Bisa juga setelah kita menghitung untung-rugi, manfaat-keuntungan.
  3. Mempraktekkan keputusan unuk menghindar atau menjauh
Bisa juga disolusi itu terjadi sesuai dengan urutan yang ditemukan Hawk Williams (The essence of managing group & teams, 1996) berikut ini:
  1. Ada problem yang kita jumpai (menurut versi kita) pada dia
  2. Kita membiarkan / tidak menunjukkan problem itu kepada orang yang kita anggap punya masalah dengan kita 
  3. Problem itu tetap muncul atau terus bertambah
  4. Perasaan negatif terus menggunung / mengakumulasi
  5. Kita kehilangan perspektif tentang orang itu.
Dalam organisasi kepemudaan yang rata-rata kita lihat mereka bersahabat, urutan di atas kerap terjadi. Si A dipandang telah sering melakukan tindakan yang melanggar prinsip dasar organisasi. Karena bersahabat, mereka tidak langsung menegur atau mengingatkan secara terang-terangan. Si A sendiri tidak sensitif menangkap gelagat ketidaksetujuan para sahabatnya. Proses ini terus berlanjut dan masing-masing pihak menyimpan bara api ketidaksetujuan dan ketidakpedulian di dadanya. Hingga pada puncaknya, Si A dipecat dari organisasi itu. Jika Si A tidak terima, terjadilah upaya saling menjatuhkan dimana masing-masing orang kehilangan perspektif persahabatannya.  
"Hindarilah bersahabat dengan orang yang membohongimu,
hindarilah bersahabat dengan orang yang memanfaatkanmu,
dan hindarilah bersahabat dengan orang menjerumuskanmu"
(Ali bin Abu Thalib)
 
Beberapa Cara Mempertahankan Persahabatan
Untuk persahabatan yang tengah kendor intimasinya karena ada perbedaan dan perubahan, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:
Pertama, menjaga ritme dan frekuensi hubungan. Jangan terlalu sering atau jangan sama sekali putus hubungan. Aturlah ritme dan frekuensinya. Kenapa? Jika Anda terlalu sering, padahal status dan peranan sahabat Anda itu sudah tidak seperti dulu lagi, akan lain tafsirannya. Tapi jika hubungan itu terputus sama sekali, ini juga tidak tepat.
Jika kebetulan nasib kita ternyata lebih di atas,  akan lebih bagus kalau kita yang berinisiatif memulai memelihara persahabatan itu. Kalau memungkinkan dan itu dibutuhkan, yang perlu kita lakukan bukan semata 'say hello' atau sekedar bernostalgia, melainkan juga perlu merambah ke gagasan-gagasan pemberdayaan, entah untuk sahabat kita yang lain atau untuk orang lain.
Kedua, hormati privasinya. Dengan peranan dan status yang sudah tidak seperti dulu lagi, tentu sahabat kita ini memiliki aturan hidup yang baru, entah itu terkait dengan keluarganya atau pekerjaannya. Agar persahabatan tetap terjaga, yang perlu kita lakukan adalah menghormati privasinya. Bahkan juga tidak saja perlu menghormati dia semata, tetapi juga orang-orang penting di sekitarnya, misalnya saja suami-istri, atasan-bawahan, dan lain-lain.
Apabila kita berada di posisi yang sebaliknya (orang yang dicari), yang perlu kita hindari adalah curiga duluan kalau sahabat kita ini pasti membawa masalah atau mau minta bantuan, hanya memberi nasehat dengan cara merendahkan, hanya memamerkan kekayaan (unjuk-diri), atau memperlakukannya terlalu formal dan menunjukkan kesan terlalu menjaga wibawa.
Ketiga, hindari meminta bantuan dengan nada dan gaya menuntut (demanding) kecuali memang ada suasana psikologis yang mendukung dan itu tidak melibatkan orang lain selain sahabat Anda. Lebih-lebih, karena tuntutan kita tak terpenuhi, kita kemudian menyebarkan gosip tak sedap, misalnya sahabat kita ini sekarang orangnya sudah lain, makin sombong, angkuh, tak peduli, dan lain-lain. Akan lebih sip kalau kita menempuh cara-cara profesional yang tetap mengedepankan etika dan strategi.
Bila kita berada di posisi sebaliknya, hindari mengeluarkan pernyataan semacam tidak bisa, itu sulit, atau itu tidak mungkin dan semisalnya dengan nada untuk menutup berbagai kemungkinan. Kalau kita tidak bisa membantu langsung, kita bisa membantu secara tidak langsung. Kalau kita tidak bisa membantu keinginannya, kita bisa membantu kebutuhannya. Intinya, munculkan semangat untuk membantu. 
Itu semua bisa kita lakukan ketika persahabatan kita dulu adalah persahabatan dalam hal-hal yang positif. Untuk persahabatan yang negatif, tinggalkanlah dengan cara yang baik. Misalnya dulu kita punya geng yang suka narkoba. Karena kita sudah tobat,  kita perlu memutus hubungan dengan sahabat-sahabat yang masih terlibat. Tujuannya adalah agar kita tidak terlibat lagi.
Adapun untuk kita yang masih dalam tahap sedang asyik-asyiknya menjalani hidup dengan persahabatan, beberapa hal yang perlu kita ingat adalah:
  1. Nikmatilah persahabatan yang ada tetapi jangan sampai menghilangkan diri Anda. Jadikan persahabatan saat ini sebagai lahan untuk aktualisasi-diri dengan bertukar pengalaman, pengetahuan, informasi, berbagi perasaan, dan lain-lain.  Termasuk juga jangan sampai persahabatan ini merenggangkan hubungan dengan orang-orang inti: orangtua dan keluarga. Anda tetap bisa bersahabat tanpa harus memunculkan ketegangan dengan orangtua atau keluarga
  2. Inisiatifkan untuk memunculkan gagasan-gagasan positif, entah itu yang berkaitan dengan akademik atau non-akademik. Sebagai acuan, buatlah learning group (kajian akademik, dst), problem solving group (bantuan sosial, dst), atau growth group (pengasahan bakat, dst). Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan Anda di masa mendatang.
  3. Jagalah jangan sampai punya kepentingan yang bertabrakan dengan kepentingan sahabat. Bila itu terjadi, buatlah kesepakatan sefair mungkin dengan melibatkan sahabat lain.
  4. Hormatilah dan jangan "memanfaatkan". Misalnya kita bersahabat dengan si anu karena orangtuanya kaya, terpandang, atau ada agenda politis yang kita sembunyikan untuk memanfaatkan sahabat kita. Bersahabatlah karena kecocokan jiwa. 
  5. Mendukung dan membantu. Banyak orang yang bisa membantu sahabatnya ketika sedang kesusahan tetapi tidak bisa mendukung sahabatnya yang sedang meraih kemajuan. Lawanlah iri dengki di dada dengan cara mendukung dan membantu.  
  6. Kembangkan perspektif yang fair. Biarpun itu sahabatmu, jangan sampai kehilangan perspektif yang fair. Sebab, pasti ada yang positif dan pasti ada yang negatif. Temukan positifnya sebanyak mungkin.
  7. Biasakan saling memberi nasehat dengan cara yang bersahabat, bukan dengan cara menilai, mengoreksi, lebih-lebih membicarakannya di belakang.
"Sahabatmu adalah orang yang sudah tahu banyak tentang dirimu  
dan tetap bersahabat denganmu"

Pages

Powered By Blogger

Sample List

Powered by Blogger.

Buscar