Showing posts with label health. Show all posts
Showing posts with label health. Show all posts

system thinking

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , , ,

System Thinking Berpikir Sistem

When you have problem, what do you do? How do you think? Are you trying to cut the problem into smaller pieces then solve each pieces? For example: if you have a melon, then four people want it, each people have their own needs, one may need bigger part than the others, others may just want average part or smaller part. Will you ask one of them, cut it, then ask the others? If so, one will get the rest, that may not meet his/her needs. Ketika mempunyai masalah, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu akan memotong masalah itu menjadi bagian-bagian kecil kemudian memecahkan setiap bagian? Contoh: kalau kamu punya sebuah melon, setiap orang punya kebutuhan masing-masing. Akankah kamu bertanya pada orang pertama berapa banyak yang dibutuhkan, memotongnya, lalu bertanya kepada yang lain? Jika begitu, seseorang akan mendapat sisanya dan sisa itu mungkin tidak mencukupi kebutuhannya (dia mendapat bagian yang tidak adil). Cara berpikir mempengaruhi tindakan manusia sehari-hari. Russell L. Ackoff, seorang filsuf, berpendapat bahwa ada dua ide utama yang mendasari cara berpikir ilmiah tradisional. How we think influences human's behaviour everyday. Russell L. Ackoff, a philosopher, thinks that traditionally scientific system thinkings are based on two main ideas. Ide pertama didasarkan pada pemahaman bahwa semua fenomena dapat diterangkan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat yang menyatakan bahwa setiap hal mempunyai penyebab jika penyebab tersebut perlu dan cukup. Cara berpikir ini tidaklah memadai sebab seringkali mustahil bagi kita untuk dapat menemukan hubungan sebab-akibat satu demi satu antar komponen dalam sistem. First idea is based on understanding about every phenomenon can be explained with cause-effect corelation which says that every thing has a cause if the cause is necessary and sufficient. This system thinking is not enough, because it's often impossible for us to find the cause-effect corelation for every component in the system. Ide kedua disebut reduksionis yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia (serta setiap pengalaman tentang dunia) dapat direduksi, didekomposisi, didisasembli, atau dibagi-bagi sehingga diperoleh bagian yang tak dapat lagi dibagi-bagi. Penyelesaian masalah dari setiap bagian ini dianggap dapat menyelesaikan keseluruhan masalah. Second idea called reductionist which stated that everything in this world (and every experience about the world) can be reduced, decomposed, disassemblied or divided until it becomes parts that can't be divided anymore. The problem solution for every part is assumed to be able to solve the whole problem. Coba kita lihat contoh cara berpikir ilmiah reduksionis secara agak ekstrim: Let's see some examples which are rather extreme: 1. Seorang ayah mengidap penyakit diabetes dan lever (hati). Untuk memecahkan masalah ini, sang anak membagi masalah ini ke dalam dua bagian, yaitu sakit diabetes dan sakit lever. Suatu hari sang anak membawa sang ayah ke dokter ahli penyakit diabetes untuk mengatasi masalah pertama. Keesokan harinya ke dokter ahli penyakit lever untuk mengatasi masalah kedua. Kedua dokter tentu memberi obat yang berbeda, dokter ahli diabetes memberi obat untuk menurunkan kadar gula dalam darah sedangkan dokter ahli lever memberi obat untuk menaikkan kadar gula agar lever dapat berfungsi kembali. Pada masalah ini, kesalahan ada pada semua pihak, mengapa baik anak maupun orangtuanya tidak memberitahu tiap dokter bahwa ayahnya mempunyai penyakit lain dan mengapa sang dokter tidak menanyakan obat apa yang sedang dikonsumsi oleh sang ayah. Mungkin itulah akibat cara berpikir reduksionis. 1. A father has problems with diabetes and liver. To solve this problem, his son divide this problem into two parts, which is diabetes and liver. One day, his son took him to a doctor to cure his diabetes to solve the first part (the first problem). Another day, his son took him to another doctor to cure his liver to solve the second part (the second problem). Both doctors surely gave different presriptions. The diabetes doctor gave him medicines to lower glucose level in his blood, another doctor gave him other medicines to increase glucose level in his blood so his liver can work again. In this problem, mistakes was done by all parties, why both the son and the father did not tell the doctors about the father's whole problem and why the doctor did not ask what medicines is being consumed by the father. Maybe that's the result of reductionist system thinking. 2. Ketika kita mengerjakan soal ujian esai, mungkin setiap soalnya terdiri dari beberapa pertanyaan, lebih baik jika kita membaca semua pertanyaan yang berkaitan dengan soal tersebut terlebih dulu sebelum kita mengerjakannya, karena seringkali ketika kita mengerjakan soal tersebut satu per satu, ketika kita melangkah ke soal berikutnya mungkin kita baru benar-benar mengerti apa yang diminta penguji / pembuat soal. 2. When we do an essay test, a problem may not consist only one question, there may be some questions, it's better if we read the all questions that are related to the question first then answer the questions, because it often happens when we answer the question one by one, when we do the next question, that time we may just really understand what the examiners want. 3. Ini adalah contoh yang lebih umum, ketika kita menterjemahkan kalimat antar bahasa, jika kita artikan kata-katanya satu per satu tanpa melihat konteks kalimatnya, kemudian menyatukannya, hasil terjemahannya bukan tidak mungkin jadi aneh. contoh: Inggris - Indonesia : My grandfather are going to dance with her grandmother in a ballroom. Milik saya (My) besar ayah (grandfather) adalah (are) going (pergi) ke (to) dansa (dance) dalam (in) a (sebuah) bola ruang (ballroom). 3. This is a more common example, when we translate sentences from one language to another, if we translate the word one by one without seeing the sentence context, then assembling it, the result is not impossibly becoming weird. 4. Sepasang suami-istri hidup di negara dengan empat musim. Suatu ketika, musim dingin tiba. Kemajuan teknologi telah mendukung terciptanya selimut pemanas yang bisa diatur suhunya. Pasutri (pasangan suami istri) tersebut pun membeli satu selimut tersebut untuk mereka berdua. Selimut ini memang didisain untuk pasangan suami istri. Keunggulan selimut listrik ini, temperatur suhu selimut bagian kanan dan kiri bisa diatur oleh masing-masing penggunanya (jadi suhu selimut sebelah kanan mungkin berbeda dengan suhu selimut sebelah kiri). Suatu saat Sang suami tidur bersama istrinya. Di malam hari, sang suami merasa agak kedinginan, lalu dia berpikir, "Ah, pasti istri saya kedinginan.", karena cintanya pada sang istri, dia pun menaikkan suhu selimut istrinya. Tak lama kemudian, sang suami pun tertidur. Istri sang suami merasa agak kepanasan, dia pun berpikir, "Ah, suami saya pasti kepanasan." Karena cintanya pada sang suami, sang istri pun menurunkan suhu selimut suaminya. Akhirnya... mungkin saja sang istri mati kepanasan, sedangkan sang suami mati kedinginan. 4. I watched a movie about an otaku. He loves a girl. But one day, his friends ask him to see an exebition called "Comixet". He told the girl that he has to work but actually he came to see the exebition, having fun with his friends in his otaku dress. But, suddenly he met the girl, the girl saw him in his otaku dress then she told him not to meet her again. He think it is his fault that he is an otaku. He throw away all his toys; gundams, models, comics, etc. Then he told the girl that he has left his otaku behaviour, but the girl still can't forgive him. Actually, he is an otaku, that is not a problem, the main problem is his small lie. How the story continues... watch "Densha Otoko"! Nah, itulah mengapa sistem berpikir seperti itu dianggap kuno. Jaman sekarang ini, kedua ide tersebut mungkin tidak tepat lagi untuk diterapkan karena banyak masalah tidak dapat dipecahkan dengan kedua ide tersebut, ide yang tepat adalah dengan cara berpikir sistem, jadi kita memikirkan penyelesaian untuk keseluruhan masalah sekaligus, bukan per bagiannya. So, that's why that kind of system thinking is considered left behind. In the present times, when we have a problem, we should not think like our ancestor did, because many problems may not be possible to be solved by those two, the better idea is thinking with "system thinking", so we think to get a solution for the whole problem, not by its parts.

Read more

introvert? why not

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , ,


Saat teman-teman saya senang menghabiskan waktu dengan bergerombol kesana kemari, saya lebih suka berteman intim dan setia dengan dua hingga tiga orang saja. Saat teman-teman saya mulai membicarakan ini dan itu, pamer, basa-basi, mengoceh dan lain sebagainya dengan mudah, saya cenderung diam dan tidak akan balas berbasa-basi. Di saat seperti itu, saya membaca obrolan mereka, membaca bahasa tubuh mereka, dan hal itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuk saya.

Di saat teman-teman saya senang dengan segala keramaian (konser musik, pertandingan antar sekolah, jalan-jalan ke mall saat weekend) yang menurut mereka bagus untuk menyegarkan diri, saya justru layu bila menjadi bagian dari keramaian itu. Saya punya cara sendiri untuk menyegarkan diri. Saya akan segar dengan menyendiri, dekat dengan alam, jauh dari hingar-bingar manusia.


I'm weird. 
Yes, something wrong with me

Teman-teman saya, mereka lebih bisa diterima dalam pergaulan, sedangkan saya tidak. Lalu, saya berpura-pura untuk mengikuti arus, agar bisa diterima oleh standar masyarakat. Saya berbicara ini itu, bergerombol dalam keramaian, menjadi penyemangat pertandingan antar sekolah. Then, am I happy? No. Saya tidak bisa menyehatkan kepala saya dalam dunia yang berisik. Saya tidak bisa lagi mendengar semesta berbicara dengan saya. Saat saya sadar bahwa saya tidak nyaman dengan berpura-pura, saya kembali menjadi 'Si aneh'.

Si aneh yang senang sendirian.
Si aneh yang jarang bicara.
Si aneh yang suka berpikir.
Si aneh yang sering di cap sombong.
Si aneh yang harus dirayu agar mau diajak 'bersenang-senang'.

Menyedihkan? Haha... saat itu saya kehilangan arah (ceile bahasa saya). Lalu saya mencari pembenaran, apa yang terjadi dengan saya. Mungkin saya ini anti sosial, mungkin otak saya terguncang waktu jatuh dari pohon jambu, mungkin saya mengalami gangguan jiwa, mungkin saya ini alien, mungkin saya ini jelmaan siluman, dan lain sebagainya.

Akhirnya, setelah menikmati sajian Psikologi dari berbagai sumber, saya menyadari bahwa saya ini tidak gila, saya bukan siluman, saya bukan alien (kalau yang ini masih dipertanyakan). Saya melakukan tes ini dan itu. Hasilnya... CIHUY! Saya ini normal. Hanya saja, saya diberkahi sesuatu yang kurang bisa diterima oleh standart kelayakan masyarakat.

Lima milyar penduduk dunia.
Saya hanya menjadi bagian 11,6% diantara mereka.
Minoritas. Akhirnya, saya menjadi seorang minoritas.
Akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya. Not bad.

Dan dengan ini saya umumkan bahwa:

Saya positif introvert.
Ilmu psikologi mempelajari perilaku manusia untuk dibagi/digolongkan menjadi beberapa bagian. Sebagian dari kita mungkin mengenal istilah populer ini: sanguin, melankolis, flekmatis, dan kolerik. Ada juga pemilahan jenis sifat manusia yang saat ini sering dibicarakan, yaitu Eneagram. Sebenarnya ada banyak penggolongan lain, Introvert dan Ekstrovert termasuk di dalamnya, hanya saja istilah ini belum terlalu populer di lingkungan saya (mungkin juga anda).

Pada awalnya, saya mengira setelah seseorang mengetahui kemana kecenderungan sifat mereka, introvert maupun ekstrovert, ya sudah. Oh saya introvert, selesai. Ternyata tidak sesimpel itu, karena setelah saya pelajari, ada jurang yang sangat lebar diantara keduanya. Mari kita pahami perbedaan keduanya. Anda termasuk yang mana?

Ekstrovert:

  • Energi mereka didapat dari saling berinteraksi dengan orang lain.
  • Tidak bermasalah dengan keramaian dan kegiatan yang melibatkan banyak orang.
  • Punya banyak teman yang bisa saling bersenang-senang.
  • Tidak bermasalah untuk berbagi ide dengan orang asing sekalipun.
  • Berbicara/bertindak dulu baru berpikir, atau berbicara/bertindak sambil berpikir.
  • Mudah berbicara mengenai hal apapun, sekedar basa-basi hingga pembicaraan berbobot.
  • Bahagia apabila mereka dikelilingi orang lain.

Introvert:
  • Energi mereka didapat dari interaksi pada diri mereka sendiri, batin mereka sendiri.
  • Menyukai suasana yang sepi dan kesendirian.
  • Sedikit teman, karena mereka lebih suka pertemanan intim yang setia.
  • Hanya menceritakan gagasan mereka pada orang mereka percaya.
  • Berpikir (lama atau sangat lama) sebelum berbicara/bertindak.
  • Hanya berbicara bila memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan.
  • Bahagia dengan pemahaman pada diri sendiri sebelum memahami orang lain.
Kata kunci disini adalah energi*. Ekstrovert, sesuai namanya, mereka mendapat energi dari luar, dari orang-orang disekitarnya, hidup mereka akan bermakna bila saling berinteraksi, mereka memahami manusia dengan saling bicara. Sedangkan introvert, mereka mendapat energi dari dalam dirinya, dari pemikirannya, dari batinnya, hidup mereka bermakna apabila mereka memahami dan menghargai diri mereka sendiri, sehingga mereka mudah memahami dan menghargai dunia di luar mereka tanpa banyak bicara sekalipun. Ini yang saya sebut perbedaan sebesar jurang.

*Energi yang dimaksud adalah kepuasan batin, bukan energi fisik yang didapat dari makanan.


Introvert dalam minoritas.
Kami para introvert, jumlah kami jauh lebih sedikit, sehingga kecenderungan kami untuk bersenang-senang dengan pikiran kami sendiri sulit dimengerti dan diterima oleh para ekstrovert. Pada akhirnya, kami menjadi komunitas yang aneh dan tersisih. Padahal jika kalian tahu, pikiran milik kalian adalah sesuatu yang begitu menyenangkan untuk diajak berbicara, Bumi kalian, bunga, langit dan—ah, saya lupa, para ekstrovert lebih suka saling berbicara dan bersenang-senang sesama manusia. Hehehe, peace :)

Well yeah, saya hidup di dunia yang senang memilah-milah, dimana mayoritas berkuasa, dan minoritas nelangsa. Mayoritaslah yang membuat standar hidup untuk semua orang, karena mereka mendominasi. Sedangkan minoritas harus menyesuaikan diri dengan standar hidup tersebut. Orang supel lebih disukai oleh masyarakat, orang yang mudah berbicara akan langsung dicap sebagai pribadi yang hangat, orang yang mudah mengemukakan pendapatnya akan langsung diberi tepuk tangan. Setuju atau tidak, stigma yang berkembang di masyarakat adalah, ekstrovert mudah diterima, sifat mereka baik untuk kehidupan, masa depan mereka cerah, karena manusia adalah makhluk sosial.

Sementara itu, para introvert harus menghadapi konsep manusia adalah makhluk sosial. Dimana untuk bersosialisasi, kita harus (minimal) memakai bibir untuk bercuap-cuap agar bisa diterima sebagai makhluk sosial (sedangkan introvert hanya berbicara jika memang perlu berbicara). Jika tidak bisa mendayagunakan bibir, padahal kalian normal dan tidak ada yang salah dengan mulut kalian, maka kalian akan langsung dicap suka menyendiri, susah bergaul, anti sosial, dan SOMBONG. Itulah masalah yang paling sering dihadapi oleh seorang introvert.


Introvert sering tersisih.
Kami para introvert terlihat sering menyendiri (padahal tidak selalu), karena disanalah kami mendapatkan energi dan pemahaman akan diri kami sendiri, yang sulit dimengerti oleh para ekstrovert. Kami terlihat sulit bergaul, karena kami senang bermain-main dengan pikiran kami terlebih dahulu sebelum deal dengan orang lain. Kami bukan anti sosial, seorang introvert tidak selamanya diam, mereka juga butuh orang lain untuk berbicara, curhat, mengemukakan ide, bahkan gila-gilaan dan bisa 'sinting', tetapi dengan sangat berhati-hati, yang biasa kalian sebut dengan tertutup. Terakhir, kami bukan makhluk sombong. Semudah itukah menyebut kami sombong hanya karena kami pelit bicara?
Tuhan menciptakan kami tidak untuk bunuh diri.
Sudah introvert, susah dipahami, minoritas pula. Jika diibaratkan, kami ini seperti seekor cacing pipih yang hidup serumah dengan seekor naga. Saat kami ingin sendiri, kami tidak sedang bermasalah, depresi, ataupun sakit. Kami hanya ingin sendirian untuk mengisi ulang energi kami, energi yang telah habis saat kami menjalankan kewajiban untuk bersosialisasi, sangat melelahkan. Sekali lagi, kesendirian dan memahami diri sendiri adalah sumber energi kami. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau disekeliling kami ramai dan bising?

Bukan berarti kami ingin hidup di tengah hutan. Kami senang dengan dunia luar yang tenang. Kalaupun kami harus masuk ke dalam kebisingan, pesta, konser, mengerjakan proyek bersama, arisan, ngerumpi, kami tidak keberatan, tetapi seperti yang saya tulis di atas, kegiatan itu melelahkan pikiran kami, energi kami akan habis.

Kasarnya begini,

Misal dalam sebuah pesta, ekstrovert dan introvert berkumpul. Mereka saling berbincang dalam obrolan hangat dan menyenangkan (tuh, kami bukan anti sosial). Seorang ekstrovert akan pulang dari pesta dengan energi yang full, karena saat saling berinteraksi, ekstrovert mendapat energi/kepuasan batin. Sedangkan introvert, dia akan pulang dengan energi yang sudah terkuras, sehingga sesampai di rumah, dia perlu sendirian dalam keheningan untuk mengisi ulang energinya. Bagaimana mengisinya? Tentu saja dengan bersenang-senang melalui batin mereka sendiri.

Read more

  1.  Take it seriously.
  2. Myth: The people who talk about it don't do it. Studies have found that more than 75% of all completed suicides did things in the few weeks or months prior to their deaths to indicate to others that they were in deep despair. Anyone expressing suicidal feelings needs immediate attention. Myth: Anyone who tries to kill himself has got to be crazy. Perhaps 10% of all suicidal people are psychotic or have delusional beliefs about reality. Most suicidal people suffer from the recognized mental illness of depression; but many depressed people adequately manage their daily affairs. The absence of craziness does not mean the absence of suicide risk. Those problems weren't enough to commit suicide over, is often said by people who knew a completed suicide. You cannot assume that because you feel something is not worth being suicidal about, that the person you are with feels the same way. It is not how bad the problem is, but how badly it's hurting the person who has it.

  3. Remember: suicidal behavior is a cry for help.
  4. Myth: If a someone is going to kill himself, nothing can stop him. The fact that a person is still alive is sufficient proof that part of him wants to remain alive. The suicidal person is ambivalent -- part of him wants to live and part of him wants not so much death as he wants the pain to end. It is the part that wants to live that tells another I feel suicidal. If a suicidal person turns to you it is likely that he believes that you are more caring, more informed about coping with misfortune, and more willing to protect his confidentiality. No matter how negative the manner and content of his talk, he is doing a positive thing and has a positive view of you. 

  5. Be willing to give and get help sooner rather than later.
  6. Suicide prevention is not a last minute activity. All textbooks on depression say it should be reached as soon as possible. Unfortunately, suicidal people are afraid that trying to get help may bring them more pain: being told they are stupid, foolish, sinful, or manipulative; rejection; punishment; suspension from school or job; written records of their condition; or involuntary commitment. You need to do everything you can to reduce pain, rather than increase or prolong it. Constructively involving yourself on the side of life as early as possible will reduce the risk of suicide.

  7. Listen.
  8. Give the person every opportunity to unburden his troubles and ventilate his feelings. You don't need to say much and there are no magic words. If you are concerned, your voice and manner will show it. Give him relief from being alone with his pain; let him know you are glad he turned to you. Patience, sympathy, acceptance. Avoid arguments and advice giving.

  9. ASK: Are you having thoughts of suicide?
  10. Myth: Talking about it may give someone the idea. People already have the idea; suicide is constantly in the news media. If you ask a despairing person this question you are doing a good thing for them: you are showing him that you care about him, that you take him seriously, and that you are willing to let him share his pain with you. You are giving him further opportunity to discharge pent up and painful feelings. If the person is having thoughts of suicide, find out how far along his ideation has progressed.

  11. If the person is acutely suicidal, do not leave him alone.
  12. If the means are present, try to get rid of them. Detoxify the home.

  13. Urge professional help.
  14. Persistence and patience may be needed to seek, engage and continue with as many options as possible. In any referral situation, let the person know you care and want to maintain contact.

  15. No secrets.
  16. It is the part of the person that is afraid of more pain that says Don't tell anyone. It is the part that wants to stay alive that tells you about it. Respond to that part of the person and persistently seek out a mature and compassionate person with whom you can review the situation. (You can get outside help and still protect the person from pain causing breaches of privacy.) Do not try to go it alone. Get help for the person and for yourself. Distributing the anxieties and responsibilities of suicide prevention makes it easier and much more effective.

  17. From crisis to recovery.
  18. Most people have suicidal thoughts or feelings at some point in their lives; yet less than 2% of all deaths are suicides. Nearly all suicidal people suffer from conditions that will pass with time or with the assistance of a recovery program. There are hundreds of modest steps we can take to improve our response to the suicidal and to make it easier for them to seek help. Taking these modest steps can save many lives and reduce a great deal of human suffering.

WARNING SIGNS

Conditions associated with increased risk of suicide
  • Death or terminal illness of relative or friend.
  • Divorce, separation, broken relationship, stress on family.
  • Loss of health (real or imaginary).
  • Loss of job, home, money, status, self-esteem, personal security.
  • Alcohol or drug abuse.
  • Depression. In the young depression may be masked by hyperactivity or acting out behavior. In the elderly it may be incorrectly attributed to the natural effects of aging. Depression that seems to quickly disappear for no apparent reason is cause for concern. The early stages of recovery from depression can be a high risk period. Recent studies have associated anxiety disorders with increased risk for attempted suicide.
Emotional and behavioral changes associated with suicide
  • Overwhelming Pain: pain that threatens to exceed the person's pain coping capacities. Suicidal feelings are often the result of longstanding problems that have been exacerbated by recent precipitating events. The precipitating factors may be new pain or the loss of pain coping resources.
  • Hopelessness: the feeling that the pain will continue or get worse; things will never get better.
  • Powerlessness: the feeling that one's resources for reducing pain are exhausted.
  • Feelings of worthlessness, shame, guilt, self-hatred, no one cares. Fears of losing control, harming self or others.
  • Personality becomes sad, withdrawn, tired, apathetic, anxious, irritable, or prone to angry outbursts.
  • Declining performance in school, work, or other activities. (Occasionally the reverse: someone who volunteers for extra duties because they need to fill up their time.)
  • Social isolation; or association with a group that has different moral standards than those of the family.
  • Declining interest in sex, friends, or activities previously enjoyed.
  • Neglect of personal welfare, deteriorating physical appearance.
  • Alterations in either direction in sleeping or eating habits.
  • (Particularly in the elderly) Self-starvation, dietary mismanagement, disobeying medical instructions.
  • Difficult times: holidays, anniversaries, and the first week after discharge from a hospital; just before and after diagnosis of a major illness; just before and during disciplinary proceedings. Undocumented status adds to the stress of a crisis.
Suicidal Behavior
  • Previous suicide attempts, mini-attempts.
  • Explicit statements of suicidal ideation or feelings.
  • Development of suicidal plan, acquiring the means, rehearsal behavior, setting a time for the attempt.
  • Self-inflicted injuries, such as cuts, burns, or head banging.
  • Reckless behavior. (Besides suicide, other leading causes of death among young people in New York City are homicide, accidents, drug overdose, and AIDS.) Unexplained accidents among children and the elderly.
  • Making out a will or giving away favorite possessions.
  • Inappropriately saying goodbye.
  • Verbal behavior that is ambiguous or indirect: I'm going away on a real long trip., You won't have to worry about me anymore., I want to go to sleep and never wake up., I'm so depressed, I just can't go on., Does God punish suicides?, Voices are telling me to do bad things., requests for euthanasia information, inappropriate joking, stories or essays on morbid themes.
A WARNING ABOUT WARNING SIGNS
The majority of the population at any one time does not have many of the warning signs and has a lower suicide risk rate. But a lower rate in a larger population is still a lot of people - and many completed suicides had only a few of the conditions listed above. In a one person to another person situation, all indications of suicidality need to be taken seriously.

Read more


Saya pernah membaca sebuah buku karangan James Hillman, seorang psikolog Amerika aliran Jungian, berjudul “suicide and the soul”.
James Hillman menyatakan bahwa bunuh diri adalah suatu dorongan dari jiwa manusia kepada kematian. oleh karena itu bunuh diri pada dasarnya tidak dapat dikatakan salah secara moral.
Bunuh diri adalah dorongan normal yang ada dalam diri setiap manusia ketika jiwanya merasa cukup, entah dengan alasan apapun, kepada kehidupan yang dijalaninya. sehingga jiwa menuntut orang tersebut untuk segera mengakhiri hidupnya.
James Hillman juga menyatakan bahwa bunuh diri sebenarnya tidak ada. istilah ini hanyalah sebuah hasil dari pemikiran medis belaka. Bunuh diri pada dasarnya sebenarnya sama dengan segala macam kematian yang lainnya. Dasar pemikirannya ini adalah pernyataannya bahwa setiap orang merancang kematiannya setiap hari. contohnya: orang ketika makan memiliki daging atao sayur adalah hasil dari dorongan jiwanya kepada kematian. Bila terus memilih daging dia akan mati karena penyakit kolesterol, jantung, dll. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut sebenanrya melakukan bunuh diri. Namun pada kenyataannya banyak orang menganggap kematian orang yang makan daging dan sakit adalah kematian biasa.
Maka, bagaimana menurut anda?
Apakah bunuh diri itu memang adalah dorongan dari jiwa yang secara moral bernilai netral?
“GOD grant me the serenity to accept the things that i can not change,to change the things i can, and the wisdom to know the different.”
Fransisco Rosarians Enga Geken
Sumber:  http://groups.yahoo.com/group/janganbunuhdiri/message/5

Read more

Written by fatma sw 0 comments Posted in: , ,

Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit untuk dilalui. Tapi jika sejak remaja kau sudah merasa bahwa kau gay/lesbian/transeksual, masa itu akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menyebabkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa dia homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orangtua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat.

Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit atau semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/lesbian/transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka bisa kaulihat bagaimana remaja sering bergerombol ke sana kemari demi untuk jadi bagian dari suatu kelompok (dan moga-moga kau bisa masuk kelompok populer). Saat kau berbeda, kau jadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat kau berbeda, kau akan jadi sasaran bullying mereka yang mayoritas. Belum lagi jika kau berasal dari keluarga yang kurang harmonis, di mana keluarga tidak bisa jadi pilar tempatmu bersandar. Meskipun keluarga harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri.

Bayangkan betapa takutnya dirimu saat mengetahuinya. Kau tentu tidak mau dipanggil si homo, banci, lesbi, bencong, lines, atau apalah sebutan lainnya selama di sekolah, kan? Atau bahkan kau bisa dipukuli di sekolah setiap hari karena alasan bahwa dirimu “beda”. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Satu kali. Berpikir untuk mengakhiri hidup agar orang tidak perlu tahu bahwa saya lesbian. Dan kini tiap hari saya bersyukur niat itu hanya sebatas niatan dan saya tidak jadi melakukannya. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.

Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukannya nalar. Alexander Stevens, Asst. Professor di Oregon Health and Science University, menjelaskan bahwa otak remaja adalah “pekerjaan yang belum selesai.” Riset terbaru menyatakan jaringan saraf di otak bagian depan yang diperlukan untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis dan nalar baru akan selesai terbentuk pada usia 20 tahunan.

Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta yang dialami oleh remaja terasa begitu indah karena emosi mereka membanjir mengalir drastis dalam otak mereka.

Oleh karena itu coming out, tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia di bawah 19 tahun. Cobalah untuk beradaptasi sekarang, kau bisa coming out nanti kalau kau sudah sukses dan berprestasi sehingga debu pun menyingkir saat kau hendak berjalan. Coming out butuh kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara saksama, bukan dilakukan secara impulsif.

Banyak yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan orientasi seksual mereka. Dan sayangnya, mereka benar. Banyak remaja GLBT yang jadi sasaran siksaan fisik dan verbal. Dan bullying terus-menerus ini bisa mendorong bunuh diri. Sumber: http://www.suicide.org/gay-and-lesbian-suicide.html

Proses penerimaan diri seseorang menyadari bahwa mereka gay/lesbian/transeksual adalah proses yang panjang berliku dan menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin banyak kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong risiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya juga banyak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial.

Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001 dari situs http://www.suicide.org/, remaja usia 15-24 meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30%-nya adalah remaja gay/lesbian/transeksual. Menurut data statistik dari http://www.lambda.org/youth_suicide.htm, 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia sendiri menurut majalah Tempo dalam terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian terhadap tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada referensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini.

Masalah bunuh diri ini bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Percayalah suatu hari kau akan menemukan cinta yang kau cari. Ingatlah bahwa
kau tidak sendirian. Dirimu terlalu berharga. Bunuh diri bukanlah jawaban. Carilah bantuan.

Read more

Aku tidak lagi akan menjadi beban”

Tidak ada yang berarti lagi dalam hidupku”
Sepertinya aku nggak akan bertemu lagi denganmu
“Aku sudah tidak sanggup lagi, lebih baik kuakhiri saja”
Pernahkah kata-kata diatas tebersit dalam pikiran anda atau terucap dari bibir anda? Kalau anda menjawab ‘Ya’, segeralah mencari bantuan. Anda membutuhkan bantuan!
Bunuh diri atau mengambil nyawa diri sendiri oleh sebagian orang seringkali dianggap sebagai suatu solusi jitu atas suatu dilema yang sedang dihadapi, baik itu dilema fisik maupun psikologis. Secara ilmu psikologis, bunuh diri berakar dari DEPRESI. Depresi itu sendiri tidak memilih usia, ia bisa menyerang tua dan muda, laki-laki dan wanita.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Penyebab banyaknya angka bunuh diri disebabkan oleh kemiskinan dan tekanan ekonomi.  Dari jumlah tersebut,  41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. Sementara pada tahun 2009 marak diberitakan aksi bunuh diri dengan melompat dari pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat. Yang mengherankan, latar belakang kemiskinan bukan lagi menjadi pemicu utama bunuh diri karena rata-rata korban berasal dari keluarga mampu.
Kenapa memBUNUH DIRI sendiri?
Depresi?
Depresi adalah sebuah gangguan mood yang ditandai oleh perasaan sedih yang berlebihan dan keputusasaan yang biasanya disebabkan oleh tragedi pribadi baik itu kerugian material (bangkrut, kehilangan harta karena kebakaran, kecelakaan dsbgnya) atau immaterial (kematian anggota keluarga, putus cinta dsbgnya). Depresi bisa menghasilkan sebuah keadaan emosi tidak normal yang kemudian menghasilkan tindakan membesar-besarkan perasaan sedih dan rasa keputusasaan yang  (sebenarnya) tidak sesuai dengan realitas yang dialami.

4 Ciri Depresi:

EMOSI


Kesedihan adalah gejala depresi emosional yang paling mencolok dan luas. Orang yang depresi biasanya mengartikulasikan rasa depresi mereka dengan pernyataan-pernyataan seperti “Saya merasa sedih.” Biasanya gejala emosional ini dirasakan lebih parah di waktu pagi hari karena orang tersebut kesulitan tidur. Perasaan cemas juga hadir bersamaan dengan hilangnya kepuasan dan kehilangan minat (ogah-ogahan, malas). Kehilangan minat bisa dimulai dengan menurunnya kinerja dan meluas ke hampir semua kegiatan (hobi, aktivitas rekreasi, dll). Pada akhirnya, bahkan daya tarik terhadap fungsi-fungsi biologis seperti makan dan seks juga mulai hilang.

KOGNITIF

Istilah ini mengacu kepada proses mental kognitif yang ditandai dengan mengetahui, berpikir, belajar dan menilai. Ini merupakan proses intelektual di mana seseorang merasa atau mengerti. Individu yang mengalami depresi berpikir akan merasa dirinya sendiri NEGATIF. Mereka memandang masa depan dengan keputusasaan. Individu mungkin merasa bahwa mereka telah gagal dalam segalanya atau bahwa mereka menyebabkan masalah mereka sendiri. Mereka percaya bahwa mereka lebih rendah, tidak memadai dan tidak kompeten. Depresi fungsi kognitif menyebabkan mereka memiliki harga diri yang rendah. Ini akhirnya menabur benih bagi keputusasaan dan pesimisme. Individu yang mengalami depresi benar-benar percaya bahwa ia ditakdirkan gagal dan maka dari itu tidak ada jalan keluar.

MOTIVASIONAL

Gejala khusus biasanya bisa dilihat pertama kali oleh orang-orang yang dekat dengan orang yang depresi. Orang depresi biasanya memiliki kesulitan untuk “mulai.” Sebagian besar dari kita dapat bekerja untuk bangun pagi, pergi bekerja, berinteraksi dengan satu sama lain dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan rutin. Namun individu yang mengalami depresi ditandai dengan kepasifan atau kurangnya aktivitas. Kepasifan dan kurangnya respon yang normal ini merusak kemampuan individu untuk terlibat dalam kehidupan dan bersosialisasi. Dalam bentuknya yang paling ekstrem bahkan mungkin individu akan mengalami “kelumpuhan” di mana ia bahkan tidak merasa seperti melakukan apa yang diperlukan untuk kehidupannya sendiri.

SOMATIS

Ini adalah manifestasi biologis dari depresi. Ini mungkin adalah kumpulan gejala yang paling berbahaya karena dampaknya. Ketika depresi menjadi semakin parah, kegembiraan biologis dan psikologis yang (semestinya) membuat hidup layak dijalani menjadi terkikis. Hilangnya nafsu makan, kehilangan minat pada seks dan hasrat seksual, penurunan berat badan, dan gangguan tidur menyebabkan kelemahan dan kelelahan. Individu yang sedang depresi atau merasa tertekan merasa depresi secara fisik pula. Mereka lebih rentan terhadap penyakit fisik akibat depresi. Ketika menjadi lebih buruk maka akan mengikis dorongan dasar biologis.

BUNUH DIRI=SELESAI?

Jadi jika anda merasa memenuhi keempat ciri diatas maka anda akan merasa syah untuk mengakhiri hidup anda sendiri? Begitukah? Anda menganggap, masalah adalah anda dan anda adalah masalah jadi untuk mengakhiri masalah, anda berfikir bahwa andalah yang musti di matikan? Yakin? Anda berfikir bahwa jalan SATU-SATUnya untuk menyelesaikan masalah adalah MENYELESAIKAN anda? Anda ‘selesai’ sama dengan masalah selesai? Anda yakin dengan konsep itu?
Bukankah JAUH lebih baik, MASALAHNYA yang dihentikan? Siapa yang bisa melakukannya? ANDA! Apakah mungkin? Bagaimana caranya? Lanjutkan membaca..

MENGUBAH CARA BERFIKIR

Bagi anda yang ingin bunuh diri, mungkin pernah mendapati beragam kata-kata yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak akan memberikan masalah pada umatnya yang tidak mungkin bisa diatasinya”, “Dibalik setiap tembok masih ada ruang dan tembok yang lain”, “Bukan hanya kau saja yang mempunyai masalah di dunia ini”.  Iya, semua kata-kata itu terdengar menyejukkan bagi anda namun anda bingung bagaimana melangkah untuk memperbaiki diri dan melepaskan dari depresi? Anda merasa kaku, terpojok, kecil dan tidak berdaya.  Pernahkah mengajak fikiran anda berfikir yang tidak biasanya?
Pernahkah anda melihat hewan bunuh diri?
Mungkin ini pertanyaan yang cukup aneh bagi anda. Bagaimana mungkin urusan bunuh diri anda disamakan dengan perilaku hewan. Tapi dengan serius saya ajak anda berfikir, pernahkah anda melihat seekor binatang dengan keterbatasannya dan ketidakberdayaannya mengakhiri hidupnya sendiri? Tidak. Hewan biasanya mengakhiri hidup dengan menjadi makanan bagi hewan lain, diburu oleh manusia lalu dimakan atau mati secara alamiah.
Hewan menanggapi keinginan untuk hidup dengan mulia, tetapi hanya manusialah yang dapat mencapai indahnya kehidupan. Hewan hanya tahu desakan yang buta dan naluriah; tetapi manusialah yang dapat melampaui dorongan ini dengan menjadikannya sebagai fungsi yang alamiah. Manusia dapat memilih untuk hidup dalam kecerdasan seni yang tinggi, bahkan dalam kegembiraan rohani surgawi (spiritual). Sedangkan binatang tidak bertanya mengenai tujuan hidup, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan hidup, dan mereka tidak bunuh diri.
Bunuh diri yang dilakukan manusia menunjukkan bahwa makhluk semacam kita telah keluar dari tahap kebinatangan, namun kemudian menuju ke sebuah fakta bahwa ternyata usaha-usaha eksplorasi yang dilakukan manusia telah gagal mencapai level artistik dari pengalaman kehidupan.
Binatang mungkin tidak tahu arti kehidupan, namun manusia tak hanya memiliki kapasitas untuk pengakuan atas pemahaman nilai-nilai dan makna, tapi ia juga menyadari arti dan makna dari sebuah arti itu sendiri – sehingga ia sadar dan memiliki wawasan diri.
Jadi, rintangan-hambatan-tantangan-kegagalan-kehilangan adalah sebuah goresan unik diatas kanvas (kehidupan) yang membuat karya (hidup) anda nantinya akan menghasilkan sebuah mahakarya yang INDAH. Tanpanya, lukisan itu hanya akan berupa garis-garis atau titik-titik yang monoton dan tidak bernilai seni (tidak bermakna).
Kekhawatiran hanya ada dalam PIKIRAN anda sendiri. Sudahkah anda check kenyataan?

Anda mungkin sudah merasa melakukan segenap usaha keras untuk mencari solusi atas problematika yang anda alami namun tetap saja bertemu jalan buntu. Semua sudah terlambat dan hidup anda hancur. Begitu yang anda fikirkan. Dunia diluar diri anda terasa runtuh dan anda tidak menemukan alasan lagi untuk menjalani hidup. Maaf mengecewakan, tetapi semua yang anda cemaskan itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran anda saja. PIKIRAN. Iya, anda memang merasa sangat yakin dengan kondisi negatif itu. Tapi karena anda sendirilah yang mengulangnya terus menerus dalam kepala sehingga secara tidak sadar anda menganggap bahwa semua ‘sepertinya’ ‘kayaknya’ ‘mungkin’ itu menjadi sebuah fakta. Fakta yang cukup untuk mengakhiri hidup anda. Padahal itu hanya ada dikepala dan BUKAN merupakan kenyataan. Jadi, apa yang anda cemaskan? It’s not real. Seperti ketika anda mimpi buruk, apakah esok hari anda tidak keluar dari rumah karena ketakutan?
Carl Jung pernah berkata: Semua tergantung pada bagaimana kita melihat sesuatu, bukan bagaimana sesuatu itu sendiri.
Sayang sekali hidup anda yang luar biasa itu harus anda berhentikan sebelum waktunya

Tidakkah anda pernah berfikir bahwa setiap jiwa yang hadir di dunia ini mempunyai sumbangsihnya tersendiri bagi bumi? Atau anda hanya sempat berfikir bahwa kehadiran anda hanya sekedar untuk hidup saja dan menunggu mati? Bahwa jika anda tidak ada di bumi maka tidak akan berpengaruh sama sekali pada kehidupan? Salah! Kehadiran anda di dunia akan SANGAT berpengaruh, begitu pula dengan ketiadaan anda.
Mungkin ada sebagian dari anda yang ‘iseng’ ingin mengetahui seberapa berharganya anda dihadapan orang-orang sekitar anda ketika anda dikabarkan meninggal. Reaksi kesedihan atau penyesalan dari mereka anda bayangkan sebagai sesuatu yang membahagiakan bagi anda. Bukankah dengan begitu anda ingin dikasihani? Mengapa anda senang dikasihani? Bukankah itu kasihan sekali? Faktanya, tidak ada orang yang tidak bersedih jika seorang diantara mereka meninggal karena itu manusiawi. Jadi, pembuktian yang ingin anda lakukan sepertinya sia-sia. Untuk apa anda menyianyiakan hidup hanya untuk sebuah pembuktian yang semu? Padahal jika anda tidak berhenti sampai disitu, kehidupan yang luar biasa bagi anda telah menanti di depan, tinggal anda menjalaninya dengan melewati badai dan kebahagiaan. That’s Life!

MEMBANTU DIRI SENDIRI

Bantuan paling BESAR yang bisa membantu anda dari usaha bunuh diri adalah ANDA sendiri!
Anda yang harus memiliki KESADARAN awal bahwa hidup anda sebenarnya BERARTI hanya anda BELUM TAHU bagaimana mengatasi rintangannya. Dengan NIAT untuk BERUBAH menjadi LEBIH BAIK dan melakukan TINDAKAN, maka itu adalah LANGKAH BESAR untuk melanjutkan KEHIDUPAN.
Setelah itu, anda bisa meminta bantuan orang terdekat untuk mendengarkan keluh kesah anda, kalau anda merasa mereka tidak cukup membantu anda, bantuan profesional (Psikiater) juga bisa menjadi opsi.  Niat kecil untuk membantu diri sendiri sudah cukup membuktikan bahwa anda MENGHARGAI diri anda sendiri dan menghargai KEHIDUPAN (baca: tanggung jawab) yang sudah dipercayakan Sang Pencipta kepada anda.
So, don’t Jump!


 

Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=617

Read more

bunuh diri

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Dorongan untuk menyakiti diri sendiri selalu muncul bagi orang-orang penderita self-injury. Orang-orang seperti ini merasa tenang jika sudah terluka dan merasa bisa lebih mengontrol dengan menyakiti diri.

Jangan biarakan orang seperti itu. Perilaku seperti itu merupakan salah satu gangguan mental dan penderitanya membutuhkan pertolongan. Tindakan melukai diri merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Self-injury terjadi ketika seseorang melukai atau merugikan dirinya sendiri dengan sengaja seperti overdosis obat, memukul, membakar diri sendiri, menarik rambut atau mencoba mencekik diri sendiri.

Seperti dikutip dari BBCNews, Jumat (19/3/2010) ada beberapa hal yang diduga bisa menjadi penyebab

orang suka melukai dirinya sendiri, yaitu:


  1. Merasa putus asa mengenai suatu masalah dan tidak tahu ke mana harus mencari bantuan. Hal ini akan membuat seseorang terjebak dan tidak berdaya, sehingga dengan menyakiti diri sendiri akan membuat orang tersebut merasa lebih terkontrol.
  2. Perasaan marah atau tegang yang rasanya seperti mau meledak. Hal ini membuat ia berpikir dengan merugikan diri sendiri dapat mengurangi ketegangan yang ada.
  3. Perasaan bersalah atau malu yang tidak tertahankan. Menyakiti diri sendiri menjadi caranya untuk menghukum dirinya.
  4. Merasa terpisah antara dunia dan tubuhnya. Menyakiti diri sendiri bisa menjadi cara untuk mengatasi pengalaman yang menyedihkan seperti trauma atau pelecehan dan juga menghindari rasa sakit dari memori yang ada.

Kondisi ini juga pernah menimpa artis Hollywood Christina Ricci. Christina Ricci sudah menjadi aktris sejak usia anak-anak 10 tahun dan memulai debut filmnya pada tahun 1990 dalam film Mermaids. Ia mulai menyakiti dirinya sendiri saat remaja dengan cara memadamkan rokok di tanganya.

"Itu tidak sakit dan akan segera mendapatkan endorfin. Anda akan merasa seperti tidak ada apa-apa dan ini benar-benar menyenangkan," ungkapnya.

"Saya merasa depresi dan mulai membenci orang-orang yang menggemari saya, rasanya suara teriakan mereka mirip suara burung hantu dan saya juga membenci semua film saya. Karena seharusnya saya masih merasa anak muda," ujar Ricci.

Luka-luka ditubuhnya didapatkan saat ia sedang merasa marah atau mengalami depresi yang dalam, tapi dengan melukai tubuhnya menggunakan kuku atau kaleng soda akan membuatnya merasa tenang.

Untunglah Christina akhirnya bisa terbebas dari gangguan mental tersebut setelah melakukan terapi ke psikiater dan kini ia sudah melupakan hal-hal mengenai penghancuran dirinya sendiri.

Orang yang sering melukai dirinya sendiri harus segera mendapatkan pertolongan, karena luka-luka yang ditimbulkan bisa menimbulkan bekas yang tak kunjung hilang, kelumpuhan dan kemungkinan lebih besar untuk melakukan bunuh diri.

Perawatan yang bisa diberikan untuk orang dengan gangguan mental ini adalah membantunya berbicara sehingga tidak merasa sendiri. Pertolongan juga bisa dilakukan dengan memasukkannya ke dalam supprot group dimana orang-orang memiliki masalah yang sama dengannya, sehingga dukungan dan saran yang diberikan akan sangat membantu. Selain itu dilakukan terapi perilaku kognitif dan psikoterapi psikodinamik.

Jika dorongan untuk menyakiti diri sendiri datang, maka cobalah untuk rileks dan memusatkan pikiran pada hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Mencari cara lain untuk mengungkapkan perasaan seperti menggambar, menulis semua hal yang dirasakan atau melakukan pemijatan serta berilah pikiran positif untuk tidak ingin melukai diri sendiri lagi.

Jika orang yang dekat dengan Anda memiliki gangguan mental self injury, maka bisa dilakukan beberapa cara untuk membantunya yaitu:

  1. Mencoba mendengarkan permasalahannya tanpa bersikap kritis tapi cukup dengarkan saja.
  2. Cobalah untuk mengerti perasaannya dan kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain.
  3. Membantu mereka berpikir bahwa melukai diri sendiri bukanlah suatu rahasia yang memalukan, tapi sebagai masalah yang harus diselesaikan.

Read more

Selama beberapa dekade terakhir, semakin banyak anak muda muncul menarik keluar pisau cukur dan korek api untuk melukai dirinya sendiri, menurut laporan anekdot dari konselor. niat merekatidak mati, hanya untuk menyakiti, sebuah perilaku yang dikenal sebagai mencederai diri sendiri non-bunuh diri (non-suicidal self-injury).


Sebuah studi baru-baru ini mengenai kesehatan mental mahasiswa, disajikan pada bulan Agustus di Rapat American Psychological Association, dimana ditemukan bukti empiris untuk mendokumentasikan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suatu universitas, tingkat non-suicidal self-injury meningkat dua kali lipat 1997-2007.

Namun, para ilmuwan tidak benar-benar yakin apakah perilaku tersebut benar-benar menjadi lebih merajalela, ataukah mereka hanya mendeteksi kasus, lebih karena kewaspadaan yang tinggi. Dan beberapa peneliti mengatakan bahwa untuk sementara, mungkin ada peningkatan pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an, dan kemungkinan daerah yang terkena adalah dataran tinggi sekarang [Lihat: Apakah Anak-Anak Lebih sengaja terluka Sendiri?

Namun demikian, prevalensi luas non-suicidal self-injury tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat. Beberapa studi baru-baru ini telah menemukan beberapa 17-28 persen dari remaja dan dewasa muda mengatakan mereka telah terlibat dalam perilaku di beberapa titik dalam hidup mereka.

Para ilmuwan sekarang menganalisis non-suicidal self-injury dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencoba untuk menjawab sejumlah pertanyaan, termasuk: Mengapa orang melukai diri sendiri? Apakah beberapa orang terprogram untuk melukai diri sendiri? Dan perawatan apa yang bekerja paling baik untuk menghentikan pemotongan?

Konsekuensi dari perilaku ini melampaui kerusakan fisik dan termasuk depresi, kecemasan, isolasi sosial dan peningkatan risiko untuk mencoba bunuh diri, kata Peggy Andover, seorang profesor psikologi di Fordham University, New York.

"Semua konsekuensi negatif itu disatukan, digabungkan dengan fakta bahwa ini adalah suatu perilaku yang sangat umum di sekolah-sekolah tinggi kita, di sekolah kami, hanya di komunitas kami, itu benar-benar menyoroti kenyataan bahwa kita benar-benar perlu untuk mengatasi perilaku ini," kata Andover.
"Kekacauan" ini juga dapat menjadi resmi pada revisi yang akan datang di the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental), atau DSM, juga dikenal sebagai "Psychiatric Alkitab," karena tiba pada tahun 2013.

Bunuh diri primer?
non-suicidal self-injury umumnya didefinisikan oleh para ilmuwan sebagai "penghancuran disengaja diskrit jaringan tubuh tanpa maksud bunuh diri," ujar Kimberly Harrison, praktisi postdoctoral di Park Center Inc, sebuah pusat perawatan kesehatan mental di Fort Wayne, Ind. "Anda mencoba untuk menghancurkan tubuh Anda dalam beberapa cara tanpa mencoba bunuh diri," kata Harrison.

Berbagai perilaku sesuai dengan deskripsi ini, termasuk memotong, pembakaran dan ukiran kulit untuk mematahkan tulang, mencegah penyembuhan luka dan menempelkan pin dan jarum pada diri sendiri.
Orang-orang biasanya mulai melukai diri pada masa remaja awal, berusia antara 11 dan 15.

Perkiraan umum untuk persisnya bagaimana perilaku ini menjangkit pada remaja dan dewasa muda ini sangat bervariasi, dari terendah 4 persen sampai setinggi 38 percent. Perkiraan ini sebagian besar didasarkan pada studi yang melibatkan populasi kecil yang hanya terdiri dari beberapa ratus orang. Tapi secara bersama-sama, para ahli setuju bahwa persentase jatuh di suatu tempat pada remaja dewasa dibawah usia 20-an.

Yang paling jelas merugikan dari non-suicidal self-injury itu sendiri adalah timbulnya risiko infeksi dan konsekuensi psikologis seperti perilaku merasa malu dan takut penolakan sosial jika pelaku prilaku ini mengakui telah melukai diri mereka sendiri.

Ada juga beberapa bukti bahwa orang-orang yang terlibat dalam non-suicidal self-injury adalah meningkatnya risiko bunuh diri, meskipun hubungan yang terkuat di antara pasien psikiatri. Para peneliti telah berspekulasi bahwa orang yang baru pertama kali melakukan self-injury mungkin untuk bunuh diri, dengan cara itu mereka mampu mengatasi rasa takut dan rasa sakit yang berasal dari prilaku melukai diri mereka sendiri.

Tapi "sebagian besar orang yang melaporkan non-suicidal self-injury tidak berusaha untuk mengakhiri hidup mereka, mereka berusaha untuk menghadapi hidup," kata Janis Whitlock, seorang peneliti di Cornell University di Ithaca, NY, yang baru-baru ini diterbitkan sebuah artikel tinjauan mengenai non-suicidal self-injury, "Benar-benar kebalikan dari prilaku bunuh diri."
Seperti obat-obatan dan seks

Memang, para ahli mengatakan kebanyakan orang terlibat dalam self-injury sebagai cara untuk mengatasi emosi mereka, terutama yang negatif. Dan kebanyakan pelaku self-injury melaporkan bahwa prilaku ini bekerja - prilaku ini menenangkan mereka dan membawa rasa lega.

Menenangkan perasaan ini merupakan hasil yang paling mungkin dari pelepasan endorfin, bahan kimia otak yang menghilangkan rasa sakit dan dapat menghasilkan euforia.
"Orang-orang menggunakan self-injury dalam banyak cara yang orang lain menggunakan narkoba atau alkohol, atau makanan atau seks ... untuk mencoba merasa lebih baik dalam jangka pendek," kata Whitlock.
Orang mungkin juga melukai diri sebagai bentuk hukuman.

Matthew Nock, seorang profesor psikologi di Harvard University, telah datang dengan empat alasan utama untuk terlibat dalam self-injury, baik pribadi dan sosial. model-nya, yang baru-baru ini didiskusikan pada pertemuan APA, menunjukkan bahwa orang-orang melukai diri untuk:
* Meredakan ketegangan atau menghentikan perasaan buruk;
* Merasakan sesuatu, bahkan rasa sakit;
* Berkomunikasi dengan orang lain untuk menunjukkan bahwa mereka menderita;
* Membuat orang lain berhenti mengganggu mereka.

Ada juga bukti bahwa orang lebih cenderung melukai diri mereka jika mereka memiliki citra tubuh negatif ditambah dengan emosi negatif yang kuat dan miskin keterampilan yang sangat besar.
"Itu membuat lebih mudah bagi mereka untuk menyakiti tubuh," kata Jennifer Muehlenkamp, seorang profesor psikologi di University of Wisconsin-Eau Claire, yang mempelajari kondisi ini.

Beberapa penelitian juga menyarankan biologi adalah bermain. Misalnya, penelitian yang dipublikasikan dalam edisi Juli Journal of Affective Disorders menemukan bahwa non-suicidal self-injury memiliki opioid ((endorphin adalah jenis opioid) dengan tingkat yang lebih rendah dalam tubuh mereka daripada mereka yang tidak melukai diri sendiri. Satu hipotesis adalah bahwa orang-orang yang melakukan self-injury memiliki kekurangan opioid dan melakukannya untuk meningkatkan jumlah opioid alami mereka.

Penelitian akhir-akhir ini melibatkan pasien yang didiagnosis dengan gangguan kepribadian borderline, suatu kondisi di mana orang sering melukai diri sendiri, ditemukan bahwa self-injury dapat menghambat daerah otak yang berfungsi dalam pengolahan emosi.
Sesuatu tentang masa remaja

Masa remaja adalah masa utama bagi perilaku.
"Dari perkembangan persfektif, Anda punya badai yang sempurna untuk self-injury," kata Whitlock, peneliti Cornell.
Tidak hanya perlakuan kaum muda yang harus menavigasi semakin banyak relasi pribadi, otak dan tubuh mereka juga mengalami perubahan yang baik.
Pada masa remaja awal, bagian otak yang terlibat dalam emosi, adalah amigdala, dan bagian otak yang terlibat dalam pemikiran yang lebih tinggi, adalah korteks, tidak sepenuhnya terhubung, dan sebagai hasilnya, mereka tidak berkomunikasi serta mereka akan melakukannya nanti di dalam kehidupan.
"Ini sangat umum bagi remaja, khususnya remaja awal, merasa tingkat emosi yang tinggi dan benar-benar tidak memiliki keterampilan banyak berurusan dengan emosi," kata Whitlock.
Ketika otak anak-anak sepenuhnya berkembang, mereka mungkin belajar yang lainnya, seperti metode yang lebih positif untuk mengatasi emosi mereka, seperti berbicara dengan seorang teman, pergi untuk berlari, atau meditasi. Self-injury tampaknya menjadi perilaku kebanyakan remaja dalam tahap perkembangan, dengan sekitar 80 persen melaporkan bahwa mereka berhenti melukai diri dalam lima tahun pertama, menurut review Whitlock's, diterbitkan di the May Issue of the journal PLoS Medicine
 Dari sudut pandang praktis, self-injury merupakan perilaku yang mudah diakses untuk remaja yang mungkin memiliki kesulitan untuk menguasai narkoba dan alkohol.

Perbedaan gender
Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa self-injury adalah suatu perilaku yang lebih umum di antara anak-anak perempuan, tetapi studi terbaru menunjukkan lebih, bahkan perpecahan kedua gender. Sebuah studi mahasiswa oleh Harrison, ilmuwan Park Center, menemukan bahwa prilaku ini memiliki tingkat yang lebih tinggi pada laki-laki.
Namun, perempuan dan anak laki-laki akan menggunakan metode yang berbeda untuk melukai diri mereka sendiri.
Sebagai contoh, sebuah studi 2010 oleh Andover, dosen di Fordham, ditemukan bahwa perempuan yang lebih sering menggunakan pemotong sementara anak laki-laki lebih mungkin untuk membakar diri mereka sendiri. Para peneliti tidak yakin alasan perbedaan gender, tetapi menyarankan melibatkan gagasan bahwa beberapa metode cedera yang dianggap sebagai lebih maskulin, dan lain-lain lebih feminin.
Ini juga tidak jelas apakah jenis kelamin berbeda dalam mengapa mereka melukai diri sendiri di tempat pertama. Sebagai contoh, mungkin laki-laki mencari tampilan ketangguhan fisik dan bukan cara untuk mengatasi emosi. Namun, penelitian lebih banyak diperlukan di daerah ini.

Kurangnya pilihan pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk non-suicidal self-injury, meskipun teknik yang dikenal sebagai terapi perilaku dialektis, digunakan untuk gangguan kepribadian borderline, telah digunakan dengan beberapa keberhasilan.
"Perawatan ini sangat sangat intensif sekali," kata Andover, dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang dengan non-suicidal self-injury.
Mayoritas pelaku self-injury mengatasi kemungkinan perilaku tanpa mencari pengobatan, Muehlenkamp berkata, akan tetapi pengobatan bagi mereka yang masih mungkin bisa membantu.
"Siapa pun yang terlibat dalam self-injury, bahkan jika satu saat dalam kehidupan mereka, mereka masih lebih banyak laporan mengenai banyak kesulitan dalam kehidupan mereka, secara psikologis [dan] sosial," katanya. "Jadi, bahkan jika suatu saat Anda memiliki seseorang yang terluka oleh dirinya sendiri, mungkin bukanlah ide yang buruk bagi mereka untuk mempertimbangkan mencari beberapa jenis bantuan."

Read more

Makna di Balik Coretan Tangan

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,

Pernah iseng membuat corat-coret di atas kertas yang membentuk sebuah gambar? Itu bukan semata coretan enggak meaning, lho. Kepribadian dan perasaan kita yang tersembunyi, bisa terungkap dari situ. Ingin tahu makna coretan Anda?

Corat-coret sambil mengerjakan sesuatu yang lain, misalnya mengikuti rapat atau menelepon memang sering kita lakukan tanpa sadar. Gambar corat-coret ini sebenarnya merupakan ungkapan bawah sadar kita. Sama sepreti mimpi, corat-coret ini menggunakan bahasa gambar dan bisa kita cari maknanya. Lalu, apa ya artinya?

GAMBAR BENTUK PANAH
    Menunjukkan Anda orang yang ambisius dan agresif. Tanda panah ke kiri berarti senang mengenang masa lalu. Tanda panah ke kanan berarti siap untuk menyongsong masa depan. Tanda panah ke suatu objek berarti marah atau penasaran dengan objek tersebut.

LINGKARAN
    Gambar ini sering dikaitkan dengan keramahan, senang bicara dan senang berteman. Artinya Anda fleksibel, mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda juga memiliki iman yang kuat sehingga berjiwa optimis dan pantang menyerah.

BENTUK GEOMETRIS
    Gambar segitiga, segi empat, persegi panjang dan formasi pola lain menunjukkan pikiran yang logis. Gambar ini juga menandakan pikiran yang teratur, proses pemikiran yang jernih dan ketrampilan dalam membuat perencanaan efisiensi dan tujuan. Meski orang menilai Anda kolot, Anda mampu menyelesaikan pekerjaan dalam situasi kritis sekalipun.

BENANG KUSUT
    Lingkaran kusut yang besar melambangkan keinginan akan gaya hidup bebas yang menggelinding begitu saja. Sementara lingkaran kusut yang kecil melambangkan perasaan marah yang terpendam.

GAMBAR ABSTRAK
    Gambar ini sering melambangkan ketegangan, kesulitan dan gangguan dalam konsentrasi.

KOTAK
    Gambar ini memang lebih banyak digambar kaum lelaki. Kotak yang ditumpuk menunjukkan pemikiran yang metodis dan konstruktif. Kotak tertutup menandakan Anda orang yang menghargai privasi. Sementara kotak terbuka mencerminkan harapan untuk menyambut seseorang atau sebaliknya keinginan lari dari situasi yang menekan.

GAMBAR BENDA HIDUP BINATANG
    Mencerminkan bagaimana memandang diri sendiri. Jika menggambar hewan peliharaan, kucing misalnya, berarti Anda memiliki pribadi yang ramah dan sensitif. Gambar burung, artinya Anda memiliki daya imajinasi yang tinggi, penuh pertimbangan, cinta kasih, dan menyukai kebebasan.   Jika Anda menggambar hewan kecil, ini mengindikasikan perasaan takut yang tersembunyi. Juga menggambarkan lemah, pasif, kurang percaya diri dan introvert. Sedangkan gambar hewan liar mencerminkan agresivitas dan ketegasan. Gambar hewan yang suka bersenang-senang, misalnya anjing menunjukkan Anda orang yang senang bermain. Gambar hewan berjalan pelan, misalnya kura-kurang menunjukkan kpribadian yang senang merenung.

BUNGA
    Melambangkan sisi feminin dan keinginan melihat pertumbuhan, alam dan reproduksi. Gambar bunga juga menunjukkan keinginan berkembang dan menghasilkan sesuatu dalam hidup. Bunga dalam rangkaian bisa menggambarkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Sementara gambar bunga dan tumbuhan menunjukkan Anda orang yang sensitif, manusiawi, hangat dan terbuka.

POHON
    Gambar ini melambangkan ego dan ambisi. Jika pohon itu memiliki daun yang lebat dan buah, ini menunjukkan Anda orang yang mendambakan cinta, seks dan anak. Pohon tanpa daun dan buah, dengan daun terkulai menunjukkan depresi dan kurang semangat juang. Lalu, kalau pohon digambar dengan akar, menunjukkan orang yang mementingkan asal-usul.

HATI
    Ini sering digambar orang yang sedang jatuh cinta. Hati melambangkan pikiran orang yang menggambarnya dipenuhi cinta dan sentimentil.

WAJAH CANTIK
    Menggambarkan rasa kasih sayang kepada orang lain. Orang yang senang menggambar wajah cantik melihat hal-hal positif dalam diri seseorang, situasi, optimistik, manusiawi, bersifat baik, sensitif terhadap sesama. Ia juga mampu menunjukkan empati, ramah dan senang bergaul.

WAJAH JELEK
    Artinya Anda penuh curiga, tidak suka dan tidak percaya pada orang lain. Anda memiliki jiwa pemberontak, kurang percaya diri, senang melihat hal-hal buruk dalam diri setiap orang dan situasi. Anda juga defensif, cenderung mengubah fakta karena pandangan Anda yang 'gelap' dan sempit.

GAMBAR LAINNYA RUMAH
    Coretan ini banyak digambar perempuan. Gambar ini  menunjukkan perasaan terhadap lingkungan rumah. Coba perhatikan pintu depannya terbuka atau tertutup? Apakah cerobong asap mengeluarkan asap? Rumah yang tidak bahagia biasanya dilambangkan dengan rumah berbentuk asimetris tanpa jendela. Sementara rumah dengan cerobong asap yang mengeluarkan asap menunjukkan Anda orang yang bahagia dengan sikap positif terhadap kehidupan di rumah. Rumah yang dingin tanpa hiasan menunjukkan rasa tidak senang dengan kehidupan di rumah.

BENDA LANGIT
    Gambar bintang dan benda-benda langit menunjukkan perasaan penuh harapan, optimisme, ambisi dan kebutuhan untuk membuktikan serta mempromosikan diri.

KENDARAAN
    Gambar alat transportasi dalam bentuk apa pun melambangkan hasrat untuk pergi atau mencapai tujuan. Makin cepat jenis kendaraan yang digambar artinya Anda ingin cepat-cepat menyampaikan pendapat atau pergi.

MAKANAN
    Gambar ini memiliki tiga makna. Pertama, kebutuhan akan cinta. Kedua, hasrat yang ingin dipenuhi. Dan ketiga haus akan sesuatu. Mana yang sesuai dengan Anda?

SENJATA
    Gambar pistol, senapan dan anak panah menunjukkan sikap persaingan dan kebutuhan untuk membuktikan diri.

TANGGA
    Menunjukkan banyak ambisi, dorongan yang kuat untuk membuktikan diri, tidak sabar terhadap proses yang panjang dan berusaha untuk mencapai tujuan terdekat.

CORETAN NAMA
    Jika Anda senang menulis nama sendiri dengan bentuk tulisan berbeda maka Anda adalah seorang yang sedang mengalami krisis kepribadian. Anda tidak yakin dengan arah kehidupan Anda sendiri.

TANDA TANGAN
    Lalu bagaimana dengan goresan tanda tangan yang berulang-ulang secara tak sadar? Ini menandakan konflik emosional dan intelektual sedang meningkat sehingga Anda berada dalam kesulitan. 



Read more

Percaya atau tidak, golongan darah juga dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Meski Anda yang gemar berselancar di internet mungkin sudah pernah membacanya, tetap tak ada ruginya bagi kita untuk berbagi info soal golongan darah yang boleh dipercaya boleh pula tidak kepada khalayak yang lebih luas.

Golongan darah A
Biasanya orang yang bergolongan darah A berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya. Berkarakter tegas, bisa diandalkan dan dipercaya meski keras kepala. Sebelum melakukan sesuatu dipikirkan terlebih dulu dan direncanakan dengan matang.

Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan konsisten, berusaha membuat diri sewajar mungkin. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang. Mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya jadi terlihat tegar kendati  sebenarnya punya sisi yang lembek seperti gugup dan lain-lain sebagainya. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tak sependapat sehingga cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber'temperamen' sama.

Golongan darah B
Orang bergolongan darah B cenderung penasaran dan tertarik pada segalanya. Mereka juga cenderung punya terlalu banyak kegemaran dan hobi. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu tapi cepat juga bosan. Namun mereka bisa memilih  mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya. Mereka cenderung ingin jadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Tapi biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.

Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali  berbeda dengan yang ada dalam diri mereka. Mereka bisa dikatakan sebagai orang  yang tak ingin bergaul dengan banyak orang.

Golongan darah O
Orang yang bergolongan darah O biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup selain menciptakan  eharmonisan di antara para anggota grup tersebut. Figur mereka  terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksanakan sesuatu dengan tenang.

Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga kelihatan selalu riang, damai dan tak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).

Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan dan tak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain. Mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia punya pendapatnya sendiri tentang berbagai hal. Di lain pihak, mereka sangat fleksibel dan mudah menerima hal-hal baru.
Mereka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain, begitu juga yang mereka lihat dari TV. Terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi sering tergelincir dan membuat kesalahan besar karena kurang hati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini dicintai.

Golongan darah AB
Orang bergolongan darah AB ini punya perasaan sensitif dan lembut. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta hati-hati.

Di samping itu mereka keras dengan diri sendiri, pun dengan  orang-orang yang dekat dengannya. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian, sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
Mereka punya banyak teman, tapi mereka butuh waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Read more


SELERA musik dan tipe kepribadian ternyata berkaitan sangat erat.  Berdasarkan suatu riset berskala dunia, musik favorit bisa jadi merupakan cermin kepribadian diri Anda.

Penelitian ilmiah tentang hubungan selera musik dengan kepribadian dilakukan Professor Adrian North dari Heriot-Watt University. Dengan melibatkan puluhan ribu orang di seluruh dunia,  ia mengklaim  risetnya sebagai penelitian terbesar untuk jenis riset serupa yang pernah dilakukan sebelumnya.

Kepada BBC, Jumat (5/9),  North menggambarkan risetnya ini sebagai suatu hal yang mengejutkan dan signifikan.  "Kami selalu menduga adanya hubungan antara selera musik dan kepribadian. Ini adalah untuk pertamakalinya bahwa kami telah berhasil menelitinya dalam detil yang nyata. Belum pernah ada satu pun yang meneliti dengan skala seperti ini sebelumnya," tegasnya.

Hasil temuan paling menarik dari riset North adalah adanya kemiripan antara penggila musik klasik dan heavy metal.  "Salah satu yang paling mengejutkan adalah adanya kesamaan antara penggemar musik klasik dan heavy metal. Mereka sama-sama kreatif, tenang tetapi tidak outgoing," ungkapnya.

North juga menyatakan riset ini akan sangat berguna bagi kepentingan marketing. "Jika Anda memahami selera musik seseorang, maka Anda akan dapat mengatakan seperti pada pribadinya, siapa dan menjual apa," tambahnya.

Dalam risetnya, North meminta lebih dari 36.000 partisipan dari seluruh dunia untuk merata-ratakan 104 jenis musik. Mereka juga ditanya mengenai aspek kepribadian. Riset ini masih akan berlanjut dan Prof North, yang juga Dekan Fakultas Psikologi  Heriot-Watt University, berencana melibatkan partisipan untuk ikut ambil bagian mengisi kuisioner singkat secara online.

Musik dan Tipe Kepribadian Anda :

BLUES : Percaya diri tinggi , kreatif, outgoing, gentle dan tenang
JAZZ : Percaya diri tinggi, kreatif, outgoing dan tenang
CLASSIC : Percaya diri tinggi, kreatif, introvert dan tenang
RAP : Percaya diri tinggi, outgoing
OPERA :    Percaya diri tinggi, kreatif, gentle
COUNTRY dan WESTERN : Pekerja keras, outgoing
REGGAE : Percaya diri tinggi, kreatif, bukan pekerja keras, outgoing,  gentle dan tenang
DANCE : Kreatif, outgoing, tidak gentle
INDIE :   Percaya diri rendah, kreatif, bukan pekerja keras, tidak gentle
BOLLYWOOD : Kreatif, outgoing
ROCK/HEAVY METAL : Percaya diri rendah, kreatif, bukan pekerjakeras, tidak outgoing, gentle, tenang
POP : Percaya diri tinggi, tidak kreatif, pekerja keras, outgoing, gentle, tidak tenang
SOUL : Percaya diri tinggi, kreatif, outgoing, gentle, tenang

Read more

Orang Ekstrovert Lebih Bahagia

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,


Orang-orang berkepribadian terbuka alias ekstrovert sebenarnya adalah orang yang berbahagia. Kebahagiaan tersebut ternyata berawal dari ingatan mereka akan masa lalu.
Menurut penelitian, si ekstrovert biasanya lebih mengingat hal-hal positif dari masa lalunya dibanding orang dengan kepribadian lainnya. Jurang kebahagiaan antara orang yang ekstrovert terutama terlihat dengan orang yang berkepribadian nerotik yang memiliki ciri pencemas dan mudah marah.
"Kami menemukan orang yang sangat ekstrovert sangat bahagia dengan hidupnya karena mereka lebih menyimpan kenangan-kenangan positif dan lebih sedikit memiliki pikiran negatif serta penyesalan," kata Ryan Howell, psikolog dari San Francisco State University.
Sementara itu, orang berkepribadian nerotik memiliki pandangan akan masa lalu yang bertolak belakang dengan si ekstrovert. Akibatnya mereka pun sering merasa tak bahagia.
Howell dan timnya mewawancara 754 mahasiswa tentang kepribadian, kepuasan hidup dan memori personal. Hasilnya diketahui orang yang ekstrovert, yang ditandai dengan penuh energi dan lebih suka ditemani orang lain, lebih sering mengingat hal-hal menyenangkan dari masa lalunya ketimbang memori yang membuat sedih.
Melihat masa lalu dengan positif ternyata sangat berkaitan dengan kepuasan hidup seseorang. Untuk orang bertipe nerotik, makin banyak memori negatif dari masa lalunya, makin hidupnya jauh dari bahagia.
Meski kepribadian sulit untuk diubah, namun menurut Howell kita masih bisa mengubah cara pandang kita. "Melupakan hal-hal negatif dan menggantinya dengan hal yang positif bisa meningkatkan kepuasan hidup," katanya.

Read more

kanker paru-paru

Written by fatma sw 0 comments Posted in: ,


Kanker paru-paru, seperti semua kanker, merupakan hasil dari suatu kelainan sel, unit paling dasar dari kehidupan. Biasanya, tubuh mempertahankan sistem checks and balances pada pertumbuhan sel, sehingga sel membelah untuk menghasilkan sel-sel baru yang diperlukan. Gangguan terhadap sistem keseimbangan pertumbuhan sel tidak terkendali dan akhirnya membentuk suatu massa yang dikenal sebagai tumor.

Tumor dapat menjadi jinak atau ganas, dan tumor ganas inilah yang disebut kanker. Tumor jinak biasanya dapat dihilangkan dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Tumor ganas, di sisi lain, tumbuh secara agresif dan menyerang jaringan-jaringan tubuh lain, sehingga sel-sel tumor masuk ke dalam aliran darah atau sistem limfatik dan kemudian ke bagian dalam tubuh. Proses penyebaran ini disebut metastasis.

Karena kanker paru-paru cenderung menyebar atau bermetastasis, maka sangat mengancam jiwa. Kanker paru-paru dapat menyebar ke setiap organ di dalam tubuh, terutama kelenjar adrenal, hati, otak, dan tulang. Kanker ini juga salah satu jenis kanker yang paling sulit untuk diobati. Paru-paru juga organ yang paling sering terkena oleh tumor di bagian tubuh lain.

Penyebab

Penyebab utama kanker paru-paru adalah merokok baik karena perokok aktif atau perokok pasif. Sedangkan penyebab lainnya kontaminasi udara sekitar oleh zat asbes, polusi udara oleh asap kendaraan ataupun pembakaran termasuk asap rokok.

Gejala

Kanker tidak menunjukkan gejala apapun yang terlihat dari luar jika pertumbuhan sel belum parah. Sebanyak 25% dari penderita kanker paru-paru, diketahui gejalanya setelah mereka rutin melakukan sinar X di dada atau CT scan. Jika terbukti ada kanker paru maka akan tampak bulatan keci seperti koin.

Gejala yang berhubungan dengan kanker jenis ini antara lain gangguan pernapasan yang menyebabkan gejala seperti batuk, sesak napas, mengi, nyeri dada, dan batuk darah (Hemoptisis).

Jika kanker telah menyerang saraf, misalnya, dapat menimbulkan nyeri bahu yang bergerak di bagian luar lengan (disebut Pancoast sindrome) atau kelumpuhan pita suara menyebabkan suara serak. Invasi kerongkongan dapat menyebabkan kesulitan menelan (disfagia). Jika napas terhambat, menyebabkan infeksi (abses, radang paru-paru) di daerah yang terhambat.

Gejala yang terkait dengan metastasis: Kanker paru-paru yang telah menyebar ke tulang dapat memproduksi rasa sakit luar biasa di tulang. Sedangkan kanker yang telah menyebar ke otak dapat menyebabkan sejumlah gejala neurologis seperti penglihatan kabur, sakit kepala, kejang, atau gejala stroke seperti kelemahan atau hilangnya sensasi di bagian tubuh.

Pengobatan

Pengobatan untuk kanker paru-paru dapat melibatkan operasi pengangkatan kanker, kemoterapi, atau terapi radiasi, seperti halnya kombinasi dari perawatan ini. Keputusan tentang perawatan yang akan layak untuk individu tertentu harus memperhitungkan lokalisasi dan luasnya tumor serta status kesehatan pasien secara keseluruhan.

Seperti kanker lainnya, mungkin akan ditentukan terapi pencabutan atau kanker atau paliatif (tindakan yang tidak dapat mengobati kanker tetapi dapat mengurangi rasa sakit dan penderitaan pasien.

Sumber: medlineplus dan medicinet.

Read more

Secara naluriah, otot manusia semakin kuat dan bergerak lebih cepat ketika melihat segala hal yang berwarna merah. Kalau tidak percaya, amati refleks seorang istri saat menampar suaminya yang pulang dengan kemeja bernoda gincu merah.

Contoh di atas mungkin terlalu ekstrem, namun bisa dibandingkan dengan respons seorang murid saat menerima rapor yang isinya merah semua. Otot jantungnya pasti akan bekerja dengan lebih cepat, sehingga berdetak sangat kencang dan tidak terkendali.

Begitu juga ketika seorang pria berpapasan dengan gadis cantik di jalan lalu tertarik untuk mengikutinya. Jika gadis tersebut berbaju merah, tanpa disadari langkah kaki pria itu akan menjadi lebih cepat dibandingkan jika si gadis mengenakan baju dengan warna lain.

Andrew Elliot, seorang profesor dari University of Rochester, New York mengatakan secara naluriah gerakan otot manusia memang dipengaruhi oleh warna merah. Di dalam konsep evolusi, kecenderungan ini berguna untuk menghindarkan manusia dari bahaya yang mengancam.

Ketika muncul di wajah seseorang, warna merah sering menandakan amarah yang sedang memuncak. Jika ingin selamat, seseorang yang berhadapan dengan lawan yang wajahnya mulai memerah harus menggerakkan ototnya lebih cepat untuk segera menyingkir atau bersiap-siap membela diri.

"Ancaman dalam bentuk warna merah bisa memicu rasa khawatir, membuat perhatian teralihkan dan kadang-kadang mengusik kenyamanan. Itu semua mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang," ungkap Prof Elliot seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (4/6/2011).

Untuk membuktikan teori tersebut, Prof Elliot melakukan eksperimen terhadap 46 orang mahasiswanya. Sambil menggenggam alat khusus untuk mengamati kekuatan cengkeraman, para partisipan diminta membaca kuat-kuat beberapa kata yang ditulis dengan warna yang berbeda.

Setelah dibandingkan, cengkeraman tangan para mahasiswa cenderung menguat ketika membaca tulisan yang berwarna cerah terutama merah terang. Volume suara saat membaca tulisan berwarna merah juga teramati lebih tinggi dibandingkan saat membaca tulisan dalam warna yang lain.

Read more


Bukan perkara mudah untuk mengidentifikasi seseorang adalah psikopat atau bukan, karena butuh pemeriksaan mendalam oleh psikolog. Namun jika dari 10 pernyataan berikut banyak yang sesuai, maka ada kecenderungan untuk menjadi psikopat.

Psikopat adalah julukan untuk orang-orang yang mengidap psikopati, yakni gangguan kepribadian yang dicirikan dengan tidak adanya perasaan bersalah sedikitpun ketika melanggar sebuah norma maupun aturan. Psikopat juga identik dengan perilaku kejam dan tidak kenal takut.

Seorang psikopat memang tidak selalu melakukan kekerasan seperti yang digambarkan dalam film-film pembunuhan berantai. Kadang-kadang hingga taraf tertentu, perilaku sederhana seperti suka mencontek juga bisa dikategorikan sebagai gangguan perilaku psikopati.

Gangguan kepribadian ini kadang sulit diidentifikasi, karena kebanyakan psikopat tampak normal atau bahkan sangat ramah dalam kehidupan sehari-harinya. Namun di balik itu semua, seorang psikopat tidak punya empati atau kepekaan nurani terhadap lingkungan sekitarnya.

Salah satu contohnya adalah Seung-Hui Cho, mahasiswa Virginia Tech yang membantai 32 teman sekampusnya dengan pistol sebelum akhirnya mati bunuh diri pada tahun 2007. Beberapa orang terdekat mengakui, dalam kesehariannya Cho adalah seorang anak pendiam dan sangat pemalu.

Menurut penelitian, 1 dari 100 orang sebenarnya memiliki kecenderungan psikopati dengan tingkatan yang bervariasi. Dikutip dari TheSun, Sabtu (4/6/2011), 10 pernyataan berikut dapat dipakai sekedar untuk memperkirakan seberapa besar kecenderungan seseorang untuk menjadi psikopat.

Lingkari skor yang paling sesuai di setiap pernyataan: 3 jika sangat setuju, 2 jika setuju, 1 jika tidak setuju dan 0 jika sangat tidak setuju. Jumlahkan seluruh skor, lalu cocokkan dengan keterangan di bawah.



  1. Saya jarang membuat perencanaan. Saya lebih suka segalanya serba spontan dan mendadak. 0 1 2 3
  2. Menyelingkuhi pasangan boleh-boleh saja asal tidak ketahuan. 0 1 2 3
  3. Jika mendadak ada hal yang lebih baik maka tidak ada salahnya untuk membatalkan kesepakatan terdahulu. 0 1 2 3
  4. Melihat hewan terluka atau kesakitan tidak membuat saya merasa terusik sedikitpun. 0 1 2 3
  5. Berkendara dengan kecepatan tinggi, naik roller coaster serta terjun payung sangat menarik bagi saya. 0 1 2 3
  6. Tidak masalah untuk melangkahi seseorang demi mendapatkan apa yang saya inginkan. 0 1 2 3
  7. Saya pintar membujuk dan memiliki kemampuan khusus agar orang mau melakukan kemauan saya. 0 1 2 3
  8. Saya cocok melakukan tugas berbahaya karena mampu membuat keputusan dengan sangat cepat. 0 1 2 3
  9. Bagi saya sangat mudah untuk bertahan dalam sebuah situasi, ketika orang lain mulai merasa sangat tertekan. 0 1 2 3
  10. Jika saya bisa melawan seseorang, berarti orang itu memang pantas menerimanya. 0 1 2 3

Kecenderungan psikopat berdasarkan total skor:

0-10: Rendah
11-15: Di bawah rata-rata
16-20: Rata-rata
21-25: Tinggi
26-30: Sangat tinggi

Read more
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Showing posts with label health. Show all posts
Showing posts with label health. Show all posts

Sunday, September 18, 2011

system thinking

System Thinking Berpikir Sistem
When you have problem, what do you do? How do you think? Are you trying to cut the problem into smaller pieces then solve each pieces? For example: if you have a melon, then four people want it, each people have their own needs, one may need bigger part than the others, others may just want average part or smaller part. Will you ask one of them, cut it, then ask the others? If so, one will get the rest, that may not meet his/her needs. Ketika mempunyai masalah, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu akan memotong masalah itu menjadi bagian-bagian kecil kemudian memecahkan setiap bagian? Contoh: kalau kamu punya sebuah melon, setiap orang punya kebutuhan masing-masing. Akankah kamu bertanya pada orang pertama berapa banyak yang dibutuhkan, memotongnya, lalu bertanya kepada yang lain? Jika begitu, seseorang akan mendapat sisanya dan sisa itu mungkin tidak mencukupi kebutuhannya (dia mendapat bagian yang tidak adil). Cara berpikir mempengaruhi tindakan manusia sehari-hari. Russell L. Ackoff, seorang filsuf, berpendapat bahwa ada dua ide utama yang mendasari cara berpikir ilmiah tradisional. How we think influences human's behaviour everyday. Russell L. Ackoff, a philosopher, thinks that traditionally scientific system thinkings are based on two main ideas. Ide pertama didasarkan pada pemahaman bahwa semua fenomena dapat diterangkan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat yang menyatakan bahwa setiap hal mempunyai penyebab jika penyebab tersebut perlu dan cukup. Cara berpikir ini tidaklah memadai sebab seringkali mustahil bagi kita untuk dapat menemukan hubungan sebab-akibat satu demi satu antar komponen dalam sistem. First idea is based on understanding about every phenomenon can be explained with cause-effect corelation which says that every thing has a cause if the cause is necessary and sufficient. This system thinking is not enough, because it's often impossible for us to find the cause-effect corelation for every component in the system. Ide kedua disebut reduksionis yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia (serta setiap pengalaman tentang dunia) dapat direduksi, didekomposisi, didisasembli, atau dibagi-bagi sehingga diperoleh bagian yang tak dapat lagi dibagi-bagi. Penyelesaian masalah dari setiap bagian ini dianggap dapat menyelesaikan keseluruhan masalah. Second idea called reductionist which stated that everything in this world (and every experience about the world) can be reduced, decomposed, disassemblied or divided until it becomes parts that can't be divided anymore. The problem solution for every part is assumed to be able to solve the whole problem. Coba kita lihat contoh cara berpikir ilmiah reduksionis secara agak ekstrim: Let's see some examples which are rather extreme: 1. Seorang ayah mengidap penyakit diabetes dan lever (hati). Untuk memecahkan masalah ini, sang anak membagi masalah ini ke dalam dua bagian, yaitu sakit diabetes dan sakit lever. Suatu hari sang anak membawa sang ayah ke dokter ahli penyakit diabetes untuk mengatasi masalah pertama. Keesokan harinya ke dokter ahli penyakit lever untuk mengatasi masalah kedua. Kedua dokter tentu memberi obat yang berbeda, dokter ahli diabetes memberi obat untuk menurunkan kadar gula dalam darah sedangkan dokter ahli lever memberi obat untuk menaikkan kadar gula agar lever dapat berfungsi kembali. Pada masalah ini, kesalahan ada pada semua pihak, mengapa baik anak maupun orangtuanya tidak memberitahu tiap dokter bahwa ayahnya mempunyai penyakit lain dan mengapa sang dokter tidak menanyakan obat apa yang sedang dikonsumsi oleh sang ayah. Mungkin itulah akibat cara berpikir reduksionis. 1. A father has problems with diabetes and liver. To solve this problem, his son divide this problem into two parts, which is diabetes and liver. One day, his son took him to a doctor to cure his diabetes to solve the first part (the first problem). Another day, his son took him to another doctor to cure his liver to solve the second part (the second problem). Both doctors surely gave different presriptions. The diabetes doctor gave him medicines to lower glucose level in his blood, another doctor gave him other medicines to increase glucose level in his blood so his liver can work again. In this problem, mistakes was done by all parties, why both the son and the father did not tell the doctors about the father's whole problem and why the doctor did not ask what medicines is being consumed by the father. Maybe that's the result of reductionist system thinking. 2. Ketika kita mengerjakan soal ujian esai, mungkin setiap soalnya terdiri dari beberapa pertanyaan, lebih baik jika kita membaca semua pertanyaan yang berkaitan dengan soal tersebut terlebih dulu sebelum kita mengerjakannya, karena seringkali ketika kita mengerjakan soal tersebut satu per satu, ketika kita melangkah ke soal berikutnya mungkin kita baru benar-benar mengerti apa yang diminta penguji / pembuat soal. 2. When we do an essay test, a problem may not consist only one question, there may be some questions, it's better if we read the all questions that are related to the question first then answer the questions, because it often happens when we answer the question one by one, when we do the next question, that time we may just really understand what the examiners want. 3. Ini adalah contoh yang lebih umum, ketika kita menterjemahkan kalimat antar bahasa, jika kita artikan kata-katanya satu per satu tanpa melihat konteks kalimatnya, kemudian menyatukannya, hasil terjemahannya bukan tidak mungkin jadi aneh. contoh: Inggris - Indonesia : My grandfather are going to dance with her grandmother in a ballroom. Milik saya (My) besar ayah (grandfather) adalah (are) going (pergi) ke (to) dansa (dance) dalam (in) a (sebuah) bola ruang (ballroom). 3. This is a more common example, when we translate sentences from one language to another, if we translate the word one by one without seeing the sentence context, then assembling it, the result is not impossibly becoming weird. 4. Sepasang suami-istri hidup di negara dengan empat musim. Suatu ketika, musim dingin tiba. Kemajuan teknologi telah mendukung terciptanya selimut pemanas yang bisa diatur suhunya. Pasutri (pasangan suami istri) tersebut pun membeli satu selimut tersebut untuk mereka berdua. Selimut ini memang didisain untuk pasangan suami istri. Keunggulan selimut listrik ini, temperatur suhu selimut bagian kanan dan kiri bisa diatur oleh masing-masing penggunanya (jadi suhu selimut sebelah kanan mungkin berbeda dengan suhu selimut sebelah kiri). Suatu saat Sang suami tidur bersama istrinya. Di malam hari, sang suami merasa agak kedinginan, lalu dia berpikir, "Ah, pasti istri saya kedinginan.", karena cintanya pada sang istri, dia pun menaikkan suhu selimut istrinya. Tak lama kemudian, sang suami pun tertidur. Istri sang suami merasa agak kepanasan, dia pun berpikir, "Ah, suami saya pasti kepanasan." Karena cintanya pada sang suami, sang istri pun menurunkan suhu selimut suaminya. Akhirnya... mungkin saja sang istri mati kepanasan, sedangkan sang suami mati kedinginan. 4. I watched a movie about an otaku. He loves a girl. But one day, his friends ask him to see an exebition called "Comixet". He told the girl that he has to work but actually he came to see the exebition, having fun with his friends in his otaku dress. But, suddenly he met the girl, the girl saw him in his otaku dress then she told him not to meet her again. He think it is his fault that he is an otaku. He throw away all his toys; gundams, models, comics, etc. Then he told the girl that he has left his otaku behaviour, but the girl still can't forgive him. Actually, he is an otaku, that is not a problem, the main problem is his small lie. How the story continues... watch "Densha Otoko"! Nah, itulah mengapa sistem berpikir seperti itu dianggap kuno. Jaman sekarang ini, kedua ide tersebut mungkin tidak tepat lagi untuk diterapkan karena banyak masalah tidak dapat dipecahkan dengan kedua ide tersebut, ide yang tepat adalah dengan cara berpikir sistem, jadi kita memikirkan penyelesaian untuk keseluruhan masalah sekaligus, bukan per bagiannya. So, that's why that kind of system thinking is considered left behind. In the present times, when we have a problem, we should not think like our ancestor did, because many problems may not be possible to be solved by those two, the better idea is thinking with "system thinking", so we think to get a solution for the whole problem, not by its parts.

Friday, June 10, 2011

introvert? why not


Saat teman-teman saya senang menghabiskan waktu dengan bergerombol kesana kemari, saya lebih suka berteman intim dan setia dengan dua hingga tiga orang saja. Saat teman-teman saya mulai membicarakan ini dan itu, pamer, basa-basi, mengoceh dan lain sebagainya dengan mudah, saya cenderung diam dan tidak akan balas berbasa-basi. Di saat seperti itu, saya membaca obrolan mereka, membaca bahasa tubuh mereka, dan hal itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuk saya.

Di saat teman-teman saya senang dengan segala keramaian (konser musik, pertandingan antar sekolah, jalan-jalan ke mall saat weekend) yang menurut mereka bagus untuk menyegarkan diri, saya justru layu bila menjadi bagian dari keramaian itu. Saya punya cara sendiri untuk menyegarkan diri. Saya akan segar dengan menyendiri, dekat dengan alam, jauh dari hingar-bingar manusia.


I'm weird. 
Yes, something wrong with me

Teman-teman saya, mereka lebih bisa diterima dalam pergaulan, sedangkan saya tidak. Lalu, saya berpura-pura untuk mengikuti arus, agar bisa diterima oleh standar masyarakat. Saya berbicara ini itu, bergerombol dalam keramaian, menjadi penyemangat pertandingan antar sekolah. Then, am I happy? No. Saya tidak bisa menyehatkan kepala saya dalam dunia yang berisik. Saya tidak bisa lagi mendengar semesta berbicara dengan saya. Saat saya sadar bahwa saya tidak nyaman dengan berpura-pura, saya kembali menjadi 'Si aneh'.

Si aneh yang senang sendirian.
Si aneh yang jarang bicara.
Si aneh yang suka berpikir.
Si aneh yang sering di cap sombong.
Si aneh yang harus dirayu agar mau diajak 'bersenang-senang'.

Menyedihkan? Haha... saat itu saya kehilangan arah (ceile bahasa saya). Lalu saya mencari pembenaran, apa yang terjadi dengan saya. Mungkin saya ini anti sosial, mungkin otak saya terguncang waktu jatuh dari pohon jambu, mungkin saya mengalami gangguan jiwa, mungkin saya ini alien, mungkin saya ini jelmaan siluman, dan lain sebagainya.

Akhirnya, setelah menikmati sajian Psikologi dari berbagai sumber, saya menyadari bahwa saya ini tidak gila, saya bukan siluman, saya bukan alien (kalau yang ini masih dipertanyakan). Saya melakukan tes ini dan itu. Hasilnya... CIHUY! Saya ini normal. Hanya saja, saya diberkahi sesuatu yang kurang bisa diterima oleh standart kelayakan masyarakat.

Lima milyar penduduk dunia.
Saya hanya menjadi bagian 11,6% diantara mereka.
Minoritas. Akhirnya, saya menjadi seorang minoritas.
Akhirnya saya mengerti bagaimana rasanya. Not bad.

Dan dengan ini saya umumkan bahwa:

Saya positif introvert.
Ilmu psikologi mempelajari perilaku manusia untuk dibagi/digolongkan menjadi beberapa bagian. Sebagian dari kita mungkin mengenal istilah populer ini: sanguin, melankolis, flekmatis, dan kolerik. Ada juga pemilahan jenis sifat manusia yang saat ini sering dibicarakan, yaitu Eneagram. Sebenarnya ada banyak penggolongan lain, Introvert dan Ekstrovert termasuk di dalamnya, hanya saja istilah ini belum terlalu populer di lingkungan saya (mungkin juga anda).

Pada awalnya, saya mengira setelah seseorang mengetahui kemana kecenderungan sifat mereka, introvert maupun ekstrovert, ya sudah. Oh saya introvert, selesai. Ternyata tidak sesimpel itu, karena setelah saya pelajari, ada jurang yang sangat lebar diantara keduanya. Mari kita pahami perbedaan keduanya. Anda termasuk yang mana?

Ekstrovert:

  • Energi mereka didapat dari saling berinteraksi dengan orang lain.
  • Tidak bermasalah dengan keramaian dan kegiatan yang melibatkan banyak orang.
  • Punya banyak teman yang bisa saling bersenang-senang.
  • Tidak bermasalah untuk berbagi ide dengan orang asing sekalipun.
  • Berbicara/bertindak dulu baru berpikir, atau berbicara/bertindak sambil berpikir.
  • Mudah berbicara mengenai hal apapun, sekedar basa-basi hingga pembicaraan berbobot.
  • Bahagia apabila mereka dikelilingi orang lain.

Introvert:
  • Energi mereka didapat dari interaksi pada diri mereka sendiri, batin mereka sendiri.
  • Menyukai suasana yang sepi dan kesendirian.
  • Sedikit teman, karena mereka lebih suka pertemanan intim yang setia.
  • Hanya menceritakan gagasan mereka pada orang mereka percaya.
  • Berpikir (lama atau sangat lama) sebelum berbicara/bertindak.
  • Hanya berbicara bila memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan.
  • Bahagia dengan pemahaman pada diri sendiri sebelum memahami orang lain.
Kata kunci disini adalah energi*. Ekstrovert, sesuai namanya, mereka mendapat energi dari luar, dari orang-orang disekitarnya, hidup mereka akan bermakna bila saling berinteraksi, mereka memahami manusia dengan saling bicara. Sedangkan introvert, mereka mendapat energi dari dalam dirinya, dari pemikirannya, dari batinnya, hidup mereka bermakna apabila mereka memahami dan menghargai diri mereka sendiri, sehingga mereka mudah memahami dan menghargai dunia di luar mereka tanpa banyak bicara sekalipun. Ini yang saya sebut perbedaan sebesar jurang.

*Energi yang dimaksud adalah kepuasan batin, bukan energi fisik yang didapat dari makanan.


Introvert dalam minoritas.
Kami para introvert, jumlah kami jauh lebih sedikit, sehingga kecenderungan kami untuk bersenang-senang dengan pikiran kami sendiri sulit dimengerti dan diterima oleh para ekstrovert. Pada akhirnya, kami menjadi komunitas yang aneh dan tersisih. Padahal jika kalian tahu, pikiran milik kalian adalah sesuatu yang begitu menyenangkan untuk diajak berbicara, Bumi kalian, bunga, langit dan—ah, saya lupa, para ekstrovert lebih suka saling berbicara dan bersenang-senang sesama manusia. Hehehe, peace :)

Well yeah, saya hidup di dunia yang senang memilah-milah, dimana mayoritas berkuasa, dan minoritas nelangsa. Mayoritaslah yang membuat standar hidup untuk semua orang, karena mereka mendominasi. Sedangkan minoritas harus menyesuaikan diri dengan standar hidup tersebut. Orang supel lebih disukai oleh masyarakat, orang yang mudah berbicara akan langsung dicap sebagai pribadi yang hangat, orang yang mudah mengemukakan pendapatnya akan langsung diberi tepuk tangan. Setuju atau tidak, stigma yang berkembang di masyarakat adalah, ekstrovert mudah diterima, sifat mereka baik untuk kehidupan, masa depan mereka cerah, karena manusia adalah makhluk sosial.

Sementara itu, para introvert harus menghadapi konsep manusia adalah makhluk sosial. Dimana untuk bersosialisasi, kita harus (minimal) memakai bibir untuk bercuap-cuap agar bisa diterima sebagai makhluk sosial (sedangkan introvert hanya berbicara jika memang perlu berbicara). Jika tidak bisa mendayagunakan bibir, padahal kalian normal dan tidak ada yang salah dengan mulut kalian, maka kalian akan langsung dicap suka menyendiri, susah bergaul, anti sosial, dan SOMBONG. Itulah masalah yang paling sering dihadapi oleh seorang introvert.


Introvert sering tersisih.
Kami para introvert terlihat sering menyendiri (padahal tidak selalu), karena disanalah kami mendapatkan energi dan pemahaman akan diri kami sendiri, yang sulit dimengerti oleh para ekstrovert. Kami terlihat sulit bergaul, karena kami senang bermain-main dengan pikiran kami terlebih dahulu sebelum deal dengan orang lain. Kami bukan anti sosial, seorang introvert tidak selamanya diam, mereka juga butuh orang lain untuk berbicara, curhat, mengemukakan ide, bahkan gila-gilaan dan bisa 'sinting', tetapi dengan sangat berhati-hati, yang biasa kalian sebut dengan tertutup. Terakhir, kami bukan makhluk sombong. Semudah itukah menyebut kami sombong hanya karena kami pelit bicara?
Tuhan menciptakan kami tidak untuk bunuh diri.
Sudah introvert, susah dipahami, minoritas pula. Jika diibaratkan, kami ini seperti seekor cacing pipih yang hidup serumah dengan seekor naga. Saat kami ingin sendiri, kami tidak sedang bermasalah, depresi, ataupun sakit. Kami hanya ingin sendirian untuk mengisi ulang energi kami, energi yang telah habis saat kami menjalankan kewajiban untuk bersosialisasi, sangat melelahkan. Sekali lagi, kesendirian dan memahami diri sendiri adalah sumber energi kami. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau disekeliling kami ramai dan bising?

Bukan berarti kami ingin hidup di tengah hutan. Kami senang dengan dunia luar yang tenang. Kalaupun kami harus masuk ke dalam kebisingan, pesta, konser, mengerjakan proyek bersama, arisan, ngerumpi, kami tidak keberatan, tetapi seperti yang saya tulis di atas, kegiatan itu melelahkan pikiran kami, energi kami akan habis.

Kasarnya begini,

Misal dalam sebuah pesta, ekstrovert dan introvert berkumpul. Mereka saling berbincang dalam obrolan hangat dan menyenangkan (tuh, kami bukan anti sosial). Seorang ekstrovert akan pulang dari pesta dengan energi yang full, karena saat saling berinteraksi, ekstrovert mendapat energi/kepuasan batin. Sedangkan introvert, dia akan pulang dengan energi yang sudah terkuras, sehingga sesampai di rumah, dia perlu sendirian dalam keheningan untuk mengisi ulang energinya. Bagaimana mengisinya? Tentu saja dengan bersenang-senang melalui batin mereka sendiri.

what can I do to help who someone maybe suicidal?

  1.  Take it seriously.
  2. Myth: The people who talk about it don't do it. Studies have found that more than 75% of all completed suicides did things in the few weeks or months prior to their deaths to indicate to others that they were in deep despair. Anyone expressing suicidal feelings needs immediate attention. Myth: Anyone who tries to kill himself has got to be crazy. Perhaps 10% of all suicidal people are psychotic or have delusional beliefs about reality. Most suicidal people suffer from the recognized mental illness of depression; but many depressed people adequately manage their daily affairs. The absence of craziness does not mean the absence of suicide risk. Those problems weren't enough to commit suicide over, is often said by people who knew a completed suicide. You cannot assume that because you feel something is not worth being suicidal about, that the person you are with feels the same way. It is not how bad the problem is, but how badly it's hurting the person who has it.

  3. Remember: suicidal behavior is a cry for help.
  4. Myth: If a someone is going to kill himself, nothing can stop him. The fact that a person is still alive is sufficient proof that part of him wants to remain alive. The suicidal person is ambivalent -- part of him wants to live and part of him wants not so much death as he wants the pain to end. It is the part that wants to live that tells another I feel suicidal. If a suicidal person turns to you it is likely that he believes that you are more caring, more informed about coping with misfortune, and more willing to protect his confidentiality. No matter how negative the manner and content of his talk, he is doing a positive thing and has a positive view of you. 

  5. Be willing to give and get help sooner rather than later.
  6. Suicide prevention is not a last minute activity. All textbooks on depression say it should be reached as soon as possible. Unfortunately, suicidal people are afraid that trying to get help may bring them more pain: being told they are stupid, foolish, sinful, or manipulative; rejection; punishment; suspension from school or job; written records of their condition; or involuntary commitment. You need to do everything you can to reduce pain, rather than increase or prolong it. Constructively involving yourself on the side of life as early as possible will reduce the risk of suicide.

  7. Listen.
  8. Give the person every opportunity to unburden his troubles and ventilate his feelings. You don't need to say much and there are no magic words. If you are concerned, your voice and manner will show it. Give him relief from being alone with his pain; let him know you are glad he turned to you. Patience, sympathy, acceptance. Avoid arguments and advice giving.

  9. ASK: Are you having thoughts of suicide?
  10. Myth: Talking about it may give someone the idea. People already have the idea; suicide is constantly in the news media. If you ask a despairing person this question you are doing a good thing for them: you are showing him that you care about him, that you take him seriously, and that you are willing to let him share his pain with you. You are giving him further opportunity to discharge pent up and painful feelings. If the person is having thoughts of suicide, find out how far along his ideation has progressed.

  11. If the person is acutely suicidal, do not leave him alone.
  12. If the means are present, try to get rid of them. Detoxify the home.

  13. Urge professional help.
  14. Persistence and patience may be needed to seek, engage and continue with as many options as possible. In any referral situation, let the person know you care and want to maintain contact.

  15. No secrets.
  16. It is the part of the person that is afraid of more pain that says Don't tell anyone. It is the part that wants to stay alive that tells you about it. Respond to that part of the person and persistently seek out a mature and compassionate person with whom you can review the situation. (You can get outside help and still protect the person from pain causing breaches of privacy.) Do not try to go it alone. Get help for the person and for yourself. Distributing the anxieties and responsibilities of suicide prevention makes it easier and much more effective.

  17. From crisis to recovery.
  18. Most people have suicidal thoughts or feelings at some point in their lives; yet less than 2% of all deaths are suicides. Nearly all suicidal people suffer from conditions that will pass with time or with the assistance of a recovery program. There are hundreds of modest steps we can take to improve our response to the suicidal and to make it easier for them to seek help. Taking these modest steps can save many lives and reduce a great deal of human suffering.

WARNING SIGNS

Conditions associated with increased risk of suicide
  • Death or terminal illness of relative or friend.
  • Divorce, separation, broken relationship, stress on family.
  • Loss of health (real or imaginary).
  • Loss of job, home, money, status, self-esteem, personal security.
  • Alcohol or drug abuse.
  • Depression. In the young depression may be masked by hyperactivity or acting out behavior. In the elderly it may be incorrectly attributed to the natural effects of aging. Depression that seems to quickly disappear for no apparent reason is cause for concern. The early stages of recovery from depression can be a high risk period. Recent studies have associated anxiety disorders with increased risk for attempted suicide.
Emotional and behavioral changes associated with suicide
  • Overwhelming Pain: pain that threatens to exceed the person's pain coping capacities. Suicidal feelings are often the result of longstanding problems that have been exacerbated by recent precipitating events. The precipitating factors may be new pain or the loss of pain coping resources.
  • Hopelessness: the feeling that the pain will continue or get worse; things will never get better.
  • Powerlessness: the feeling that one's resources for reducing pain are exhausted.
  • Feelings of worthlessness, shame, guilt, self-hatred, no one cares. Fears of losing control, harming self or others.
  • Personality becomes sad, withdrawn, tired, apathetic, anxious, irritable, or prone to angry outbursts.
  • Declining performance in school, work, or other activities. (Occasionally the reverse: someone who volunteers for extra duties because they need to fill up their time.)
  • Social isolation; or association with a group that has different moral standards than those of the family.
  • Declining interest in sex, friends, or activities previously enjoyed.
  • Neglect of personal welfare, deteriorating physical appearance.
  • Alterations in either direction in sleeping or eating habits.
  • (Particularly in the elderly) Self-starvation, dietary mismanagement, disobeying medical instructions.
  • Difficult times: holidays, anniversaries, and the first week after discharge from a hospital; just before and after diagnosis of a major illness; just before and during disciplinary proceedings. Undocumented status adds to the stress of a crisis.
Suicidal Behavior
  • Previous suicide attempts, mini-attempts.
  • Explicit statements of suicidal ideation or feelings.
  • Development of suicidal plan, acquiring the means, rehearsal behavior, setting a time for the attempt.
  • Self-inflicted injuries, such as cuts, burns, or head banging.
  • Reckless behavior. (Besides suicide, other leading causes of death among young people in New York City are homicide, accidents, drug overdose, and AIDS.) Unexplained accidents among children and the elderly.
  • Making out a will or giving away favorite possessions.
  • Inappropriately saying goodbye.
  • Verbal behavior that is ambiguous or indirect: I'm going away on a real long trip., You won't have to worry about me anymore., I want to go to sleep and never wake up., I'm so depressed, I just can't go on., Does God punish suicides?, Voices are telling me to do bad things., requests for euthanasia information, inappropriate joking, stories or essays on morbid themes.
A WARNING ABOUT WARNING SIGNS
The majority of the population at any one time does not have many of the warning signs and has a lower suicide risk rate. But a lower rate in a larger population is still a lot of people - and many completed suicides had only a few of the conditions listed above. In a one person to another person situation, all indications of suicidality need to be taken seriously.

Bunuh Diri: Dorongan Jiwa


Saya pernah membaca sebuah buku karangan James Hillman, seorang psikolog Amerika aliran Jungian, berjudul “suicide and the soul”.
James Hillman menyatakan bahwa bunuh diri adalah suatu dorongan dari jiwa manusia kepada kematian. oleh karena itu bunuh diri pada dasarnya tidak dapat dikatakan salah secara moral.
Bunuh diri adalah dorongan normal yang ada dalam diri setiap manusia ketika jiwanya merasa cukup, entah dengan alasan apapun, kepada kehidupan yang dijalaninya. sehingga jiwa menuntut orang tersebut untuk segera mengakhiri hidupnya.
James Hillman juga menyatakan bahwa bunuh diri sebenarnya tidak ada. istilah ini hanyalah sebuah hasil dari pemikiran medis belaka. Bunuh diri pada dasarnya sebenarnya sama dengan segala macam kematian yang lainnya. Dasar pemikirannya ini adalah pernyataannya bahwa setiap orang merancang kematiannya setiap hari. contohnya: orang ketika makan memiliki daging atao sayur adalah hasil dari dorongan jiwanya kepada kematian. Bila terus memilih daging dia akan mati karena penyakit kolesterol, jantung, dll. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut sebenanrya melakukan bunuh diri. Namun pada kenyataannya banyak orang menganggap kematian orang yang makan daging dan sakit adalah kematian biasa.
Maka, bagaimana menurut anda?
Apakah bunuh diri itu memang adalah dorongan dari jiwa yang secara moral bernilai netral?
“GOD grant me the serenity to accept the things that i can not change,to change the things i can, and the wisdom to know the different.”
Fransisco Rosarians Enga Geken
Sumber:  http://groups.yahoo.com/group/janganbunuhdiri/message/5
Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit untuk dilalui. Tapi jika sejak remaja kau sudah merasa bahwa kau gay/lesbian/transeksual, masa itu akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menyebabkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa dia homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orangtua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat.

Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit atau semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/lesbian/transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka bisa kaulihat bagaimana remaja sering bergerombol ke sana kemari demi untuk jadi bagian dari suatu kelompok (dan moga-moga kau bisa masuk kelompok populer). Saat kau berbeda, kau jadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat kau berbeda, kau akan jadi sasaran bullying mereka yang mayoritas. Belum lagi jika kau berasal dari keluarga yang kurang harmonis, di mana keluarga tidak bisa jadi pilar tempatmu bersandar. Meskipun keluarga harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri.

Bayangkan betapa takutnya dirimu saat mengetahuinya. Kau tentu tidak mau dipanggil si homo, banci, lesbi, bencong, lines, atau apalah sebutan lainnya selama di sekolah, kan? Atau bahkan kau bisa dipukuli di sekolah setiap hari karena alasan bahwa dirimu “beda”. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Satu kali. Berpikir untuk mengakhiri hidup agar orang tidak perlu tahu bahwa saya lesbian. Dan kini tiap hari saya bersyukur niat itu hanya sebatas niatan dan saya tidak jadi melakukannya. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.

Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukannya nalar. Alexander Stevens, Asst. Professor di Oregon Health and Science University, menjelaskan bahwa otak remaja adalah “pekerjaan yang belum selesai.” Riset terbaru menyatakan jaringan saraf di otak bagian depan yang diperlukan untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis dan nalar baru akan selesai terbentuk pada usia 20 tahunan.

Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta yang dialami oleh remaja terasa begitu indah karena emosi mereka membanjir mengalir drastis dalam otak mereka.

Oleh karena itu coming out, tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia di bawah 19 tahun. Cobalah untuk beradaptasi sekarang, kau bisa coming out nanti kalau kau sudah sukses dan berprestasi sehingga debu pun menyingkir saat kau hendak berjalan. Coming out butuh kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara saksama, bukan dilakukan secara impulsif.

Banyak yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan orientasi seksual mereka. Dan sayangnya, mereka benar. Banyak remaja GLBT yang jadi sasaran siksaan fisik dan verbal. Dan bullying terus-menerus ini bisa mendorong bunuh diri. Sumber: http://www.suicide.org/gay-and-lesbian-suicide.html

Proses penerimaan diri seseorang menyadari bahwa mereka gay/lesbian/transeksual adalah proses yang panjang berliku dan menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin banyak kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong risiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya juga banyak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial.

Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001 dari situs http://www.suicide.org/, remaja usia 15-24 meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30%-nya adalah remaja gay/lesbian/transeksual. Menurut data statistik dari http://www.lambda.org/youth_suicide.htm, 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia sendiri menurut majalah Tempo dalam terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian terhadap tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada referensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini.

Masalah bunuh diri ini bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Percayalah suatu hari kau akan menemukan cinta yang kau cari. Ingatlah bahwa
kau tidak sendirian. Dirimu terlalu berharga. Bunuh diri bukanlah jawaban. Carilah bantuan.

Bunuh diri, Solusi Masalah?

Aku tidak lagi akan menjadi beban”

Tidak ada yang berarti lagi dalam hidupku”
Sepertinya aku nggak akan bertemu lagi denganmu
“Aku sudah tidak sanggup lagi, lebih baik kuakhiri saja”
Pernahkah kata-kata diatas tebersit dalam pikiran anda atau terucap dari bibir anda? Kalau anda menjawab ‘Ya’, segeralah mencari bantuan. Anda membutuhkan bantuan!
Bunuh diri atau mengambil nyawa diri sendiri oleh sebagian orang seringkali dianggap sebagai suatu solusi jitu atas suatu dilema yang sedang dihadapi, baik itu dilema fisik maupun psikologis. Secara ilmu psikologis, bunuh diri berakar dari DEPRESI. Depresi itu sendiri tidak memilih usia, ia bisa menyerang tua dan muda, laki-laki dan wanita.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Penyebab banyaknya angka bunuh diri disebabkan oleh kemiskinan dan tekanan ekonomi.  Dari jumlah tersebut,  41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. Sementara pada tahun 2009 marak diberitakan aksi bunuh diri dengan melompat dari pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat. Yang mengherankan, latar belakang kemiskinan bukan lagi menjadi pemicu utama bunuh diri karena rata-rata korban berasal dari keluarga mampu.
Kenapa memBUNUH DIRI sendiri?
Depresi?
Depresi adalah sebuah gangguan mood yang ditandai oleh perasaan sedih yang berlebihan dan keputusasaan yang biasanya disebabkan oleh tragedi pribadi baik itu kerugian material (bangkrut, kehilangan harta karena kebakaran, kecelakaan dsbgnya) atau immaterial (kematian anggota keluarga, putus cinta dsbgnya). Depresi bisa menghasilkan sebuah keadaan emosi tidak normal yang kemudian menghasilkan tindakan membesar-besarkan perasaan sedih dan rasa keputusasaan yang  (sebenarnya) tidak sesuai dengan realitas yang dialami.

4 Ciri Depresi:

EMOSI


Kesedihan adalah gejala depresi emosional yang paling mencolok dan luas. Orang yang depresi biasanya mengartikulasikan rasa depresi mereka dengan pernyataan-pernyataan seperti “Saya merasa sedih.” Biasanya gejala emosional ini dirasakan lebih parah di waktu pagi hari karena orang tersebut kesulitan tidur. Perasaan cemas juga hadir bersamaan dengan hilangnya kepuasan dan kehilangan minat (ogah-ogahan, malas). Kehilangan minat bisa dimulai dengan menurunnya kinerja dan meluas ke hampir semua kegiatan (hobi, aktivitas rekreasi, dll). Pada akhirnya, bahkan daya tarik terhadap fungsi-fungsi biologis seperti makan dan seks juga mulai hilang.

KOGNITIF

Istilah ini mengacu kepada proses mental kognitif yang ditandai dengan mengetahui, berpikir, belajar dan menilai. Ini merupakan proses intelektual di mana seseorang merasa atau mengerti. Individu yang mengalami depresi berpikir akan merasa dirinya sendiri NEGATIF. Mereka memandang masa depan dengan keputusasaan. Individu mungkin merasa bahwa mereka telah gagal dalam segalanya atau bahwa mereka menyebabkan masalah mereka sendiri. Mereka percaya bahwa mereka lebih rendah, tidak memadai dan tidak kompeten. Depresi fungsi kognitif menyebabkan mereka memiliki harga diri yang rendah. Ini akhirnya menabur benih bagi keputusasaan dan pesimisme. Individu yang mengalami depresi benar-benar percaya bahwa ia ditakdirkan gagal dan maka dari itu tidak ada jalan keluar.

MOTIVASIONAL

Gejala khusus biasanya bisa dilihat pertama kali oleh orang-orang yang dekat dengan orang yang depresi. Orang depresi biasanya memiliki kesulitan untuk “mulai.” Sebagian besar dari kita dapat bekerja untuk bangun pagi, pergi bekerja, berinteraksi dengan satu sama lain dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan rutin. Namun individu yang mengalami depresi ditandai dengan kepasifan atau kurangnya aktivitas. Kepasifan dan kurangnya respon yang normal ini merusak kemampuan individu untuk terlibat dalam kehidupan dan bersosialisasi. Dalam bentuknya yang paling ekstrem bahkan mungkin individu akan mengalami “kelumpuhan” di mana ia bahkan tidak merasa seperti melakukan apa yang diperlukan untuk kehidupannya sendiri.

SOMATIS

Ini adalah manifestasi biologis dari depresi. Ini mungkin adalah kumpulan gejala yang paling berbahaya karena dampaknya. Ketika depresi menjadi semakin parah, kegembiraan biologis dan psikologis yang (semestinya) membuat hidup layak dijalani menjadi terkikis. Hilangnya nafsu makan, kehilangan minat pada seks dan hasrat seksual, penurunan berat badan, dan gangguan tidur menyebabkan kelemahan dan kelelahan. Individu yang sedang depresi atau merasa tertekan merasa depresi secara fisik pula. Mereka lebih rentan terhadap penyakit fisik akibat depresi. Ketika menjadi lebih buruk maka akan mengikis dorongan dasar biologis.

BUNUH DIRI=SELESAI?

Jadi jika anda merasa memenuhi keempat ciri diatas maka anda akan merasa syah untuk mengakhiri hidup anda sendiri? Begitukah? Anda menganggap, masalah adalah anda dan anda adalah masalah jadi untuk mengakhiri masalah, anda berfikir bahwa andalah yang musti di matikan? Yakin? Anda berfikir bahwa jalan SATU-SATUnya untuk menyelesaikan masalah adalah MENYELESAIKAN anda? Anda ‘selesai’ sama dengan masalah selesai? Anda yakin dengan konsep itu?
Bukankah JAUH lebih baik, MASALAHNYA yang dihentikan? Siapa yang bisa melakukannya? ANDA! Apakah mungkin? Bagaimana caranya? Lanjutkan membaca..

MENGUBAH CARA BERFIKIR

Bagi anda yang ingin bunuh diri, mungkin pernah mendapati beragam kata-kata yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak akan memberikan masalah pada umatnya yang tidak mungkin bisa diatasinya”, “Dibalik setiap tembok masih ada ruang dan tembok yang lain”, “Bukan hanya kau saja yang mempunyai masalah di dunia ini”.  Iya, semua kata-kata itu terdengar menyejukkan bagi anda namun anda bingung bagaimana melangkah untuk memperbaiki diri dan melepaskan dari depresi? Anda merasa kaku, terpojok, kecil dan tidak berdaya.  Pernahkah mengajak fikiran anda berfikir yang tidak biasanya?
Pernahkah anda melihat hewan bunuh diri?
Mungkin ini pertanyaan yang cukup aneh bagi anda. Bagaimana mungkin urusan bunuh diri anda disamakan dengan perilaku hewan. Tapi dengan serius saya ajak anda berfikir, pernahkah anda melihat seekor binatang dengan keterbatasannya dan ketidakberdayaannya mengakhiri hidupnya sendiri? Tidak. Hewan biasanya mengakhiri hidup dengan menjadi makanan bagi hewan lain, diburu oleh manusia lalu dimakan atau mati secara alamiah.
Hewan menanggapi keinginan untuk hidup dengan mulia, tetapi hanya manusialah yang dapat mencapai indahnya kehidupan. Hewan hanya tahu desakan yang buta dan naluriah; tetapi manusialah yang dapat melampaui dorongan ini dengan menjadikannya sebagai fungsi yang alamiah. Manusia dapat memilih untuk hidup dalam kecerdasan seni yang tinggi, bahkan dalam kegembiraan rohani surgawi (spiritual). Sedangkan binatang tidak bertanya mengenai tujuan hidup, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan hidup, dan mereka tidak bunuh diri.
Bunuh diri yang dilakukan manusia menunjukkan bahwa makhluk semacam kita telah keluar dari tahap kebinatangan, namun kemudian menuju ke sebuah fakta bahwa ternyata usaha-usaha eksplorasi yang dilakukan manusia telah gagal mencapai level artistik dari pengalaman kehidupan.
Binatang mungkin tidak tahu arti kehidupan, namun manusia tak hanya memiliki kapasitas untuk pengakuan atas pemahaman nilai-nilai dan makna, tapi ia juga menyadari arti dan makna dari sebuah arti itu sendiri – sehingga ia sadar dan memiliki wawasan diri.
Jadi, rintangan-hambatan-tantangan-kegagalan-kehilangan adalah sebuah goresan unik diatas kanvas (kehidupan) yang membuat karya (hidup) anda nantinya akan menghasilkan sebuah mahakarya yang INDAH. Tanpanya, lukisan itu hanya akan berupa garis-garis atau titik-titik yang monoton dan tidak bernilai seni (tidak bermakna).
Kekhawatiran hanya ada dalam PIKIRAN anda sendiri. Sudahkah anda check kenyataan?

Anda mungkin sudah merasa melakukan segenap usaha keras untuk mencari solusi atas problematika yang anda alami namun tetap saja bertemu jalan buntu. Semua sudah terlambat dan hidup anda hancur. Begitu yang anda fikirkan. Dunia diluar diri anda terasa runtuh dan anda tidak menemukan alasan lagi untuk menjalani hidup. Maaf mengecewakan, tetapi semua yang anda cemaskan itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran anda saja. PIKIRAN. Iya, anda memang merasa sangat yakin dengan kondisi negatif itu. Tapi karena anda sendirilah yang mengulangnya terus menerus dalam kepala sehingga secara tidak sadar anda menganggap bahwa semua ‘sepertinya’ ‘kayaknya’ ‘mungkin’ itu menjadi sebuah fakta. Fakta yang cukup untuk mengakhiri hidup anda. Padahal itu hanya ada dikepala dan BUKAN merupakan kenyataan. Jadi, apa yang anda cemaskan? It’s not real. Seperti ketika anda mimpi buruk, apakah esok hari anda tidak keluar dari rumah karena ketakutan?
Carl Jung pernah berkata: Semua tergantung pada bagaimana kita melihat sesuatu, bukan bagaimana sesuatu itu sendiri.
Sayang sekali hidup anda yang luar biasa itu harus anda berhentikan sebelum waktunya

Tidakkah anda pernah berfikir bahwa setiap jiwa yang hadir di dunia ini mempunyai sumbangsihnya tersendiri bagi bumi? Atau anda hanya sempat berfikir bahwa kehadiran anda hanya sekedar untuk hidup saja dan menunggu mati? Bahwa jika anda tidak ada di bumi maka tidak akan berpengaruh sama sekali pada kehidupan? Salah! Kehadiran anda di dunia akan SANGAT berpengaruh, begitu pula dengan ketiadaan anda.
Mungkin ada sebagian dari anda yang ‘iseng’ ingin mengetahui seberapa berharganya anda dihadapan orang-orang sekitar anda ketika anda dikabarkan meninggal. Reaksi kesedihan atau penyesalan dari mereka anda bayangkan sebagai sesuatu yang membahagiakan bagi anda. Bukankah dengan begitu anda ingin dikasihani? Mengapa anda senang dikasihani? Bukankah itu kasihan sekali? Faktanya, tidak ada orang yang tidak bersedih jika seorang diantara mereka meninggal karena itu manusiawi. Jadi, pembuktian yang ingin anda lakukan sepertinya sia-sia. Untuk apa anda menyianyiakan hidup hanya untuk sebuah pembuktian yang semu? Padahal jika anda tidak berhenti sampai disitu, kehidupan yang luar biasa bagi anda telah menanti di depan, tinggal anda menjalaninya dengan melewati badai dan kebahagiaan. That’s Life!

MEMBANTU DIRI SENDIRI

Bantuan paling BESAR yang bisa membantu anda dari usaha bunuh diri adalah ANDA sendiri!
Anda yang harus memiliki KESADARAN awal bahwa hidup anda sebenarnya BERARTI hanya anda BELUM TAHU bagaimana mengatasi rintangannya. Dengan NIAT untuk BERUBAH menjadi LEBIH BAIK dan melakukan TINDAKAN, maka itu adalah LANGKAH BESAR untuk melanjutkan KEHIDUPAN.
Setelah itu, anda bisa meminta bantuan orang terdekat untuk mendengarkan keluh kesah anda, kalau anda merasa mereka tidak cukup membantu anda, bantuan profesional (Psikiater) juga bisa menjadi opsi.  Niat kecil untuk membantu diri sendiri sudah cukup membuktikan bahwa anda MENGHARGAI diri anda sendiri dan menghargai KEHIDUPAN (baca: tanggung jawab) yang sudah dipercayakan Sang Pencipta kepada anda.
So, don’t Jump!


 

Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=617

Thursday, June 9, 2011

bunuh diri

Dorongan untuk menyakiti diri sendiri selalu muncul bagi orang-orang penderita self-injury. Orang-orang seperti ini merasa tenang jika sudah terluka dan merasa bisa lebih mengontrol dengan menyakiti diri.

Jangan biarakan orang seperti itu. Perilaku seperti itu merupakan salah satu gangguan mental dan penderitanya membutuhkan pertolongan. Tindakan melukai diri merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Self-injury terjadi ketika seseorang melukai atau merugikan dirinya sendiri dengan sengaja seperti overdosis obat, memukul, membakar diri sendiri, menarik rambut atau mencoba mencekik diri sendiri.

Seperti dikutip dari BBCNews, Jumat (19/3/2010) ada beberapa hal yang diduga bisa menjadi penyebab orang suka melukai dirinya sendiri, yaitu:


  1. Merasa putus asa mengenai suatu masalah dan tidak tahu ke mana harus mencari bantuan. Hal ini akan membuat seseorang terjebak dan tidak berdaya, sehingga dengan menyakiti diri sendiri akan membuat orang tersebut merasa lebih terkontrol.
  2. Perasaan marah atau tegang yang rasanya seperti mau meledak. Hal ini membuat ia berpikir dengan merugikan diri sendiri dapat mengurangi ketegangan yang ada.
  3. Perasaan bersalah atau malu yang tidak tertahankan. Menyakiti diri sendiri menjadi caranya untuk menghukum dirinya.
  4. Merasa terpisah antara dunia dan tubuhnya. Menyakiti diri sendiri bisa menjadi cara untuk mengatasi pengalaman yang menyedihkan seperti trauma atau pelecehan dan juga menghindari rasa sakit dari memori yang ada.

Kondisi ini juga pernah menimpa artis Hollywood Christina Ricci. Christina Ricci sudah menjadi aktris sejak usia anak-anak 10 tahun dan memulai debut filmnya pada tahun 1990 dalam film Mermaids. Ia mulai menyakiti dirinya sendiri saat remaja dengan cara memadamkan rokok di tanganya.

"Itu tidak sakit dan akan segera mendapatkan endorfin. Anda akan merasa seperti tidak ada apa-apa dan ini benar-benar menyenangkan," ungkapnya.

"Saya merasa depresi dan mulai membenci orang-orang yang menggemari saya, rasanya suara teriakan mereka mirip suara burung hantu dan saya juga membenci semua film saya. Karena seharusnya saya masih merasa anak muda," ujar Ricci.

Luka-luka ditubuhnya didapatkan saat ia sedang merasa marah atau mengalami depresi yang dalam, tapi dengan melukai tubuhnya menggunakan kuku atau kaleng soda akan membuatnya merasa tenang.

Untunglah Christina akhirnya bisa terbebas dari gangguan mental tersebut setelah melakukan terapi ke psikiater dan kini ia sudah melupakan hal-hal mengenai penghancuran dirinya sendiri.

Orang yang sering melukai dirinya sendiri harus segera mendapatkan pertolongan, karena luka-luka yang ditimbulkan bisa menimbulkan bekas yang tak kunjung hilang, kelumpuhan dan kemungkinan lebih besar untuk melakukan bunuh diri.

Perawatan yang bisa diberikan untuk orang dengan gangguan mental ini adalah membantunya berbicara sehingga tidak merasa sendiri. Pertolongan juga bisa dilakukan dengan memasukkannya ke dalam supprot group dimana orang-orang memiliki masalah yang sama dengannya, sehingga dukungan dan saran yang diberikan akan sangat membantu. Selain itu dilakukan terapi perilaku kognitif dan psikoterapi psikodinamik.

Jika dorongan untuk menyakiti diri sendiri datang, maka cobalah untuk rileks dan memusatkan pikiran pada hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Mencari cara lain untuk mengungkapkan perasaan seperti menggambar, menulis semua hal yang dirasakan atau melakukan pemijatan serta berilah pikiran positif untuk tidak ingin melukai diri sendiri lagi.

Jika orang yang dekat dengan Anda memiliki gangguan mental self injury, maka bisa dilakukan beberapa cara untuk membantunya yaitu:

  1. Mencoba mendengarkan permasalahannya tanpa bersikap kritis tapi cukup dengarkan saja.
  2. Cobalah untuk mengerti perasaannya dan kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain.
  3. Membantu mereka berpikir bahwa melukai diri sendiri bukanlah suatu rahasia yang memalukan, tapi sebagai masalah yang harus diselesaikan.

mengapa remaja suka menyakiti diri sendiri?

Selama beberapa dekade terakhir, semakin banyak anak muda muncul menarik keluar pisau cukur dan korek api untuk melukai dirinya sendiri, menurut laporan anekdot dari konselor. niat merekatidak mati, hanya untuk menyakiti, sebuah perilaku yang dikenal sebagai mencederai diri sendiri non-bunuh diri (non-suicidal self-injury).

Sebuah studi baru-baru ini mengenai kesehatan mental mahasiswa, disajikan pada bulan Agustus di Rapat American Psychological Association, dimana ditemukan bukti empiris untuk mendokumentasikan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suatu universitas, tingkat non-suicidal self-injury meningkat dua kali lipat 1997-2007.

Namun, para ilmuwan tidak benar-benar yakin apakah perilaku tersebut benar-benar menjadi lebih merajalela, ataukah mereka hanya mendeteksi kasus, lebih karena kewaspadaan yang tinggi. Dan beberapa peneliti mengatakan bahwa untuk sementara, mungkin ada peningkatan pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an, dan kemungkinan daerah yang terkena adalah dataran tinggi sekarang [Lihat: Apakah Anak-Anak Lebih sengaja terluka Sendiri?

Namun demikian, prevalensi luas non-suicidal self-injury tidak merupakan masalah kesehatan masyarakat. Beberapa studi baru-baru ini telah menemukan beberapa 17-28 persen dari remaja dan dewasa muda mengatakan mereka telah terlibat dalam perilaku di beberapa titik dalam hidup mereka.

Para ilmuwan sekarang menganalisis non-suicidal self-injury dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, mencoba untuk menjawab sejumlah pertanyaan, termasuk: Mengapa orang melukai diri sendiri? Apakah beberapa orang terprogram untuk melukai diri sendiri? Dan perawatan apa yang bekerja paling baik untuk menghentikan pemotongan?

Konsekuensi dari perilaku ini melampaui kerusakan fisik dan termasuk depresi, kecemasan, isolasi sosial dan peningkatan risiko untuk mencoba bunuh diri, kata Peggy Andover, seorang profesor psikologi di Fordham University, New York.

"Semua konsekuensi negatif itu disatukan, digabungkan dengan fakta bahwa ini adalah suatu perilaku yang sangat umum di sekolah-sekolah tinggi kita, di sekolah kami, hanya di komunitas kami, itu benar-benar menyoroti kenyataan bahwa kita benar-benar perlu untuk mengatasi perilaku ini," kata Andover.
"Kekacauan" ini juga dapat menjadi resmi pada revisi yang akan datang di the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental), atau DSM, juga dikenal sebagai "Psychiatric Alkitab," karena tiba pada tahun 2013.

Bunuh diri primer?
non-suicidal self-injury umumnya didefinisikan oleh para ilmuwan sebagai "penghancuran disengaja diskrit jaringan tubuh tanpa maksud bunuh diri," ujar Kimberly Harrison, praktisi postdoctoral di Park Center Inc, sebuah pusat perawatan kesehatan mental di Fort Wayne, Ind. "Anda mencoba untuk menghancurkan tubuh Anda dalam beberapa cara tanpa mencoba bunuh diri," kata Harrison.

Berbagai perilaku sesuai dengan deskripsi ini, termasuk memotong, pembakaran dan ukiran kulit untuk mematahkan tulang, mencegah penyembuhan luka dan menempelkan pin dan jarum pada diri sendiri.
Orang-orang biasanya mulai melukai diri pada masa remaja awal, berusia antara 11 dan 15.

Perkiraan umum untuk persisnya bagaimana perilaku ini menjangkit pada remaja dan dewasa muda ini sangat bervariasi, dari terendah 4 persen sampai setinggi 38 percent. Perkiraan ini sebagian besar didasarkan pada studi yang melibatkan populasi kecil yang hanya terdiri dari beberapa ratus orang. Tapi secara bersama-sama, para ahli setuju bahwa persentase jatuh di suatu tempat pada remaja dewasa dibawah usia 20-an.

Yang paling jelas merugikan dari non-suicidal self-injury itu sendiri adalah timbulnya risiko infeksi dan konsekuensi psikologis seperti perilaku merasa malu dan takut penolakan sosial jika pelaku prilaku ini mengakui telah melukai diri mereka sendiri.

Ada juga beberapa bukti bahwa orang-orang yang terlibat dalam non-suicidal self-injury adalah meningkatnya risiko bunuh diri, meskipun hubungan yang terkuat di antara pasien psikiatri. Para peneliti telah berspekulasi bahwa orang yang baru pertama kali melakukan self-injury mungkin untuk bunuh diri, dengan cara itu mereka mampu mengatasi rasa takut dan rasa sakit yang berasal dari prilaku melukai diri mereka sendiri.

Tapi "sebagian besar orang yang melaporkan non-suicidal self-injury tidak berusaha untuk mengakhiri hidup mereka, mereka berusaha untuk menghadapi hidup," kata Janis Whitlock, seorang peneliti di Cornell University di Ithaca, NY, yang baru-baru ini diterbitkan sebuah artikel tinjauan mengenai non-suicidal self-injury, "Benar-benar kebalikan dari prilaku bunuh diri."
Seperti obat-obatan dan seks

Memang, para ahli mengatakan kebanyakan orang terlibat dalam self-injury sebagai cara untuk mengatasi emosi mereka, terutama yang negatif. Dan kebanyakan pelaku self-injury melaporkan bahwa prilaku ini bekerja - prilaku ini menenangkan mereka dan membawa rasa lega.

Menenangkan perasaan ini merupakan hasil yang paling mungkin dari pelepasan endorfin, bahan kimia otak yang menghilangkan rasa sakit dan dapat menghasilkan euforia.
"Orang-orang menggunakan self-injury dalam banyak cara yang orang lain menggunakan narkoba atau alkohol, atau makanan atau seks ... untuk mencoba merasa lebih baik dalam jangka pendek," kata Whitlock.
Orang mungkin juga melukai diri sebagai bentuk hukuman.

Matthew Nock, seorang profesor psikologi di Harvard University, telah datang dengan empat alasan utama untuk terlibat dalam self-injury, baik pribadi dan sosial. model-nya, yang baru-baru ini didiskusikan pada pertemuan APA, menunjukkan bahwa orang-orang melukai diri untuk:
* Meredakan ketegangan atau menghentikan perasaan buruk;
* Merasakan sesuatu, bahkan rasa sakit;
* Berkomunikasi dengan orang lain untuk menunjukkan bahwa mereka menderita;
* Membuat orang lain berhenti mengganggu mereka.

Ada juga bukti bahwa orang lebih cenderung melukai diri mereka jika mereka memiliki citra tubuh negatif ditambah dengan emosi negatif yang kuat dan miskin keterampilan yang sangat besar.
"Itu membuat lebih mudah bagi mereka untuk menyakiti tubuh," kata Jennifer Muehlenkamp, seorang profesor psikologi di University of Wisconsin-Eau Claire, yang mempelajari kondisi ini.

Beberapa penelitian juga menyarankan biologi adalah bermain. Misalnya, penelitian yang dipublikasikan dalam edisi Juli Journal of Affective Disorders menemukan bahwa non-suicidal self-injury memiliki opioid ((endorphin adalah jenis opioid) dengan tingkat yang lebih rendah dalam tubuh mereka daripada mereka yang tidak melukai diri sendiri. Satu hipotesis adalah bahwa orang-orang yang melakukan self-injury memiliki kekurangan opioid dan melakukannya untuk meningkatkan jumlah opioid alami mereka.

Penelitian akhir-akhir ini melibatkan pasien yang didiagnosis dengan gangguan kepribadian borderline, suatu kondisi di mana orang sering melukai diri sendiri, ditemukan bahwa self-injury dapat menghambat daerah otak yang berfungsi dalam pengolahan emosi.
Sesuatu tentang masa remaja

Masa remaja adalah masa utama bagi perilaku.
"Dari perkembangan persfektif, Anda punya badai yang sempurna untuk self-injury," kata Whitlock, peneliti Cornell.
Tidak hanya perlakuan kaum muda yang harus menavigasi semakin banyak relasi pribadi, otak dan tubuh mereka juga mengalami perubahan yang baik.
Pada masa remaja awal, bagian otak yang terlibat dalam emosi, adalah amigdala, dan bagian otak yang terlibat dalam pemikiran yang lebih tinggi, adalah korteks, tidak sepenuhnya terhubung, dan sebagai hasilnya, mereka tidak berkomunikasi serta mereka akan melakukannya nanti di dalam kehidupan.
"Ini sangat umum bagi remaja, khususnya remaja awal, merasa tingkat emosi yang tinggi dan benar-benar tidak memiliki keterampilan banyak berurusan dengan emosi," kata Whitlock.
Ketika otak anak-anak sepenuhnya berkembang, mereka mungkin belajar yang lainnya, seperti metode yang lebih positif untuk mengatasi emosi mereka, seperti berbicara dengan seorang teman, pergi untuk berlari, atau meditasi. Self-injury tampaknya menjadi perilaku kebanyakan remaja dalam tahap perkembangan, dengan sekitar 80 persen melaporkan bahwa mereka berhenti melukai diri dalam lima tahun pertama, menurut review Whitlock's, diterbitkan di the May Issue of the journal PLoS Medicine
 Dari sudut pandang praktis, self-injury merupakan perilaku yang mudah diakses untuk remaja yang mungkin memiliki kesulitan untuk menguasai narkoba dan alkohol.

Perbedaan gender
Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa self-injury adalah suatu perilaku yang lebih umum di antara anak-anak perempuan, tetapi studi terbaru menunjukkan lebih, bahkan perpecahan kedua gender. Sebuah studi mahasiswa oleh Harrison, ilmuwan Park Center, menemukan bahwa prilaku ini memiliki tingkat yang lebih tinggi pada laki-laki.
Namun, perempuan dan anak laki-laki akan menggunakan metode yang berbeda untuk melukai diri mereka sendiri.
Sebagai contoh, sebuah studi 2010 oleh Andover, dosen di Fordham, ditemukan bahwa perempuan yang lebih sering menggunakan pemotong sementara anak laki-laki lebih mungkin untuk membakar diri mereka sendiri. Para peneliti tidak yakin alasan perbedaan gender, tetapi menyarankan melibatkan gagasan bahwa beberapa metode cedera yang dianggap sebagai lebih maskulin, dan lain-lain lebih feminin.
Ini juga tidak jelas apakah jenis kelamin berbeda dalam mengapa mereka melukai diri sendiri di tempat pertama. Sebagai contoh, mungkin laki-laki mencari tampilan ketangguhan fisik dan bukan cara untuk mengatasi emosi. Namun, penelitian lebih banyak diperlukan di daerah ini.

Kurangnya pilihan pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk non-suicidal self-injury, meskipun teknik yang dikenal sebagai terapi perilaku dialektis, digunakan untuk gangguan kepribadian borderline, telah digunakan dengan beberapa keberhasilan.
"Perawatan ini sangat sangat intensif sekali," kata Andover, dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang dengan non-suicidal self-injury.
Mayoritas pelaku self-injury mengatasi kemungkinan perilaku tanpa mencari pengobatan, Muehlenkamp berkata, akan tetapi pengobatan bagi mereka yang masih mungkin bisa membantu.
"Siapa pun yang terlibat dalam self-injury, bahkan jika satu saat dalam kehidupan mereka, mereka masih lebih banyak laporan mengenai banyak kesulitan dalam kehidupan mereka, secara psikologis [dan] sosial," katanya. "Jadi, bahkan jika suatu saat Anda memiliki seseorang yang terluka oleh dirinya sendiri, mungkin bukanlah ide yang buruk bagi mereka untuk mempertimbangkan mencari beberapa jenis bantuan."

Sunday, June 5, 2011

Makna di Balik Coretan Tangan

Pernah iseng membuat corat-coret di atas kertas yang membentuk sebuah gambar? Itu bukan semata coretan enggak meaning, lho. Kepribadian dan perasaan kita yang tersembunyi, bisa terungkap dari situ. Ingin tahu makna coretan Anda?

Corat-coret sambil mengerjakan sesuatu yang lain, misalnya mengikuti rapat atau menelepon memang sering kita lakukan tanpa sadar. Gambar corat-coret ini sebenarnya merupakan ungkapan bawah sadar kita. Sama sepreti mimpi, corat-coret ini menggunakan bahasa gambar dan bisa kita cari maknanya. Lalu, apa ya artinya?

GAMBAR BENTUK PANAH
    Menunjukkan Anda orang yang ambisius dan agresif. Tanda panah ke kiri berarti senang mengenang masa lalu. Tanda panah ke kanan berarti siap untuk menyongsong masa depan. Tanda panah ke suatu objek berarti marah atau penasaran dengan objek tersebut.

LINGKARAN
    Gambar ini sering dikaitkan dengan keramahan, senang bicara dan senang berteman. Artinya Anda fleksibel, mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda juga memiliki iman yang kuat sehingga berjiwa optimis dan pantang menyerah.

BENTUK GEOMETRIS
    Gambar segitiga, segi empat, persegi panjang dan formasi pola lain menunjukkan pikiran yang logis. Gambar ini juga menandakan pikiran yang teratur, proses pemikiran yang jernih dan ketrampilan dalam membuat perencanaan efisiensi dan tujuan. Meski orang menilai Anda kolot, Anda mampu menyelesaikan pekerjaan dalam situasi kritis sekalipun.

BENANG KUSUT
    Lingkaran kusut yang besar melambangkan keinginan akan gaya hidup bebas yang menggelinding begitu saja. Sementara lingkaran kusut yang kecil melambangkan perasaan marah yang terpendam.

GAMBAR ABSTRAK
    Gambar ini sering melambangkan ketegangan, kesulitan dan gangguan dalam konsentrasi.

KOTAK
    Gambar ini memang lebih banyak digambar kaum lelaki. Kotak yang ditumpuk menunjukkan pemikiran yang metodis dan konstruktif. Kotak tertutup menandakan Anda orang yang menghargai privasi. Sementara kotak terbuka mencerminkan harapan untuk menyambut seseorang atau sebaliknya keinginan lari dari situasi yang menekan.

GAMBAR BENDA HIDUP BINATANG
    Mencerminkan bagaimana memandang diri sendiri. Jika menggambar hewan peliharaan, kucing misalnya, berarti Anda memiliki pribadi yang ramah dan sensitif. Gambar burung, artinya Anda memiliki daya imajinasi yang tinggi, penuh pertimbangan, cinta kasih, dan menyukai kebebasan.   Jika Anda menggambar hewan kecil, ini mengindikasikan perasaan takut yang tersembunyi. Juga menggambarkan lemah, pasif, kurang percaya diri dan introvert. Sedangkan gambar hewan liar mencerminkan agresivitas dan ketegasan. Gambar hewan yang suka bersenang-senang, misalnya anjing menunjukkan Anda orang yang senang bermain. Gambar hewan berjalan pelan, misalnya kura-kurang menunjukkan kpribadian yang senang merenung.

BUNGA
    Melambangkan sisi feminin dan keinginan melihat pertumbuhan, alam dan reproduksi. Gambar bunga juga menunjukkan keinginan berkembang dan menghasilkan sesuatu dalam hidup. Bunga dalam rangkaian bisa menggambarkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Sementara gambar bunga dan tumbuhan menunjukkan Anda orang yang sensitif, manusiawi, hangat dan terbuka.

POHON
    Gambar ini melambangkan ego dan ambisi. Jika pohon itu memiliki daun yang lebat dan buah, ini menunjukkan Anda orang yang mendambakan cinta, seks dan anak. Pohon tanpa daun dan buah, dengan daun terkulai menunjukkan depresi dan kurang semangat juang. Lalu, kalau pohon digambar dengan akar, menunjukkan orang yang mementingkan asal-usul.

HATI
    Ini sering digambar orang yang sedang jatuh cinta. Hati melambangkan pikiran orang yang menggambarnya dipenuhi cinta dan sentimentil.

WAJAH CANTIK
    Menggambarkan rasa kasih sayang kepada orang lain. Orang yang senang menggambar wajah cantik melihat hal-hal positif dalam diri seseorang, situasi, optimistik, manusiawi, bersifat baik, sensitif terhadap sesama. Ia juga mampu menunjukkan empati, ramah dan senang bergaul.

WAJAH JELEK
    Artinya Anda penuh curiga, tidak suka dan tidak percaya pada orang lain. Anda memiliki jiwa pemberontak, kurang percaya diri, senang melihat hal-hal buruk dalam diri setiap orang dan situasi. Anda juga defensif, cenderung mengubah fakta karena pandangan Anda yang 'gelap' dan sempit.

GAMBAR LAINNYA RUMAH
    Coretan ini banyak digambar perempuan. Gambar ini  menunjukkan perasaan terhadap lingkungan rumah. Coba perhatikan pintu depannya terbuka atau tertutup? Apakah cerobong asap mengeluarkan asap? Rumah yang tidak bahagia biasanya dilambangkan dengan rumah berbentuk asimetris tanpa jendela. Sementara rumah dengan cerobong asap yang mengeluarkan asap menunjukkan Anda orang yang bahagia dengan sikap positif terhadap kehidupan di rumah. Rumah yang dingin tanpa hiasan menunjukkan rasa tidak senang dengan kehidupan di rumah.

BENDA LANGIT
    Gambar bintang dan benda-benda langit menunjukkan perasaan penuh harapan, optimisme, ambisi dan kebutuhan untuk membuktikan serta mempromosikan diri.

KENDARAAN
    Gambar alat transportasi dalam bentuk apa pun melambangkan hasrat untuk pergi atau mencapai tujuan. Makin cepat jenis kendaraan yang digambar artinya Anda ingin cepat-cepat menyampaikan pendapat atau pergi.

MAKANAN
    Gambar ini memiliki tiga makna. Pertama, kebutuhan akan cinta. Kedua, hasrat yang ingin dipenuhi. Dan ketiga haus akan sesuatu. Mana yang sesuai dengan Anda?

SENJATA
    Gambar pistol, senapan dan anak panah menunjukkan sikap persaingan dan kebutuhan untuk membuktikan diri.

TANGGA
    Menunjukkan banyak ambisi, dorongan yang kuat untuk membuktikan diri, tidak sabar terhadap proses yang panjang dan berusaha untuk mencapai tujuan terdekat.

CORETAN NAMA
    Jika Anda senang menulis nama sendiri dengan bentuk tulisan berbeda maka Anda adalah seorang yang sedang mengalami krisis kepribadian. Anda tidak yakin dengan arah kehidupan Anda sendiri.

TANDA TANGAN
    Lalu bagaimana dengan goresan tanda tangan yang berulang-ulang secara tak sadar? Ini menandakan konflik emosional dan intelektual sedang meningkat sehingga Anda berada dalam kesulitan. 



Kepribadian Anda Sesuai Golongan Darah

Percaya atau tidak, golongan darah juga dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Meski Anda yang gemar berselancar di internet mungkin sudah pernah membacanya, tetap tak ada ruginya bagi kita untuk berbagi info soal golongan darah yang boleh dipercaya boleh pula tidak kepada khalayak yang lebih luas.

Golongan darah A
Biasanya orang yang bergolongan darah A berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya. Berkarakter tegas, bisa diandalkan dan dipercaya meski keras kepala. Sebelum melakukan sesuatu dipikirkan terlebih dulu dan direncanakan dengan matang.

Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan konsisten, berusaha membuat diri sewajar mungkin. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang. Mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya jadi terlihat tegar kendati  sebenarnya punya sisi yang lembek seperti gugup dan lain-lain sebagainya. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tak sependapat sehingga cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber'temperamen' sama.

Golongan darah B
Orang bergolongan darah B cenderung penasaran dan tertarik pada segalanya. Mereka juga cenderung punya terlalu banyak kegemaran dan hobi. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu tapi cepat juga bosan. Namun mereka bisa memilih  mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya. Mereka cenderung ingin jadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Tapi biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.

Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali  berbeda dengan yang ada dalam diri mereka. Mereka bisa dikatakan sebagai orang  yang tak ingin bergaul dengan banyak orang.

Golongan darah O
Orang yang bergolongan darah O biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup selain menciptakan  eharmonisan di antara para anggota grup tersebut. Figur mereka  terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksanakan sesuatu dengan tenang.

Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga kelihatan selalu riang, damai dan tak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).

Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan dan tak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain. Mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia punya pendapatnya sendiri tentang berbagai hal. Di lain pihak, mereka sangat fleksibel dan mudah menerima hal-hal baru.
Mereka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain, begitu juga yang mereka lihat dari TV. Terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi sering tergelincir dan membuat kesalahan besar karena kurang hati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini dicintai.

Golongan darah AB
Orang bergolongan darah AB ini punya perasaan sensitif dan lembut. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta hati-hati.

Di samping itu mereka keras dengan diri sendiri, pun dengan  orang-orang yang dekat dengannya. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian, sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
Mereka punya banyak teman, tapi mereka butuh waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Musik dan Tipe Kepribadian Anda


SELERA musik dan tipe kepribadian ternyata berkaitan sangat erat.  Berdasarkan suatu riset berskala dunia, musik favorit bisa jadi merupakan cermin kepribadian diri Anda.

Penelitian ilmiah tentang hubungan selera musik dengan kepribadian dilakukan Professor Adrian North dari Heriot-Watt University. Dengan melibatkan puluhan ribu orang di seluruh dunia,  ia mengklaim  risetnya sebagai penelitian terbesar untuk jenis riset serupa yang pernah dilakukan sebelumnya.

Kepada BBC, Jumat (5/9),  North menggambarkan risetnya ini sebagai suatu hal yang mengejutkan dan signifikan.  "Kami selalu menduga adanya hubungan antara selera musik dan kepribadian. Ini adalah untuk pertamakalinya bahwa kami telah berhasil menelitinya dalam detil yang nyata. Belum pernah ada satu pun yang meneliti dengan skala seperti ini sebelumnya," tegasnya.

Hasil temuan paling menarik dari riset North adalah adanya kemiripan antara penggila musik klasik dan heavy metal.  "Salah satu yang paling mengejutkan adalah adanya kesamaan antara penggemar musik klasik dan heavy metal. Mereka sama-sama kreatif, tenang tetapi tidak outgoing," ungkapnya.

North juga menyatakan riset ini akan sangat berguna bagi kepentingan marketing. "Jika Anda memahami selera musik seseorang, maka Anda akan dapat mengatakan seperti pada pribadinya, siapa dan menjual apa," tambahnya.

Dalam risetnya, North meminta lebih dari 36.000 partisipan dari seluruh dunia untuk merata-ratakan 104 jenis musik. Mereka juga ditanya mengenai aspek kepribadian. Riset ini masih akan berlanjut dan Prof North, yang juga Dekan Fakultas Psikologi  Heriot-Watt University, berencana melibatkan partisipan untuk ikut ambil bagian mengisi kuisioner singkat secara online.

Musik dan Tipe Kepribadian Anda :

BLUES : Percaya diri tinggi , kreatif, outgoing, gentle dan tenang
JAZZ : Percaya diri tinggi, kreatif, outgoing dan tenang
CLASSIC : Percaya diri tinggi, kreatif, introvert dan tenang
RAP : Percaya diri tinggi, outgoing
OPERA :    Percaya diri tinggi, kreatif, gentle
COUNTRY dan WESTERN : Pekerja keras, outgoing
REGGAE : Percaya diri tinggi, kreatif, bukan pekerja keras, outgoing,  gentle dan tenang
DANCE : Kreatif, outgoing, tidak gentle
INDIE :   Percaya diri rendah, kreatif, bukan pekerja keras, tidak gentle
BOLLYWOOD : Kreatif, outgoing
ROCK/HEAVY METAL : Percaya diri rendah, kreatif, bukan pekerjakeras, tidak outgoing, gentle, tenang
POP : Percaya diri tinggi, tidak kreatif, pekerja keras, outgoing, gentle, tidak tenang
SOUL : Percaya diri tinggi, kreatif, outgoing, gentle, tenang

Orang Ekstrovert Lebih Bahagia


Orang-orang berkepribadian terbuka alias ekstrovert sebenarnya adalah orang yang berbahagia. Kebahagiaan tersebut ternyata berawal dari ingatan mereka akan masa lalu.
Menurut penelitian, si ekstrovert biasanya lebih mengingat hal-hal positif dari masa lalunya dibanding orang dengan kepribadian lainnya. Jurang kebahagiaan antara orang yang ekstrovert terutama terlihat dengan orang yang berkepribadian nerotik yang memiliki ciri pencemas dan mudah marah.
"Kami menemukan orang yang sangat ekstrovert sangat bahagia dengan hidupnya karena mereka lebih menyimpan kenangan-kenangan positif dan lebih sedikit memiliki pikiran negatif serta penyesalan," kata Ryan Howell, psikolog dari San Francisco State University.
Sementara itu, orang berkepribadian nerotik memiliki pandangan akan masa lalu yang bertolak belakang dengan si ekstrovert. Akibatnya mereka pun sering merasa tak bahagia.
Howell dan timnya mewawancara 754 mahasiswa tentang kepribadian, kepuasan hidup dan memori personal. Hasilnya diketahui orang yang ekstrovert, yang ditandai dengan penuh energi dan lebih suka ditemani orang lain, lebih sering mengingat hal-hal menyenangkan dari masa lalunya ketimbang memori yang membuat sedih.
Melihat masa lalu dengan positif ternyata sangat berkaitan dengan kepuasan hidup seseorang. Untuk orang bertipe nerotik, makin banyak memori negatif dari masa lalunya, makin hidupnya jauh dari bahagia.
Meski kepribadian sulit untuk diubah, namun menurut Howell kita masih bisa mengubah cara pandang kita. "Melupakan hal-hal negatif dan menggantinya dengan hal yang positif bisa meningkatkan kepuasan hidup," katanya.

kanker paru-paru


Kanker paru-paru, seperti semua kanker, merupakan hasil dari suatu kelainan sel, unit paling dasar dari kehidupan. Biasanya, tubuh mempertahankan sistem checks and balances pada pertumbuhan sel, sehingga sel membelah untuk menghasilkan sel-sel baru yang diperlukan. Gangguan terhadap sistem keseimbangan pertumbuhan sel tidak terkendali dan akhirnya membentuk suatu massa yang dikenal sebagai tumor.

Tumor dapat menjadi jinak atau ganas, dan tumor ganas inilah yang disebut kanker. Tumor jinak biasanya dapat dihilangkan dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Tumor ganas, di sisi lain, tumbuh secara agresif dan menyerang jaringan-jaringan tubuh lain, sehingga sel-sel tumor masuk ke dalam aliran darah atau sistem limfatik dan kemudian ke bagian dalam tubuh. Proses penyebaran ini disebut metastasis.

Karena kanker paru-paru cenderung menyebar atau bermetastasis, maka sangat mengancam jiwa. Kanker paru-paru dapat menyebar ke setiap organ di dalam tubuh, terutama kelenjar adrenal, hati, otak, dan tulang. Kanker ini juga salah satu jenis kanker yang paling sulit untuk diobati. Paru-paru juga organ yang paling sering terkena oleh tumor di bagian tubuh lain.

Penyebab

Penyebab utama kanker paru-paru adalah merokok baik karena perokok aktif atau perokok pasif. Sedangkan penyebab lainnya kontaminasi udara sekitar oleh zat asbes, polusi udara oleh asap kendaraan ataupun pembakaran termasuk asap rokok.

Gejala

Kanker tidak menunjukkan gejala apapun yang terlihat dari luar jika pertumbuhan sel belum parah. Sebanyak 25% dari penderita kanker paru-paru, diketahui gejalanya setelah mereka rutin melakukan sinar X di dada atau CT scan. Jika terbukti ada kanker paru maka akan tampak bulatan keci seperti koin.

Gejala yang berhubungan dengan kanker jenis ini antara lain gangguan pernapasan yang menyebabkan gejala seperti batuk, sesak napas, mengi, nyeri dada, dan batuk darah (Hemoptisis).

Jika kanker telah menyerang saraf, misalnya, dapat menimbulkan nyeri bahu yang bergerak di bagian luar lengan (disebut Pancoast sindrome) atau kelumpuhan pita suara menyebabkan suara serak. Invasi kerongkongan dapat menyebabkan kesulitan menelan (disfagia). Jika napas terhambat, menyebabkan infeksi (abses, radang paru-paru) di daerah yang terhambat.

Gejala yang terkait dengan metastasis: Kanker paru-paru yang telah menyebar ke tulang dapat memproduksi rasa sakit luar biasa di tulang. Sedangkan kanker yang telah menyebar ke otak dapat menyebabkan sejumlah gejala neurologis seperti penglihatan kabur, sakit kepala, kejang, atau gejala stroke seperti kelemahan atau hilangnya sensasi di bagian tubuh.

Pengobatan

Pengobatan untuk kanker paru-paru dapat melibatkan operasi pengangkatan kanker, kemoterapi, atau terapi radiasi, seperti halnya kombinasi dari perawatan ini. Keputusan tentang perawatan yang akan layak untuk individu tertentu harus memperhitungkan lokalisasi dan luasnya tumor serta status kesehatan pasien secara keseluruhan.

Seperti kanker lainnya, mungkin akan ditentukan terapi pencabutan atau kanker atau paliatif (tindakan yang tidak dapat mengobati kanker tetapi dapat mengurangi rasa sakit dan penderitaan pasien.

Sumber: medlineplus dan medicinet.

Melihat Warna Merah Bikin Otot Makin Kuat dan Lincah

Secara naluriah, otot manusia semakin kuat dan bergerak lebih cepat ketika melihat segala hal yang berwarna merah. Kalau tidak percaya, amati refleks seorang istri saat menampar suaminya yang pulang dengan kemeja bernoda gincu merah.

Contoh di atas mungkin terlalu ekstrem, namun bisa dibandingkan dengan respons seorang murid saat menerima rapor yang isinya merah semua. Otot jantungnya pasti akan bekerja dengan lebih cepat, sehingga berdetak sangat kencang dan tidak terkendali.

Begitu juga ketika seorang pria berpapasan dengan gadis cantik di jalan lalu tertarik untuk mengikutinya. Jika gadis tersebut berbaju merah, tanpa disadari langkah kaki pria itu akan menjadi lebih cepat dibandingkan jika si gadis mengenakan baju dengan warna lain.

Andrew Elliot, seorang profesor dari University of Rochester, New York mengatakan secara naluriah gerakan otot manusia memang dipengaruhi oleh warna merah. Di dalam konsep evolusi, kecenderungan ini berguna untuk menghindarkan manusia dari bahaya yang mengancam.

Ketika muncul di wajah seseorang, warna merah sering menandakan amarah yang sedang memuncak. Jika ingin selamat, seseorang yang berhadapan dengan lawan yang wajahnya mulai memerah harus menggerakkan ototnya lebih cepat untuk segera menyingkir atau bersiap-siap membela diri.

"Ancaman dalam bentuk warna merah bisa memicu rasa khawatir, membuat perhatian teralihkan dan kadang-kadang mengusik kenyamanan. Itu semua mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang," ungkap Prof Elliot seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (4/6/2011).

Untuk membuktikan teori tersebut, Prof Elliot melakukan eksperimen terhadap 46 orang mahasiswanya. Sambil menggenggam alat khusus untuk mengamati kekuatan cengkeraman, para partisipan diminta membaca kuat-kuat beberapa kata yang ditulis dengan warna yang berbeda.

Setelah dibandingkan, cengkeraman tangan para mahasiswa cenderung menguat ketika membaca tulisan yang berwarna cerah terutama merah terang. Volume suara saat membaca tulisan berwarna merah juga teramati lebih tinggi dibandingkan saat membaca tulisan dalam warna yang lain.

Setuju dengan 10 Pernyataan Berikut? Mungkin Anda Psikopat


Bukan perkara mudah untuk mengidentifikasi seseorang adalah psikopat atau bukan, karena butuh pemeriksaan mendalam oleh psikolog. Namun jika dari 10 pernyataan berikut banyak yang sesuai, maka ada kecenderungan untuk menjadi psikopat.

Psikopat adalah julukan untuk orang-orang yang mengidap psikopati, yakni gangguan kepribadian yang dicirikan dengan tidak adanya perasaan bersalah sedikitpun ketika melanggar sebuah norma maupun aturan. Psikopat juga identik dengan perilaku kejam dan tidak kenal takut.

Seorang psikopat memang tidak selalu melakukan kekerasan seperti yang digambarkan dalam film-film pembunuhan berantai. Kadang-kadang hingga taraf tertentu, perilaku sederhana seperti suka mencontek juga bisa dikategorikan sebagai gangguan perilaku psikopati.

Gangguan kepribadian ini kadang sulit diidentifikasi, karena kebanyakan psikopat tampak normal atau bahkan sangat ramah dalam kehidupan sehari-harinya. Namun di balik itu semua, seorang psikopat tidak punya empati atau kepekaan nurani terhadap lingkungan sekitarnya.

Salah satu contohnya adalah Seung-Hui Cho, mahasiswa Virginia Tech yang membantai 32 teman sekampusnya dengan pistol sebelum akhirnya mati bunuh diri pada tahun 2007. Beberapa orang terdekat mengakui, dalam kesehariannya Cho adalah seorang anak pendiam dan sangat pemalu.

Menurut penelitian, 1 dari 100 orang sebenarnya memiliki kecenderungan psikopati dengan tingkatan yang bervariasi. Dikutip dari TheSun, Sabtu (4/6/2011), 10 pernyataan berikut dapat dipakai sekedar untuk memperkirakan seberapa besar kecenderungan seseorang untuk menjadi psikopat.

Lingkari skor yang paling sesuai di setiap pernyataan: 3 jika sangat setuju, 2 jika setuju, 1 jika tidak setuju dan 0 jika sangat tidak setuju. Jumlahkan seluruh skor, lalu cocokkan dengan keterangan di bawah.



  1. Saya jarang membuat perencanaan. Saya lebih suka segalanya serba spontan dan mendadak. 0 1 2 3
  2. Menyelingkuhi pasangan boleh-boleh saja asal tidak ketahuan. 0 1 2 3
  3. Jika mendadak ada hal yang lebih baik maka tidak ada salahnya untuk membatalkan kesepakatan terdahulu. 0 1 2 3
  4. Melihat hewan terluka atau kesakitan tidak membuat saya merasa terusik sedikitpun. 0 1 2 3
  5. Berkendara dengan kecepatan tinggi, naik roller coaster serta terjun payung sangat menarik bagi saya. 0 1 2 3
  6. Tidak masalah untuk melangkahi seseorang demi mendapatkan apa yang saya inginkan. 0 1 2 3
  7. Saya pintar membujuk dan memiliki kemampuan khusus agar orang mau melakukan kemauan saya. 0 1 2 3
  8. Saya cocok melakukan tugas berbahaya karena mampu membuat keputusan dengan sangat cepat. 0 1 2 3
  9. Bagi saya sangat mudah untuk bertahan dalam sebuah situasi, ketika orang lain mulai merasa sangat tertekan. 0 1 2 3
  10. Jika saya bisa melawan seseorang, berarti orang itu memang pantas menerimanya. 0 1 2 3

Kecenderungan psikopat berdasarkan total skor:

0-10: Rendah
11-15: Di bawah rata-rata
16-20: Rata-rata
21-25: Tinggi
26-30: Sangat tinggi

Pages

Powered By Blogger

Sample List

Powered by Blogger.

Buscar